Ada sesuatu yang menarik ketika berjumpa dengan orang muda Katolik dan para religius muda Katolik. Mereka membawa warna tersendiri. Ada tawa yang lepas, cerita yang bersahut-sahutan, candaan yang tidak ada habisnya, dan suara yang kadang membuat orang bertanya-tanya, “Ini sedang rapat atau sedang reuni?” Kalau mereka sudah berkumpul, suasananya bisa langsung berubah. Yang tadinya sepi menjadi ramai. Yang tadinya kaku menjadi cair. Yang tadinya hanya ingin membicarakan satu agenda, tiba-tiba melebar ke mana-mana, dari hal serius sampai hal-hal receh yang hanya mereka sendiri yang mengerti. Saking ramainya, sampai-sampai muncul istilah yang cukup menggelitik: kalau orang-orang muda ini bertemu, pasti ada “sound horeg”-nya! Bukan karena mereka membawa pengeras suara ke mana-mana, melainkan karena energi, tawa, dan suara mereka seolah-olah mampu menghidupkan seluruh ruangan. Mereka tertawa bersama, saling meledek dengan penuh keakraban, berbicara dengan nada yang bersemangat, dan sesekali membuat orang yang berada di dekat mereka ikut tersenyum, entah karena terhibur atau karena bingung melihat betapa ramainya suasana. Namun, di balik semua keramaian itu, ada hal yang jauh lebih menarik untuk direnungkan.
Semangat yang membara di awal, lalu perlahan meredup
Ketika
merencanakan sebuah kegiatan, semangat mereka bisa luar biasa. Ide bermunculan
dari berbagai arah. Ada yang mengusulkan konsep acara, ada yang memikirkan
desain, ada yang membayangkan suasana kegiatan, ada yang menawarkan cara baru
agar kegiatan lebih menarik. Dalam waktu singkat, sebuah rencana sederhana bisa
berkembang menjadi gagasan besar yang penuh warna.
“Bagaimana
kalau kita buat seperti ini?”
“Wah,
bisa banget!”
“Kalau
ditambah ini, pasti lebih seru!”
“Gas!
Kita kerjakan!”
Kalimat-kalimat
seperti itu terasa akrab. Di awal, semuanya tampak mudah dan mungkin. Mata
berbinar, percakapan mengalir, dan semangat terasa memenuhi ruangan.
Tetapi,
waktu berjalan. Hari berganti minggu. Kesibukan datang silih berganti. Pesan di
grup yang awalnya dibalas dalam hitungan detik, perlahan mulai tenggelam.
Rencana yang dahulu dibicarakan dengan penuh antusiasme mulai kehilangan
gaungnya. Beberapa orang menghilang dari percakapan, sebagian tenggelam dalam
aktivitas masing-masing, sementara yang lain mungkin sedang berjuang dengan
urusan hidup yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Semangat
yang tadinya membara perlahan meredup. Bahkan, ada kalanya terasa seperti
sedang mengalami mati suri.
Di
titik ini, orang mudah memberikan penilaian.
“Katanya
semangat, kok sekarang tidak ada kabar?”
“Katanya
mau bekerja bersama, tetapi ke mana semua orang?”
“Jangan-jangan
mereka hanya pandai bicara.”
Penilaian
seperti itu bisa dimengerti. Sebab, sebuah kegiatan memang tidak bisa
diselesaikan hanya dengan ide, tawa, dan seruan “gas!” Dibutuhkan konsistensi,
disiplin, komunikasi, dan kesediaan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Namun,
sebelum memberikan penilaian, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
apakah semangat yang meredup selalu berarti seseorang tidak peduli? Apakah
orang yang tidak selalu terlihat sibuk berarti tidak sedang bekerja?
Sebab,
manusia tidak selalu menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang sama.
Mereka mungkin tidak selalu terlihat serius, tetapi jangan salah menilai
Orang
muda Katolik dan religius muda sering kali memperlihatkan wajah yang kedua ini.
Dari
luar, mereka mungkin tampak seperti tidak sedang bekerja. Ketika berkumpul,
yang terdengar justru tawa. Ketika bertemu, yang terlihat justru canda. Ketika
berdiskusi, percakapan mereka kadang begitu ramai sampai sulit membedakan mana
ide, mana lelucon, dan mana rencana yang sungguh-sungguh akan dikerjakan.
