Sabtu, 22 Agustus 2026

Sr. M. Clara SFS Mengikrarkan Profesi Kekal, Menyerahkan Diri Seutuhnya kepada Tuhan

Sukabumi, 19 Agustus 2026 — Suasana penuh syukur dan sukacita menyelimuti Kapel St. Fransiskus Asisi, Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS), pada Rabu, 19 Agustus 2026. Pukul 10.00 WIB, para suster, keluarga, dan undangan berkumpul untuk merayakan profesi kekal Sr. M. Clara SFS, sebuah peristiwa penting dalam perjalanan panggilannya sebagai seorang religius.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, Mgr. Christophorus Tri Harsono, Pr., didampingi oleh 5 orang imam konselebran dan seorang diakon. Perayaan berlangsung khidmat, namun sekaligus terasa hangat karena dihadiri oleh para suster SFS, keluarga Sr. Clara, serta para undangan yang datang untuk memberikan dukungan dan doa.

Profesi kekal menjadi tanda bahwa Sr. M. Clara memilih untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Momen penting dalam perayaan ini ditandai dengan pengucapan janji selibat seumur hidup di hadapan Uskup dan Gereja melalui Pelayan Umum Persaudaraan SFS. Selanjutnya, Sr. Clara menerima cincin sebagai lambang penyerahan diri secara total kepada Tuhan dan kesediaannya untuk setia sepanjang hidup dalam panggilannya.

“Aku Akan Mengikuti Engkau ke Mana pun Engkau Pergi”

Dalam homilinya, Mgr. Christophorus mengajak Sr. Clara dan seluruh umat untuk merenungkan perkataan, “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.”

Menurut Uskup, mengikuti Tuhan bukan sekadar sebuah kata atau janji yang diucapkan, tetapi membutuhkan keberanian, keteguhan hati, dan kesetiaan untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Uskup juga mengingatkan umat tentang pentingnya menjaga niat dan perkataan. Fitnah, katanya, merupakan kejahatan yang sudah diniatkan. Demikian pula dengan kebohongan. Satu kebohongan dapat melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya hingga akhirnya menjadi rangkaian dusta yang sulit dihentikan.

Karena itu, setiap niat sekecil apa pun perlu dijaga dengan baik. Dari niat lahirlah harapan, dari harapan lahirlah janji, dan janji harus dipertahankan dengan kesetiaan. “Need berani,” demikian pesan yang ditekankan dalam homili, mengikuti Tuhan membutuhkan keberanian untuk tetap bertahan dalam berbagai keadaan.

Uskup juga mengajak umat untuk menata kehidupan dengan bijaksana: hati perlu dirasionalisasikan dan otak perlu dispiritualisasikan. Dengan demikian, keputusan tidak hanya didasarkan pada perasaan atau logika semata, tetapi juga pada iman dan kebijaksanaan.

Ia mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan cara yang tidak baik pada akhirnya akan membawa kerugian. Apa yang tidak baik akan berujung pada kebuntuan, kerugian, bahkan kematian.

Menjadi "Gembala" yang Baik

Dalam homilinya, Mgr. Christophorus juga mengajak umat untuk belajar dari sosok gembala yang baik. Seorang gembala tidak meninggalkan dombanya ketika menghadapi kesulitan. Ia tetap hadir, mengenal, melindungi, dan merawat domba-dombanya.

Ada enam sikap gembala yang baik yang ditekankan dalam homili:

  1. Siap berkorban dan membawa keselamatan. Gembala yang baik tidak lari ketika menghadapi kesulitan, tetapi tetap setia dan hadir.

  2. Mengenal pribadi dombanya. Ia mau mendengarkan keluhan, protes, kata-kata kasar, bahkan fitnah yang mungkin ditujukan kepadanya.

  3. Memberikan perlindungan dari bahaya. Gembala selalu hadir dalam berbagai situasi, bukan melarikan diri atau menyalahkan orang lain.

  4. Membimbing ke arah yang benar. Gembala membantu domba menemukan jalan yang baik dan benar.

  5. Melayani dan memelihara dengan tulus. Pelayanan dilakukan dengan ikhlas, bukan karena terpaksa dan bukan pula dengan perhitungan untung-rugi.

