Sebut saja Jeni. Ia sering duduk di sudut yang sama, tempat suara-suara tak pernah benar-benar sunyi, tapi tak satu pun memanggil namanya dengan tulus. Kesepian baginya bukan soal sendirian, melainkan tentang hadir di tengah banyak orang namun terus-menerus merasa tak diinginkan.
Bagi orang lain, ia selalu “tidak baik.” Kata itu menempel seperti cap di dahi. Apa pun yang ia lakukan. berbicara atau diam, bergerak atau hanya bernapas, selalu ada bisik yang menyusul. Gosip beredar lebih cepat daripada kebenaran. Para pemimpin mengernyitkan dahi, menaruh sentimen yang dingin, seolah keberadaannya sendiri adalah masalah yang harus dibereskan. Ia tak tahu kesalahan apa yang sedang diadili; dakwaan berubah-ubah, tapi vonisnya sama.
Padahal di dalam dirinya, ia merasa baik-baik saja. Tidak sempurna, tentu. Namun setiap pagi ia berusaha bangun dengan niat yang lurus: melakukan yang terbaik, tidak merugikan siapa pun, menahan diri saat emosi menguat. Ia menimbang kata sebelum keluar, menimbang langkah sebelum melangkah. Anehnya, justru ketika ia menyampaikan pendapat, dengan hati-hati, tanpa teriak. Ia dicurigai. Suaranya dianggap ancaman. Kejujurannya ditafsirkan sebagai perlawanan.
Lama-lama, ia belajar bahwa diam pun bukan perlindungan. Diam justru dituduh sebagai rencana. Ketidakikutsertaannya dianggap sikap. Ia menjadi cerita yang diceritakan orang lain, tanpa pernah dimintai klarifikasi. Wajahnya hadir, tapi maknanya didefinisikan di luar dirinya.
Malam-malamnya kian berat. Ia mulai mengumpulkan potongan kalimat yang dilontarkan kepadanya, menyusunnya menjadi cermin yang retak. Di cermin itu, ia bertanya: “Apa aku memang seburuk itu?” Pertanyaan itu berulang, menipis, lalu menjadi keyakinan palsu. Ia menyalahkan diri sendiri atas hujan yang tak ia sebabkan. Ia menimbang hidupnya dan menemukan timbangan itu berat sebelah.
Kesedihan menyelinap pelan, menggerogoti rasa berguna. Ia merasa kecil, tak bernilai, seolah upaya terbaiknya tak pernah cukup. Namun di sela-sela runtuh itu, masih ada denyut halus, sebuah suara yang belum padam sepenuhnya yang berkata bahwa kebaikan tidak selalu berisik, dan kebenaran tak selalu segera dipercaya.
Ia belum tahu bagaimana menebus luka-luka itu. Tapi ia tahu satu hal, meski dunia terus memberi label, ia tetap manusia yang berusaha. Dan di suatu titik yang sunyi, ia berharap suatu hari nanti, upayanya akan dikenali atau setidaknya, ia bisa memaafkan dirinya sendiri.
Curahan dari Sang Jeni.
DIAMpun jadi ANCAMAN