Bagi
sebagian orang, gaya seperti ini bisa dianggap tidak serius. Mereka dinilai
terlalu santai, kurang formal, kurang disiplin, atau bahkan kurang bertanggung
jawab.
Namun,
pengalaman bekerja bersama mereka bisa menghadirkan kejutan.
Ketika
sebuah tugas benar-benar dipercayakan, mereka mampu menunjukkan hasil yang
mengagumkan. Ada kreativitas yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ada ide-ide
segar yang menjawab kebutuhan zaman. Ada keberanian mencoba sesuatu yang baru.
Ada kemampuan memanfaatkan teknologi, membangun komunikasi, mengemas pesan, dan
menciptakan kegiatan yang dekat dengan kehidupan orang muda.
Mereka
mungkin tidak selalu bekerja dengan cara yang kita bayangkan. Mereka tidak
selalu memperlihatkan kesibukan sebagai bukti produktivitas. Tetapi, ketika
diminta menunjukkan hasil, sering kali mereka datang dengan sesuatu yang
melampaui perkiraan.
Di
situlah kita belajar bahwa keseriusan tidak selalu harus berwajah tegang, dan
kreativitas tidak selalu lahir dari suasana yang kaku.
Tentu
saja, ini bukan berarti keterlambatan, hilangnya komunikasi, atau tanggung
jawab yang terbengkalai harus dimaklumi begitu saja. Orang muda pun perlu
belajar menepati komitmen, mengelola waktu, dan menyelesaikan tugas.
Kepercayaan harus dijawab dengan tanggung jawab.
Namun,
tanggung jawab juga tidak boleh diukur hanya dari penampilan, gaya bicara, atau
seberapa sering seseorang terlihat sibuk.
Ada
baiknya kita belajar menilai mereka dari proses, komitmen, dan hasil nyata,
bukan sekadar dari kesan pertama.
Generasi
yang berbeda, cara bekerja yang berbeda
Mereka
akrab dengan dunia digital. Mereka senang berkolaborasi, menyukai ruang untuk
berkreasi, dan ingin mengetahui alasan di balik sesuatu yang mereka kerjakan. Mereka
cenderung lebih bersemangat ketika diberi kesempatan untuk terlibat secara
nyata, menyampaikan gagasan, mencoba pendekatan baru, dan merasa bahwa
kehadiran mereka sungguh berarti.
Mereka
tidak selalu nyaman jika hanya diminta mengikuti instruksi tanpa memahami
tujuan. Mereka ingin menjadi bagian dari proses, bukan sekadar pelaksana
keputusan yang sudah dibuat orang lain.
Bagi
sebagian generasi yang lebih senior, cara seperti ini mungkin terasa
merepotkan. Ada yang berharap orang muda lebih patuh, lebih tenang, lebih
teratur, dan tidak terlalu banyak bertanya.
Sementara
itu, orang muda mungkin berharap diberi kepercayaan, ruang berekspresi, dan
kesempatan untuk belajar tanpa terus-menerus dicurigai.
Di
antara kedua harapan itu, sebenarnya ada kesempatan yang besar untuk saling
memperkaya.
Generasi
senior memiliki pengalaman, kebijaksanaan, ketekunan, dan kemampuan melihat
risiko. Generasi muda membawa energi, kreativitas, keberanian mencoba, dan
kepekaan terhadap perubahan zaman.
Bayangkan
apa yang bisa terjadi jika keduanya tidak sibuk mempertahankan cara
masing-masing, tetapi bersedia duduk bersama, mendengarkan, dan belajar satu
sama lain.
Pengalaman
tanpa keterbukaan bisa berubah menjadi kekakuan. Kreativitas tanpa ketekunan
bisa berhenti sebagai gagasan. Namun, ketika pengalaman bertemu kreativitas,
dan kebijaksanaan bertemu keberanian, pelayanan dapat menemukan cara-cara baru
untuk bertumbuh.
Yang
dibutuhkan bukan generasi yang saling mengalahkan, melainkan generasi yang
saling melengkapi.