  6. Mengajar melalui keteladanan. Salah satu teladan penting yang harus diberikan adalah kemampuan untuk mengampuni.

Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi Sr. Clara yang kini memasuki tahap baru dalam perjalanan hidup membiara dan seluruh hadirin yang hadir. Profesi kekal bukan hanya tentang menjadi milik Tuhan, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir dan melayani sesama dengan kasih.

Mengikuti Tuhan Tanpa Menoleh ke Belakang

Mengikuti Tuhan ke mana pun Ia pergi juga berarti berani meninggalkan berbagai keterikatan duniawi. Uskup mengingatkan bahwa seorang yang sungguh mengikuti Tuhan tidak hidup dengan pamrih, ambisi pribadi, atau mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.

Teladan St. Fransiskus Asisi menjadi inspirasi. Fransiskus yang berasal dari keluarga berada justru memilih jalan kemiskinan, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Kekayaan tidak menjadi tujuan hidupnya karena ia menemukan kekayaan yang lebih besar dalam Tuhan dan pelayanan kepada sesama.

Karena itu, mengikuti Tuhan berarti tidak terus-menerus menoleh ke belakang. Ada saatnya seseorang harus berani meninggalkan keterikatan pada keduniawian secara total dan melangkah maju dalam panggilan yang telah dipilih.

Namun, perjalanan mengikuti Tuhan bukan hanya untuk diri sendiri. Orang yang mengikuti Tuhan dipanggil untuk mewartakan dan membagikan keselamatan kepada sesama, menghadirkan pengampunan, mengajak orang untuk bertobat, serta menjadi tanda kasih Tuhan di tengah kehidupan.

Pesan ini menjadi bekal bagi Sr. Clara dalam menjalani profesi kekalnya: tetap setia, berani, rendah hati, melayani dengan tulus, dan terus menghadirkan kasih serta keselamatan bagi orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Sukacita Bersama Keluarga dan Persaudaraan SFS

Setelah perayaan Ekaristi selesai, suasana sukacita berlanjut dengan sesi foto bersama para konselebran dan selebran, para suster SFS, serta keluarga Sr. Clara. Sr. Clara kemudian menerima ucapan selamat dari para Suster dan tamu undangan yang hadir di depan kapel.

Kebersamaan semakin terasa dalam acara ramah tamah. Para postulan, novis, dan yunior SFS turut memeriahkan suasana dengan beberapa pertunjukan hiburan. Keluarga dan para hadirin juga ikut mengambil bagian melalui karaoke dan berjoget bersama.

Tawa, senyum, dan kebersamaan menghiasi acara tersebut. Perayaan profesi kekal Sr. M. Clara tidak hanya menjadi sebuah peristiwa liturgis, tetapi juga menjadi perayaan iman, panggilan, persaudaraan, dan ucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Dengan profesi kekal yang telah diikrarkan, Sr. M. Clara SFS melangkah dalam perjalanan panggilannya dengan satu tekad: “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Sebuah janji yang kini bukan hanya diucapkan, tetapi hendak diwujudkan dalam kesetiaan, pelayanan, pengorbanan, dan kasih sepanjang hidup.

Selamat menempuh perjalanan profesi kekal, Sr. M. Clara SFS. Semoga Tuhan selalu menguatkan langkah, meneguhkan panggilan, dan menjadikan hidupmu berkat bagi Gereja, Persaudaraan SFS, keluarga, dan sesama.

KEKAL ABADI KASIH SETIANYA


_Sr. M. Emilia SFS

Mohon doa restu dari Orang tua (Ibu dan Saudara kembarnya)

Penerimaan Cincin sebagai penyerahan diri secara total kepada Tuhan


Bersama Uskup, para Imam, dan Diakon



Selasa, 02 Juni 2026

SERAHKAN PADA PENYELENGGARAAN ILAHI

Dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat-saat ketika seseorang mengalami ketidakadilan, kekecewaan, penolakan, atau perlakuan yang melukai hati. Pengalaman-pengalaman tersebut sering kali menimbulkan pertanyaan, kemarahan, bahkan pemberontakan batin. Mengapa hal ini terjadi? Mengapa usaha yang sudah dilakukan tidak menghasilkan sesuatu yang baik? Mengapa orang yang berbuat tidak adil justru terlihat baik-baik saja?