Ketika sukacita dianggap ancaman
Ada
satu hal yang lebih menyedihkan daripada semangat yang meredup, yaitu ketika
semangat seseorang justru dipadamkan oleh orang lain.
Kadang-kadang,
bukan karena orang muda tidak mampu bekerja. Bukan pula karena mereka tidak
memiliki gagasan. Mereka justru mampu menghasilkan sesuatu yang baik, membangun
suasana yang hidup, dan menggerakkan orang lain.
Namun,
kehadiran mereka tidak selalu diterima dengan lapang hati.
Ada
yang merasa terganggu dengan keramaian mereka. Ada yang menganggap kreativitas
mereka terlalu berbeda. Ada yang merasa cara kerja mereka tidak sesuai dengan
kebiasaan yang selama ini berlaku. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan muncul
rasa iri ketika orang muda mendapat kepercayaan, ketika gagasannya diterima,
atau ketika hasil kerjanya mendapat apresiasi.
Dari
sana, kritik yang semula dimaksudkan untuk memperbaiki bisa berubah menjadi
upaya mengecilkan. Perbedaan pendapat berubah menjadi persoalan pribadi. Ruang
belajar berubah menjadi ruang penghakiman.
Perlahan-lahan,
orang muda yang semula berani berbicara mulai memilih diam. Mereka yang dahulu
penuh gagasan mulai menyimpan ide untuk dirinya sendiri. Mereka yang biasanya
datang dengan tawa mulai merasa canggung. Mereka yang dahulu berkata, “Gas,
kita kerjakan!” mulai bertanya dalam hati, “Untuk apa berusaha kalau akhirnya
selalu dianggap salah?”
Dan
yang paling menyakitkan adalah ketika mereka tidak lagi diberi ruang untuk
bertumbuh. Mereka disisihkan, disingkirkan, atau secara halus dibuat merasa
bahwa mereka tidak lagi diinginkan.
Seolah-olah,
satu-satunya cara untuk menjadi bagian dari komunitas adalah dengan
menyesuaikan diri sepenuhnya pada cara berpikir orang-orang yang sudah lebih
dahulu berada di dalamnya.
Padahal,
komunitas yang sehat bukanlah komunitas yang membuat semua orang berpikir,
berbicara, dan bertindak dengan cara yang sama. Komunitas yang sehat adalah
komunitas yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.
Tentu,
tidak semua kritik adalah bentuk iri hati, dan tidak setiap konflik berarti
seseorang sedang menjatuhkan orang lain. Kritik yang jujur tetap dibutuhkan.
Evaluasi tetap penting. Perilaku yang merugikan komunitas juga harus
dibicarakan dengan terbuka.
Namun,
kita perlu berani membedakan antara mengoreksi dan merendahkan, antara
mendampingi dan mengendalikan, antara menegakkan tanggung jawab dan menutup
kesempatan seseorang untuk berkembang.
Jika
memang ada yang perlu diperbaiki, sampaikanlah dengan jelas. Jika ada tanggung
jawab yang tidak dijalankan, bicarakanlah secara adil. Jika ada perbedaan cara
kerja, carilah jalan tengah.
Jangan
sampai kita begitu sibuk mengoreksi cara orang muda tertawa sampai lupa melihat
apa yang sebenarnya bisa mereka kerjakan.
Jangan
sampai kita begitu terganggu dengan suara mereka sampai tidak lagi mendengar
isi gagasan mereka.
Dan
jangan sampai kita begitu ingin menjaga keteraturan sampai tanpa sadar
mematikan kehidupan di dalam komunitas sendiri.
Bekerja bersama bukan berarti harus selalu sama
Bekerja
bersama orang muda Katolik dan religius muda Katolik mengajarkan bahwa
kolaborasi tidak cukup dibangun hanya dengan membagi tugas dan menetapkan
tenggat waktu. Kolaborasi juga membutuhkan kepercayaan, komunikasi, kesabaran,
dan kesediaan untuk memahami cara kerja satu sama lain.
Orang
muda perlu belajar bahwa antusiasme pada awal kegiatan harus diterjemahkan
menjadi komitmen yang nyata. Ide yang bagus perlu ditindaklanjuti. Janji perlu
ditepati. Tugas perlu diselesaikan. Jika ada kendala, komunikasi harus tetap
dijaga.
Sebaliknya,
mereka yang menjadi pemimpin, pendamping, atau rekan kerja juga perlu belajar
memberikan ruang. Jangan setiap kali orang muda tertawa langsung dianggap tidak
serius. Jangan setiap kali mereka menyampaikan gagasan yang berbeda langsung
dicurigai. Jangan menuntut kedewasaan dari mereka, tetapi menutup kesempatan
yang memungkinkan mereka belajar menjadi dewasa.
Kepercayaan
bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Kepercayaan berarti
memberikan tanggung jawab dengan tujuan yang jelas, batas waktu yang disepakati,
dukungan yang memadai, serta ruang untuk berinisiatif.
Pendampingan
bukan berarti mengatur setiap langkah. Pendampingan berarti berjalan bersama,
membantu ketika mereka mengalami kesulitan, memberikan koreksi ketika
diperlukan, dan tetap menghargai martabat mereka ketika terjadi kesalahan.
Sebab,
orang muda tidak akan belajar bertanggung jawab jika setiap kesalahan selalu
berakhir dengan hukuman sosial. Mereka tidak akan belajar memimpin jika setiap
keputusan harus selalu dikendalikan orang lain. Mereka tidak akan berani
berkreasi jika setiap gagasan baru disambut dengan kecurigaan.
Mereka
membutuhkan ruang untuk mencoba, tetapi juga membutuhkan pendamping yang
bersedia mengingatkan. Mereka membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan
batas yang sehat. Mereka membutuhkan apresiasi, tetapi juga membutuhkan
evaluasi yang jujur.
Di
situlah kerja bersama menjadi proses pendewasaan bagi semua pihak.
Bukan
hanya orang muda yang belajar dari generasi senior. Generasi senior pun dapat
belajar kembali tentang sukacita, spontanitas, keberanian, dan kesediaan untuk
melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Gereja tidak hanya membutuhkan suara yang tertib, tetapi juga suara yang hidup
Dalam
kehidupan Gereja, kita sering berbicara tentang harapan, regenerasi,
keterlibatan orang muda, dan masa depan pelayanan. Kita berharap mereka hadir,
mengambil bagian, dan melanjutkan karya yang telah dirintis oleh generasi
sebelumnya.
Namun,
pertanyaannya sederhana: apakah kita sungguh-sungguh memberikan ruang bagi
mereka untuk hadir sebagai diri mereka sendiri?
Apakah
kita hanya menginginkan orang muda yang datang ketika dipanggil, diam ketika
diminta, dan mengerjakan segala sesuatu persis seperti yang kita kehendaki?
Ataukah
kita juga bersedia menerima orang muda yang penuh pertanyaan, membawa gagasan
baru, tertawa dengan lepas, dan memiliki cara kerja yang kadang berbeda dari
kebiasaan kita?
Gereja
tentu membutuhkan keteraturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Akan tetapi,
Gereja juga membutuhkan sukacita, kreativitas, keberanian, dan semangat
pembaruan.
Kita
tidak bisa mengharapkan Gereja tetap hidup jika orang-orang muda hanya diberi
tempat untuk hadir, tetapi tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi.
Kita
tidak bisa mengharapkan mereka bertahan dalam pelayanan jika setiap energi yang
mereka bawa justru dipandang sebagai gangguan.
Dan
kita tidak bisa mengharapkan mereka tumbuh menjadi pemimpin jika ruang untuk
belajar memimpin selalu tertutup oleh ketakutan akan kesalahan.
Barangkali,
sesekali kita perlu membiarkan ruang pertemuan sedikit lebih ramai. Membiarkan
tawa hadir di tengah keseriusan. Memberi kesempatan bagi ide-ide baru untuk
diuji. Bahkan, sesekali ikut tertawa ketika istilah “sound horeg” kembali
muncul saat mereka berkumpul.
Bukan
karena semua hal harus dibuat santai, melainkan karena pelayanan yang baik
tidak harus kehilangan kegembiraannya.
Bukankah
kita ingin orang muda melayani bukan hanya karena merasa wajib, tetapi karena
menemukan makna, persaudaraan, dan sukacita di dalamnya?