Sebagai manusia, perasaan kecewa dan marah adalah sesuatu yang wajar. Namun, tidak semua luka harus dibalas dengan luka yang lain. Tidak semua ketidakadilan harus dijawab dengan balas dendam. Pada titik tertentu, seseorang perlu menyadari bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali dirinya. Ketika segala upaya telah dilakukan dan keadaan tetap tidak berubah, menyerahkan semuanya kepada Penyelenggaraan Ilahi menjadi sebuah pilihan yang membebaskan.

Menyerahkan bukan berarti menyerah. Menyerahkan berarti percaya bahwa ada kebijaksanaan yang lebih besar daripada pemahaman manusia. Ada rencana yang mungkin belum dapat dilihat saat ini, tetapi akan menjadi jelas pada waktunya. Kepercayaan ini membantu seseorang melepaskan beban untuk terus-menerus menghakimi, menyalahkan, atau menghitung setiap ketidakadilan yang dialaminya.

Sikap percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi juga mengajak seseorang untuk tidak menyimpan kebencian terhadap orang lain. Kebencian sering kali tidak melukai orang yang dibenci, tetapi justru menguras energi dan kedamaian orang yang menyimpannya. Ketika seseorang memilih untuk melepaskan dendam, ia tidak sedang membenarkan kesalahan yang terjadi. Ia hanya memutuskan bahwa masa depannya terlalu berharga untuk terus diikat oleh luka masa lalu.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memenangkan setiap pertarungan atau membuktikan bahwa kita benar di hadapan semua orang. Hidup adalah tentang menjalani setiap pengalaman dengan hati yang tetap terbuka, belajar dari setiap kesulitan, dan percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan melalui peristiwa-peristiwa yang tidak kita pahami.

Mungkin keadilan tidak selalu datang pada waktu yang diinginkan. Mungkin jawaban atas banyak pertanyaan tidak segera ditemukan. Namun, iman mengajarkan bahwa tidak ada air mata, perjuangan, atau pengorbanan yang sia-sia. Ketika seseorang menyerahkan seluruh permasalahan, kekecewaan, dan pemberontakan hatinya kepada Tuhan, ia sedang memilih jalan damai. Jalan yang tidak dibangun di atas dendam, melainkan di atas kepercayaan bahwa Penyelenggaraan Ilahi akan membawa segala sesuatu menuju kebaikan pada waktunya. _Emilsfs_

Percaya pada Penyelenggaraan Ilahi

Senin, 01 Juni 2026

PERPISAHAN YANG TAK SEMPAT TERUCAP

Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan hanya sebagai bagian dari cerita, tetapi sebagai alasan mengapa kita bisa menjadi seperti hari ini. Mereka merawat kita saat kita belum bisa melakukan apa-apa. Menjaga kita ketika dunia terasa terlalu besar dan menakutkan. Mengasihi tanpa banyak kata, tetapi melalui tindakan-tindakan sederhana setiap hari. 

HARI INI, DIA TELAH PERGI. YA... DIA TELAH PERGI. PERGI MENGHADAP BAPA DI SURGA.

Dia yang menggantikan peran Ibu yang sedari kecil sudah pergi mendahului menghadap Bapa di surga. Dia yang melakukan segala upaya tanpa kata-kata, namun tindakan yang begitu tulus dengan segala kesederhanaannya.

Dan yang paling berat bukan hanya kepergiannya. Yang paling berat adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa berada di sana. Tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Tidak bisa menggenggam tangannya. Tidak bisa mengucapkan terima kasih secara langsung. Tidak bisa ikut mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Seolah ada kalimat-kalimat yang masih tertahan di dalam hati. Kalimat yang ingin sekali diucapkan, tetapi waktu ternyata berjalan lebih cepat daripada yang kita kira. Namun, aku percaya kasih tidak dibatasi oleh jarak. Cinta dan rasa terima kasih tidak harus selalu diucapkan di depan makam atau di ruang persemayaman. Tuhan yang melihat hati pasti mengerti setiap air mata, setiap doa, dan setiap kenangan yang kusimpan.