Jangan sampai kita kehilangan mereka sebelum kehilangan kegembiraan kita
Ada
yang menunjukkan keseriusan melalui ketenangan. Ada yang menunjukkan kepedulian
melalui percakapan panjang. Ada yang mengungkapkan persaudaraan melalui
candaan. Ada pula yang baru terlihat kemampuannya ketika sebuah tanggung jawab
benar-benar dipercayakan.
Kita
tidak harus menyukai semua gaya mereka. Kita tidak harus menyetujui setiap
gagasan mereka. Dan mereka pun tidak harus selalu benar.
Namun,
kita bisa memilih untuk tidak buru-buru menghakimi.
Kita
bisa memilih untuk bertanya sebelum menuduh, mendengarkan sebelum menyimpulkan,
dan membimbing sebelum menyingkirkan.
Sebab,
mungkin saja di antara orang-orang muda yang hari ini kita anggap terlalu
ramai, ada calon pemimpin yang kelak akan menggerakkan banyak orang. Di antara
mereka yang tampak santai, ada pribadi kreatif yang mampu menemukan jalan
keluar ketika kita kehabisan ide. Di antara mereka yang tertawa paling keras,
mungkin ada hati yang paling tulus ingin memberikan sesuatu bagi Gereja.
Tetapi,
potensi itu tidak akan selalu tumbuh dengan sendirinya. Ia membutuhkan
kepercayaan, pendampingan, kesempatan, dan lingkungan yang membuat seseorang
merasa diterima sekaligus ditantang untuk menjadi lebih baik.
Jangan
sampai suatu hari kita bertanya, “Ke mana orang-orang muda yang dahulu begitu
bersemangat?”
Jangan
sampai kita merindukan kreativitas mereka setelah kita sendiri membuat mereka
takut untuk berpendapat.
Jangan
sampai kita mengeluhkan kurangnya keterlibatan orang muda, padahal tanpa sadar
kita telah menutup pintu ketika mereka datang membawa gagasan dan energi.
Dan
jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya suara mereka setelah
ruangan yang dahulu ramai itu berubah menjadi sunyi.
Karena
sesungguhnya, yang perlu kita jaga bukan hanya agar kegiatan berjalan sesuai
rencana. Yang juga perlu kita jaga adalah agar orang-orang yang mengerjakannya
tetap memiliki hati yang hidup, semangat untuk bertumbuh, dan sukacita dalam
melayani.
Biarlah
ada tawa, tetapi tetap ada tanggung jawab. Biarlah ada kebebasan, tetapi tetap
ada komitmen. Biarlah ada perbedaan, tetapi tetap ada rasa hormat. Dan biarlah
ada “sound horeg”, tetapi jangan sampai suara itu menenggelamkan suara hati
yang ingin melayani.
Sebab,
Gereja tidak hanya membutuhkan orang muda yang mau bekerja. Gereja membutuhkan
orang muda yang bertumbuh melalui pekerjaannya, menemukan makna dalam
pelayanannya, dan tetap merasa bahwa dirinya diterima di dalam komunitasnya.
Mungkin,
itulah salah satu bentuk panggilan kita bersama: bukan sekadar membuat orang
muda bertahan di dalam Gereja, melainkan menciptakan Gereja yang membuat mereka
ingin terus bertumbuh, berkarya, dan pulang dengan sukacita.
Dan
jika suatu hari mereka kembali berkumpul, tertawa lepas, bertukar cerita, lalu
membuat ruangan kembali ramai seperti sedang ada “sound horeg”, semoga kita
tidak lagi buru-buru bertanya, “Mengapa mereka berisik sekali?”
Melainkan
tersenyum dan berkata dalam hati:
“Syukurlah,
mereka masih ada. Mereka masih punya semangat. Mereka masih punya tempat untuk
pulang. Sekarang, mari kita berjalan bersama dan membantu semangat itu tetap
menyala.”
Karena
yang paling menyedihkan bukanlah ketika suara orang muda sesekali meredup,
melainkan ketika mereka memilih diam selamanya karena merasa tidak lagi
memiliki tempat untuk bersuara.
Salam sukacita dan setia
Sr. M. Emilia SFS
