Terima kasih untuk semua perhatianmu. Untuk kesabaranmu merawatku sejak kecil. Untuk setiap pengorbanan yang mungkin bahkan tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku mungkin tidak sempat mengucapkan selamat jalan secara langsung, tetapi namamu akan selalu tinggal di dalam doa-doaku. Hari ini aku belajar bahwa perpisahan tidak selalu terjadi dengan cara yang kita inginkan. Kadang hidup memaksa kita mengucapkan selamat tinggal dari kejauhan. Tetapi kasih yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak akan hilang begitu saja.

Selamat jalan, Aina Bano. "MODESTA BANO"

Beristirahatlah dalam damai bersama Bapa di surga.

Meski langkahku tidak bisa mengantarmu sampai ke tempat peristirahatan terakhir, hatiku tetap berjalan bersamamu. Dan sampai kapan pun, aku akan selalu bersyukur karena pernah memiliki seseorang sepertimu dalam hidupku.

"Kasih yang sejati tidak berakhir saat seseorang pergi. Ia tetap hidup dalam kenangan, doa, dan hati yang terus mencintai." ❤️🕊️ 

Aina Modesta Bano. Biasa kami panggil "Mama Nenek"😔


Sabtu, 21 Februari 2026

CAP DI DAHI

Sebut saja Jeni. Ia sering duduk di sudut yang sama, tempat suara-suara tak pernah benar-benar sunyi, tapi tak satu pun memanggil namanya dengan tulus. Kesepian baginya bukan soal sendirian, melainkan tentang hadir di tengah banyak orang namun terus-menerus merasa tak diinginkan.

Bagi orang lain, ia selalu “tidak baik.” Kata itu menempel seperti cap di dahi. Apa pun yang ia lakukan. berbicara atau diam, bergerak atau hanya bernapas, selalu ada bisik yang menyusul. Gosip beredar lebih cepat daripada kebenaran. Para pemimpin mengernyitkan dahi, menaruh sentimen yang dingin, seolah keberadaannya sendiri adalah masalah yang harus dibereskan. Ia tak tahu kesalahan apa yang sedang diadili; dakwaan berubah-ubah, tapi vonisnya sama.

Padahal di dalam dirinya, ia merasa baik-baik saja. Tidak sempurna, tentu. Namun setiap pagi ia berusaha bangun dengan niat yang lurus: melakukan yang terbaik, tidak merugikan siapa pun, menahan diri saat emosi menguat. Ia menimbang kata sebelum keluar, menimbang langkah sebelum melangkah. Anehnya, justru ketika ia menyampaikan pendapat, dengan hati-hati, tanpa teriak. Ia dicurigai. Suaranya dianggap ancaman. Kejujurannya ditafsirkan sebagai perlawanan.

Lama-lama, ia belajar bahwa diam pun bukan perlindungan. Diam justru dituduh sebagai rencana. Ketidakikutsertaannya dianggap sikap. Ia menjadi cerita yang diceritakan orang lain, tanpa pernah dimintai klarifikasi. Wajahnya hadir, tapi maknanya didefinisikan di luar dirinya.

Malam-malamnya kian berat. Ia mulai mengumpulkan potongan kalimat yang dilontarkan kepadanya, menyusunnya menjadi cermin yang retak. Di cermin itu, ia bertanya: “Apa aku memang seburuk itu?” Pertanyaan itu berulang, menipis, lalu menjadi keyakinan palsu. Ia menyalahkan diri sendiri atas hujan yang tak ia sebabkan. Ia menimbang hidupnya dan menemukan timbangan itu berat sebelah.

Kesedihan menyelinap pelan, menggerogoti rasa berguna. Ia merasa kecil, tak bernilai, seolah upaya terbaiknya tak pernah cukup. Namun di sela-sela runtuh itu, masih ada denyut halus, sebuah suara yang belum padam sepenuhnya yang berkata bahwa kebaikan tidak selalu berisik, dan kebenaran tak selalu segera dipercaya.

Ia belum tahu bagaimana menebus luka-luka itu. Tapi ia tahu satu hal, meski dunia terus memberi label, ia tetap manusia yang berusaha. Dan di suatu titik yang sunyi, ia berharap suatu hari nanti, upayanya akan dikenali atau setidaknya, ia bisa memaafkan dirinya sendiri.



Curahan dari Sang Jeni.

DIAMpun jadi ANCAMAN

Sabtu, 06 Desember 2025

Pemberkatan dan Peresmian Biara dan Kapel La Verna Wirosari berlangsung Meriah dan Penuh Syukur

 

Wirosari, Purwodadi – Suasana penuh sukacita dan rasa syukur menyelimuti acara pemberkatan dan peresmian Biara dan Kapel La Verna milik Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) yang berlangsung pada Kamis, 4 Desember 2025. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr sebagai Konselebran utama dan didampingi oleh enam imam konselebran. Umat, undangan, tokoh masyarakat, serta para religious (Suster SFS, SFD, Bruder MTB, dan BM) hadir memeriahkan momen bersejarah tersebut.

Dalam sambutannya, Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengungkapkan rasa syukur atas hadirnya biara dan kapel baru ini sebagai tempat pelayanan, pertumbuhan rohani, dan penyebaran kasih Tuhan. Beliau berpesan agar komunitas suster semakin bersemangat dalam melayani.

“Kita berdoa agar para suster mendapatkan semangat yang membara untuk melayani dengan penuh sukacita. Semoga semakin banyak pelayanan yang diberikan dan sungguh menjadi berkat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Uskup juga berharap agar keberadaan biara yang baru ini menjadi teladan dalam karya pelayanan, kerja sama dengan pastor paroki, serta diterima dengan baik oleh umat dan masyarakat sekitar.

“Biara ini satu-satunya, maka semoga menjadi keteladanan dan berbuah dalam kerja sama yang baik dengan paroki serta diterima dengan penuh sukacita,” lanjutnya.

Usai Perayaan Ekaristi, dilangsungkan rangkaian simbolis berupa pemotongan tumpeng, pemotongan pita,  penyerahan kunci, dan penandatanganan prasasti sebagai tanda peresmian resmi biara dan kapel.

Pelayan Umum Persaudaraan SFS, Sr. Agnes Keraf SFS, menyampaikan bahwa peresmian ini memberi semangat baru bagi komunitas.

“Rumah dan kapel ini milik bersama. Inilah rumah kita, rumah umat, dan tempat kita bertumbuh dalam spirit yang sama,” ujarnya.

Pastor Paroki, Rm. Emanuel Nuwa MSF, turut memberikan sambutan penuh harapan.

“Terima kasih untuk kehadiran komunitas ini. Proficiat! Biarlah tempat ini selalu menjadi rumah sukacita, penuh senyum, ojo mbesengut. Semoga tumbuh keterbukaan, kasih, dan menjadi rumah yang selalu dirindukan untuk pulang,” ungkapnya.

Ketua DPRD Grobogan, Bapak Agus Siswanto, S.Sos., M.A.P., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pelayanan para suster.

“Apa yang dilakukan oleh para suster menjadi pegangan bagi kami. Teladan dalam menjalankan tugas, menginspirasi dalam pelayanan, sehingga apa pun yang dilakukan sungguh memberi kebahagiaan dan menjadi inspirasi bagi masyarakat,” ujarnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama seluruh umat dan tamu undangan, disertai hiburan berupa joget bersama. Suasana hangat dan penuh kekerabatan menjadi penutup yang indah dari peresmian Biara dan Kapel La Verna Wirosari.

Peresmian ini menjadi awal baru bagi perjalanan pelayanan pastoral dan karya kerasulan para suster, yang diharapkan akan membawa banyak berkat bagi umat dan masyarakat di wilayah ini. Semoga Biara dan Kapel La Verna selalu menjadi tempat sukacita, doa, dan kasih yang mempersatukan. 😇😇😇😍_Sr. M. Emilia, SFS_


Pemberkatan kapel

Pemberkatan Kapel

Pemberkatan Kapel

Pemotongan tumpeng

Penantanganan Prasasti

Uskup dan para Imam

Pemotongan pita oleh Uskup Keuskupan Agung semarang,
Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr
Para Suster SFS yang hadir
Pemberkatan biara

Rabu, 22 Oktober 2025

"RINDU YANG DISERAHKAN PADA TUHAN"


Tuhan, aku datang dengan hati yang penuh tanya.
Ada rindu yang tumbuh, perlahan namun pasti
Rindu yang tak berani diucapkan
karena aku pun belum tahu apakah ini dariMu…
atau hanya dari keinginanku sendiri.

Terkadang, aku ingin bicara jujur
bahwa aku merindukannya, bahwa aku ingin tahu kabarnya,
bahwa aku ingin hadir dalam hidupnya lebih dari sekadar kenangan.
Tapi setiap kali niat itu muncul,
ada suara lembut di hatiku berkata:
Tunggu. Serahkan dulu kepadaKu.

Maka aku menahan diri, bukan karena aku lemah…
tapi karena aku percaya pada waktuMu.
Aku percaya bahwa kasih yang sejati tidak dimulai dari keinginan,
melainkan dari perkenananMu.
Jika memang ia yang Kau kehendaki,
maka tak ada jarak, waktu, atau rindu yang sia-sia.
Engkau akan menyatukan di waktu yang tepat,
bukan karena aku memaksakan, tapi karena Kau mengizinkan.

Tuhan, aku tak ingin menjadikan rindu ini berhala.
Aku tak ingin merindukan seseorang lebih dari aku merindukan hadiratMu.
Karena aku tahu, hanya dalam Engkau
jiwa ini bisa benar-benar tenang.

Jadi aku memilih untuk diam.
Bukan karena aku tak peduli,
tapi karena aku memilih mempercayakan semuanya ke dalam tanganMu.

Bila rindu ini adalah bagian dari rencana indahMu,
maka tuntunlah langkahku sesuai kehendakMu.
Tapi bila tidak,
kuatkan hati untuk tetap setia,
sekalipun perasaanku harus kutinggalkan di kaki salibMu.

Sebab lebih baik aku kehilangan rasa,
daripada kehilangan hadiratMu.


Senin, 13 Januari 2025

HUJAN, ROMANSA TUHAN


Ketika langit menjatuhkan rindu,
Tuhan menulis cinta dalam butiran air,
Menyentuh bumi dengan lembut,
Membasuh luka, menyuburkan harap.

Hujan adalah surat cinta-Nya,
Yang turun tanpa lelah,
Menghidupkan jiwa-jiwa yang gersang,
Mendamaikan hati yang merindu tenang.

Ada kasih dalam setiap rintik,
Yang menyentuh daun, tanah, dan hati,
Mengajarkan tentang sabar dan syukur,
Bahwa hidup adalah anugerah yang tak terukur.

Di bawah derasnya, doa-doa terlantun,
Menyatu dalam harmoni alam semesta,
Seakan Tuhan berkata,
"Aku selalu dekat, di tiap tetes hujan yang kau rasa."

Hujan bukan hanya air yang jatuh,
Ia adalah pelukan-Nya yang tak pernah jauh,
Menghadirkan kehangatan di tengah dingin,
Menyisipkan cinta di setiap rinainya yang hening.

Tuhan mencinta dalam sunyi,
Lewat hujan yang tak pernah memilih bumi,
Mengajarkan kita untuk memberi,
Tanpa pamrih, dengan hati yang suci.



Sr. M. Clara SFS Mengikrarkan Profesi Kekal, Menyerahkan Diri Seutuhnya kepada Tuhan

Sukabumi, 19 Agustus 2026 — Suasana penuh syukur dan sukacita menyelimuti Kapel St. Fransiskus Asisi, Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi...