Senin, 02 November 2026

"Merawat Rindu dalam Doa, Menanti Pertemuan dalam Keabadian"

Tentang kehilangan, warisan iman, dan harapan akan perjumpaan dalam keabadian.

Ada rindu yang tidak lagi menemukan alamat untuk pulang. Ada cerita yang tidak lagi bisa disampaikan kepada seseorang yang dahulu selalu menjadi tempat berbagi. Ada nama yang kini hanya bisa disebut dalam doa, dengan harapan semoga kasih Tuhan menyampaikannya ke tempat yang paling indah.

Bagiku, nama itu adalah Ibu.

Sejak Ibu berpulang, aku mulai memahami bahwa kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang tidak lagi hadir di hadapan mata. Kehilangan adalah tentang begitu banyak hal sederhana yang dahulu terasa biasa, tetapi kini menjadi begitu berharga. Suara yang tidak lagi terdengar, wajah yang tidak lagi bisa kupandang, nasihat yang tidak lagi bisa kudengar secara langsung, dan pelukan yang kini hanya tinggal dalam kenangan.

Ada saat-saat ketika aku ingin bercerita kepada Ibu. Tentang hari-hari yang kulewati, tentang hal-hal yang membuatku bahagia, tentang persoalan yang menguras pikiran, bahkan tentang hal-hal kecil yang mungkin dahulu akan kami tertawakan bersama. Namun, waktu telah mengubah cara kami berjumpa. Aku tidak lagi bisa menemui Ibu seperti dahulu. Kini, aku hanya bisa mengenangnya, menyebut namanya dalam doa, dan menyerahkan kerinduan ini kepada Tuhan.

Namun, sesungguhnya, kisahku bersama Bunda Maria telah dimulai jauh sebelum kehilangan itu datang.

Warisan Iman dari Rumah Sederhana

Sebelum Ibu meninggal, keluargaku sudah cukup kuat dalam devosi kepada Bunda Maria. Orang tuaku selalu mengajak kami, anak-anaknya, untuk berdoa Rosario. Di tengah kesibukan dan rutinitas kehidupan keluarga, Rosario menjadi bagian dari perjalanan iman kami.

Dahulu, mungkin kami belum sepenuhnya memahami betapa berharganya kebiasaan itu. Kami hanya mengikuti ajakan orang tua, berkumpul untuk berdoa, menyebut nama Yesus dan Bunda Maria, lalu melanjutkan aktivitas sehari-hari.

Ada doa-doa yang diucapkan bersama, ada butiran Rosario yang berpindah dari satu jemari ke jemari lainnya, dan ada iman yang perlahan ditanamkan dalam hati kami. Kini, ketika mengenang masa-masa itu, aku menyadari bahwa orang tuaku sedang mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kebiasaan berdoa. Mereka sedang mengajarkan kami untuk memiliki tempat bersandar ketika kehidupan tidak berjalan seperti yang diharapkan, untuk tetap percaya ketika jawaban belum ditemukan, dan untuk datang kepada Tuhan dalam segala keadaan.

Dahulu, orang tuaku mengajakku berdoa Rosario. Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti, doa yang mereka ajarkan itulah yang akan menolongku merawat kerinduan ketika salah satu orang yang paling kucintai telah berpulang.

Betapa seringnya kita baru memahami makna sebuah warisan setelah waktu mengubah banyak hal. Sesuatu yang dahulu tampak sederhana, ternyata menjadi kekuatan yang luar biasa ketika kita harus menghadapi kehilangan. Kini, Rosario bukan hanya mengingatkanku pada Bunda Maria, tetapi juga pada keluargaku, pada orang tuaku, dan pada rumah tempat benih-benih iman itu dahulu ditanam.

Ada kehangatan yang terasa ketika aku mengingatnya. Seolah-olah, melalui doa yang sama, aku kembali menyentuh bagian indah dari masa lalu yang tidak mungkin kuputar kembali, tetapi selalu dapat kusyukuri.

Ketika Ibu Berpulang, Bunda Maria Menjadi Ibu

Sejak Ibu meninggal, ada sesuatu yang berubah dalam cara aku memandang Bunda Maria. Aku tidak sedang mencari pengganti Ibu, sebab aku tahu tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan tempat seorang ibu kandung. Cinta Ibu memiliki kisahnya sendiri, dengan segala pengorbanan, kelembutan, nasihat, dan kenangan yang tidak akan pernah sama dengan siapa pun. Namun, setelah Ibu berpulang, aku semakin merasakan kedekatan dengan Bunda Maria. Aku mulai datang kepadanya bukan hanya sebagai seorang yang berdevosi, tetapi juga sebagai seorang anak yang sedang belajar menjalani kehidupan tanpa kehadiran ibunya.

Dalam keheningan doa, aku menemukan tempat untuk membawa segala isi hati. Ada kerinduan yang tidak selalu mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Ada kesedihan yang tidak selalu dapat dijelaskan kepada orang lain. Ada pula saat-saat ketika aku hanya ingin diam, tanpa harus terlihat kuat di hadapan siapa pun.

Pada saat-saat seperti itu, aku berdoa dan menyapa Bunda Maria.

Bunda, aku merindukan ibuku.

Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan begitu banyak perasaan. Ada cinta yang belum selesai diungkapkan, ada kenangan yang tetap hidup, dan ada kerinduan yang perlahan belajar menerima kenyataan.

Aku percaya bahwa Bunda Maria memahami arti sebuah kehilangan. Ia sendiri pernah berdiri di bawah kaki salib, menyaksikan penderitaan Putranya. Ia mengenal kesedihan seorang ibu, keheningan yang menyertai duka, dan iman yang tetap bertahan ketika hati terluka. Karena itu, ketika aku membawa kerinduanku kepada Bunda Maria, aku merasa sedang belajar berjalan bersamanya. Bukan berarti kesedihanku seketika hilang, melainkan aku menemukan kekuatan untuk tetap melangkah.

Bunda Maria tidak menghapus kenangan tentang Ibu. Sebaliknya, melalui doa dan devosi kepadanya, aku belajar mengenang Ibu dengan hati yang lebih tenang.

Sejak Ibu berpulang, aku semakin menyadari bahwa aku masih memiliki seorang Bunda yang dapat kusapa dalam doa. Bunda Maria tidak menggantikan Ibu kandungku, tetapi melalui keibuannya, aku menemukan penghiburan ketika rindu terasa begitu dalam.

Dan dalam perjalanan itu, Rosario menjadi teman yang begitu dekat di hati.

Rosario: Tempatku Menitipkan Rindu

Ada hari-hari ketika kerinduan datang begitu saja. Ia tidak mengetuk pintu, tidak meminta izin, dan tidak menunggu sampai aku selesai dengan segala kesibukan. Terkadang, kerinduan muncul ketika melihat sesuatu yang mengingatkanku pada Ibu. Terkadang, ia hadir pada malam yang sunyi, ketika suasana menjadi begitu tenang dan pikiran mulai berjalan menyusuri kenangan. Bahkan, di tengah aktivitas sehari-hari, ada saat ketika hati tiba-tiba terasa kosong karena teringat seseorang yang dahulu selalu menjadi bagian dari hidup.

Pada saat itulah, aku mengambil Rosario.

Butiran-butiran kecil itu mungkin tampak sederhana, tetapi bagiku, ia menyimpan makna yang begitu dalam. Setiap butir menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas, menenangkan hati, dan membawa segala kerinduan ke hadapan Tuhan.

Aku mulai mendaraskan Salam Maria, satu demi satu.

Di antara doa-doa itu, aku mengenang Ibu. Aku mengingat kebaikannya, pengorbanannya, dan segala hal yang pernah diberikannya dalam hidupku. Aku juga mengingat orang-orang dalam keluargaku yang telah lebih dahulu berpulang, mereka yang pernah berjalan bersamaku, berbagi kasih, dan meninggalkan jejak dalam perjalanan hidupku.

Aku mendoakan mereka.

Semoga Tuhan mengampuni segala dosa mereka, menyempurnakan mereka dalam kasih-Nya, dan menganugerahkan kepada mereka kebahagiaan kekal. Ada kalanya aku berdoa dengan lancar. Ada kalanya pikiranku dipenuhi begitu banyak hal. Ada pula saat ketika air mata mengalir dan aku tidak mampu mengucapkan banyak kata. Namun, aku belajar bahwa doa tidak selalu harus indah dalam susunan kata. Terkadang, doa yang paling tulus justru lahir dari hati yang sederhana, dari kerinduan yang tidak tersampaikan, dan dari kepercayaan bahwa Tuhan mendengarkan bahkan ketika kita hanya mampu berdiam diri.

Di antara butiran Rosario, aku tidak menemukan Ibu kembali seperti dahulu. Namun, aku menemukan ketenangan untuk menerima kepergiannya, kekuatan untuk menjalani hari ini, dan harapan untuk terus mempercayakannya kepada Tuhan.

Rosario menjadi tempatku melepas rindu, bukan karena doa dapat menghapus batas antara kehidupan dan kematian, melainkan karena melalui doa aku belajar bahwa kasih tidak harus berhenti ketika seseorang telah meninggal.

Kasih itu dapat tetap hidup dalam kenangan, dalam doa yang dipanjatkan, dalam kebaikan yang diteruskan, dan dalam iman yang tidak menyerah pada keputusasaan. Setiap kali Rosario berada dalam genggamanku, aku seperti kembali kepada sebuah kebiasaan lama yang dahulu kami hidupi bersama sebagai keluarga. Bedanya, kini aku berdoa dengan hati yang telah mengenal kehilangan.

Dahulu, aku berdoa bersama Ibu.

Kini, aku berdoa sambil mengenang Ibu.

Dan di antara kedua waktu itu, ada Tuhan yang tetap sama: setia menyertai, mendengarkan doa, dan memelihara harapan.

Mengenang Mereka yang Telah Berpulang

Dalam tradisi iman Katolik, mengenang arwah orang beriman bukan sekadar mengingat mereka yang telah meninggal. Kita juga mendoakan mereka, mempercayakan mereka kepada kerahiman Allah, dan memandang kematian dalam terang kebangkitan Kristus.

Kematian memang menghadirkan perpisahan. Kita tidak lagi dapat berbicara, berjalan, atau berbagi pengalaman dengan orang-orang yang telah mendahului kita seperti dahulu. Ada ruang kosong yang ditinggalkan, ada kebiasaan yang berubah, dan ada kerinduan yang terkadang datang kembali meskipun waktu telah berjalan jauh.

Namun, iman mengajarkan bahwa kematian bukanlah akhir dari segala-galanya.

Kristus telah bangkit. Di dalam kebangkitan-Nya, kita menemukan harapan bahwa kehidupan tidak berakhir pada kematian. Kita percaya akan kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal. Kita percaya bahwa Allah tidak pernah berhenti mengasihi mereka yang telah dipanggil-Nya pulang.

Keyakinan itu tidak berarti kita mengetahui secara pasti keadaan setiap orang yang telah meninggal. Sebaliknya, kita menyerahkan mereka kepada Allah yang mengenal setiap hati, memahami setiap kelemahan, dan memiliki kerahiman yang melampaui pemahaman manusia.

Karena itu, ketika mengenang Ibu dan anggota keluarga yang telah meninggal, aku ingin belajar memadukan kerinduan dengan pengharapan.

Aku boleh bersedih, tetapi aku tidak ingin kehilangan harapan.

Aku boleh menangis, tetapi aku tetap percaya pada janji Tuhan.

Aku boleh merindukan mereka, tetapi aku ingin menyerahkan mereka ke dalam tangan kasih-Nya.

Dalam doa, aku menyebut nama mereka satu per satu. Aku bersyukur atas kehidupan yang pernah kami bagikan. Aku mengenang cinta yang telah mereka berikan. Aku juga memohon agar Tuhan mengampuni segala dosa mereka dan menganugerahkan istirahat kekal bagi mereka.

Bagiku, mendoakan mereka adalah salah satu cara untuk tetap mengasihi, meskipun aku tidak lagi dapat menunjukkan kasih itu melalui kehadiran secara langsung.

Ada cinta yang kini mengambil bentuk berbeda: bukan lagi berupa percakapan, melainkan doa; bukan lagi berupa pelukan, melainkan penyerahan kepada Tuhan; bukan lagi berupa pertemuan sehari-hari, melainkan harapan akan perjumpaan dalam kehidupan kekal.

Dan harapan itulah yang membuatku tetap berjalan.

Tuhan Tetap Menemani dalam Setiap Musim Kehidupan

Kehilangan Ibu mengajarkanku bahwa kehidupan terus bergerak, bahkan ketika hati masih ingin tinggal di masa lalu.

Ada hari-hari yang terasa ringan, ketika aku dapat menjalani aktivitas dengan penuh sukacita. Ada pula hari-hari yang terasa berat, ketika kenangan datang silih berganti dan kerinduan kembali memenuhi hati.

Namun, aku perlahan belajar bahwa mengenang bukan berarti harus terus-menerus hidup dalam kesedihan. Aku dapat menyimpan kenangan tentang Ibu sambil tetap menjalani kehidupanku dengan penuh syukur.

Aku dapat mengenang nasihatnya sambil terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Aku dapat mengingat kasihnya sambil berusaha membagikan kasih kepada orang lain. Aku dapat meneruskan warisan imannya dengan tetap setia berdoa dan mempercayakan hidupku kepada Tuhan.

Dan ketika aku merasa lelah, aku kembali kepada Rosario.

Di sana, aku membawa segala sesuatu yang sedang kuhadapi. Aku menyerahkan kecemasan, harapan, kegembiraan, kekecewaan, dan kerinduan yang kadang tidak dapat kujelaskan.

Aku menyapa Bunda Maria, memohon agar ia mendoakanku dan menolongku untuk semakin dekat dengan Putranya.

Aku percaya, aku tidak berjalan sendirian.

Tuhan hadir dalam perjalanan hidupku, dalam keheningan doa, dalam orang-orang yang memberikan perhatian, dan dalam kekuatan yang kutemukan untuk melanjutkan hari demi hari.

Bunda Maria pun menjadi sosok yang selalu kuingat dalam doa, tempat aku memohon penghiburan dan penyertaan rohani, baik ketika hati sedang tenang maupun ketika kerinduan kembali mengetuk.

Aku tidak selalu mendapatkan jawaban seperti yang kuinginkan. Aku juga tidak selalu memahami mengapa kehilangan harus menjadi bagian dari perjalananku. Namun, aku belajar untuk tidak mengukur kasih Tuhan hanya dari apa yang dapat kulihat atau kumengerti.

Terkadang, penyertaan Tuhan terasa melalui ketenangan yang perlahan tumbuh setelah doa. Terkadang, melalui keberanian untuk bangun dan melanjutkan aktivitas. Terkadang, melalui kemampuan untuk tersenyum kembali setelah melewati hari yang berat.

Dan terkadang, penyertaan itu hadir dalam kesadaran sederhana bahwa meskipun seseorang yang sangat kucintai telah berpulang, aku masih diberi kesempatan untuk hidup, mengasihi, melayani, dan melakukan kebaikan.

Maka, aku ingin menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Bukan untuk melupakan mereka yang telah meninggal, melainkan untuk menghormati cinta yang pernah kuterima. Bukan untuk meniadakan kerinduan, melainkan untuk membiarkan kerinduan itu menumbuhkan kebaikan. Bukan untuk mempercepat waktu agar segera bertemu kembali, melainkan untuk setia menjalani bagian perjalanan yang masih dipercayakan Tuhan kepadaku.

Sebab, aku percaya bahwa setiap hari yang diberikan Tuhan masih memiliki makna.

Sampai Kita Berjumpa dalam Keabadian

Ibu, ada banyak hal yang masih ingin kuceritakan kepadamu.

Ada pengalaman yang ingin kubagikan, ada kabar yang ingin kusampaikan, dan ada saat-saat ketika aku ingin mendengar pendapatmu sekali lagi.

Namun, kini aku belajar membawa semua itu ke dalam doa.

Ketika aku mengambil Rosario, aku teringat pada masa-masa ketika orang tuaku mengajak kami berdoa bersama. Aku teringat pada iman yang dahulu ditanamkan dengan sederhana, pada doa yang diucapkan berulang-ulang, dan pada kebiasaan keluarga yang kini menjadi salah satu kekuatan dalam perjalanan hidupku.

Aku bersyukur karena sebelum perpisahan itu datang, aku telah mengenal doa yang kini menjadi tempatku bersandar.

Terima kasih, Ibu, karena bersama keluarga, engkau telah menjadi bagian dari perjalanan imanku. Terima kasih atas kebiasaan berdoa yang kini tetap hidup dalam diriku. Mungkin dahulu aku belum sepenuhnya memahami maknanya, tetapi kini aku semakin menyadari betapa berharganya warisan itu.

Aku tidak tahu bagaimana perjalanan waktu akan mengubah kerinduanku. Mungkin, ada kenangan yang suatu hari terasa lebih lembut. Mungkin, ada saat-saat tertentu ketika air mata masih datang tanpa diduga.

Namun, aku tidak ingin memusuhi kerinduan itu.

Aku ingin menerimanya sebagai bagian dari cinta. Aku ingin menjadikannya doa. Aku ingin membiarkannya mengingatkanku bahwa kehidupan Ibu pernah menjadi berkat yang begitu berarti bagiku.

Dan di atas semuanya, aku ingin tetap berpegang pada janji Tuhan.

Aku percaya bahwa Kristus telah bangkit dan bahwa di dalam Dia, kematian bukanlah kata terakhir. Aku percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Aku percaya bahwa mereka yang telah berpulang dapat kuserahkan kepada kasih Allah, sementara aku melanjutkan perjalanan hidup dengan iman dan pengharapan.

Suatu hari nanti, aku berharap dapat mengalami kepenuhan janji itu: kehidupan bersama Allah, ketika segala air mata dihapuskan dan kematian tidak lagi berkuasa.

Aku tidak mengetahui kapan atau bagaimana perjumpaan itu akan terjadi. Namun, aku ingin mempercayakan masa depan itu kepada Tuhan yang setia.

Sampai saat itu tiba, aku akan terus berdoa.

Aku akan mendoakan Ibu dan seluruh keluarga yang telah berpulang. Aku akan mengenang mereka dengan penuh syukur. Aku akan terus belajar mengasihi, melayani, dan menjalani kehidupan yang dipercayakan kepadaku.

Dan ketika rindu kembali datang, aku akan mengambil Rosario, menyapa Bunda Maria, serta membawa seluruh isi hatiku kepada Tuhan.

Sebab, di antara butiran Rosario, ada kenangan tentang Ibu, ada warisan iman keluargaku, ada doa bagi mereka yang telah berpulang, dan ada harapan yang terus menyala dalam Kristus yang bangkit.

Ibu, engkau telah mendahuluiku pulang kepada Tuhan. Aku masih di sini, melanjutkan perjalanan yang dipercayakan-Nya kepadaku.

Aku tidak dapat lagi menggenggam tanganmu seperti dahulu. Namun, aku dapat meneruskan kebaikan yang pernah kautanamkan. Aku tidak dapat lagi mendengar suaramu secara langsung. Namun, aku dapat mengenang nasihatmu dan membawa namamu dalam doa.

Dan ketika kerinduan terasa begitu dalam, aku datang kepada Bunda Maria, memohon agar ia menemaniku dalam doa dan menolongku tetap setia kepada Tuhan.

Ibu, namamu akan tetap hidup dalam kenanganku. Doaku akan terus menyertaimu. Dan harapanku akan tetap tertuju kepada Kristus, yang melalui kebangkitan-Nya membuka jalan menuju kehidupan kekal.

Sampai kita berjumpa dalam keabadian, biarlah aku merawat rindu ini dalam doa, menjalani hidup dengan penuh syukur, dan percaya bahwa kasih Tuhan tidak pernah berkesudahan.

Amin.


Sr. M. Emilia SFS

Sabtu, 31 Oktober 2026

"Cermin yang Jarang Ditatap"

Pernahkah kita berjumpa atau hidup berdekatan dengan seseorang yang selalu ingin didengar, senang mendapat pujian, dan seolah-olah selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang orang lain?

Awalnya, semua tampak biasa saja. Ia berbicara dengan nada yang tenang, sesekali merendahkan dirinya sendiri, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak lebih baik dari siapa pun. Namun, semakin lama mendengarkan, ada hal-hal kecil yang mulai terasa berbeda. Di balik kata-kata yang terdengar sederhana, terselip keinginan untuk diakui, dipuji, dan dianggap lebih mampu daripada orang lain.

Ia punya banyak cerita, banyak pendapat, dan tak sedikit kritik. Kekurangan orang lain begitu mudah terlihat, kesalahan orang lain begitu mudah dibicarakan. Seolah-olah ia memiliki ukuran yang tepat untuk menilai siapa yang baik, siapa yang kurang, dan siapa yang seharusnya belajar darinya. 

"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? begitu kata Yesus dalam injil Mat. 7:3

Namun, ketika tiba waktunya untuk melihat ke dalam diri sendiri, mungkin ada hal-hal yang luput dari perhatiannya. Sebab, terkadang kita begitu sibuk memperhatikan apa yang salah pada orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri pun masih menyimpan banyak hal yang perlu dibenahi.

Menariknya, tidak semua orang yang berbicara tentang dirinya sedang menyombongkan diri. Ada yang memang sedang berusaha menjelaskan pengalaman, ada yang ingin dihargai, dan ada pula yang mungkin hanya ingin merasa bahwa keberadaannya berarti. Bukankah setiap orang, dengan caranya masing-masing, ingin diterima dan diakui?

Hanya saja, keinginan untuk dihargai kadang membuat kita lupa memberi ruang bagi orang lain. Kita ingin didengar, tetapi kurang belajar mendengarkan. Kita senang dipuji, tetapi mudah lupa menghargai. Kita begitu lancar membicarakan kekurangan sesama, tetapi terkadang canggung ketika harus mengakui kekurangan sendiri.

Hidup bersama orang seperti ini tentu tidak selalu mudah. Ada kalanya kita memilih diam, bukan karena tidak punya pendapat, melainkan karena lelah menjelaskan. Ada kalanya kita mengangguk, bukan karena sepakat dengan semuanya, melainkan karena menyadari bahwa tidak setiap perbedaan harus berakhir menjadi perdebatan.

Pada akhirnya, kita belajar bahwa tidak semua hal harus ditanggapi dan tidak setiap perkataan perlu dibalas. Ada kebijaksanaan dalam mendengarkan, tetapi ada pula kebijaksanaan dalam menjaga jarak dari percakapan yang hanya berputar pada siapa yang paling benar dan paling hebat.

Sebab, kerendahan hati tidak selalu tampak dari cara seseorang berbicara tentang dirinya, tetapi juga dari caranya memperlakukan orang lain.

Orang yang sungguh rendah hati tidak harus terus-menerus menjelaskan bahwa dirinya baik. Ia tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk terlihat lebih tinggi. Ia juga tidak kehilangan nilai dirinya hanya karena tidak mendapat pujian.

Barangkali, kita semua perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku sedang berbicara untuk berbagi, atau sekadar ingin diakui? Apakah aku sedang memberi masukan, atau diam-diam ingin menunjukkan bahwa aku lebih baik?

Sebab, dalam perjalanan hidup ini, kita tidak sedang berlomba menjadi orang yang paling banyak bicara, paling banyak tahu, atau paling sering dipuji.

Kita hanya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik, sedikit demi sedikit.

Dan terkadang, tanda kedewasaan yang paling indah bukanlah ketika kita mampu menemukan banyak kekurangan orang lain, melainkan ketika kita cukup rendah hati u
ntuk menyadari bahwa diri kita sendiri pun masih perlu banyak belajar.

Karena pada akhirnya, kita tidak harus menjadi lebih tinggi dari orang lain untuk menjadi berharga. Cukuplah menjadi pribadi yang terus bertumbuh, tanpa harus membuat orang lain merasa lebih rendah.

 

Salam bahagia

Sr. M. Emilia SFS 

 

Minggu, 25 Oktober 2026

“Atlet Bertanding, Para Suster Berkomentar: Beda Jagoan, Tetap Satu Persaudaraan!”

Kalau Para Suster Sudah Berkumpul, Pertandingan Makin Seru!


Selain menonton berita untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia, ada satu kegiatan lain yang tidak kalah menarik bagi para suster, yaitu menonton pertandingan olahraga bersama. Mulai dari bola voli, sepak bola, sampai bulu tangkis. Apalagi kalau yang bertanding adalah Indonesia. Wah, semangat nasionalisme langsung menyala!

Biasanya, suasana menonton yang awalnya tenang bisa berubah menjadi ramai dalam hitungan detik. Ada yang serius memperhatikan pertandingan, ada yang duduk tegang menunggu skor, ada yang sibuk memberikan komentar, dan ada juga yang tiba-tiba berteriak sambil melonjak kegirangan ketika tim jagoannya berhasil mencetak gol, melakukan smash tajam, atau mendapatkan poin penting.

Kalau Indonesia berhasil mencetak angka, suasana langsung meriah!

“Yesss! Masuk! Ayo, Indonesia!”

"Semangat...pasti bisa..."

"Gaskeunn...Cahyooo Indonesia..."

"Indonesia...dilawan..."

"Go...go...go... Indonesia..."

Sementara itu, kalau tim kesayangan gagal mendapatkan poin, suasananya bisa berubah seketika.

“Aduh, sayang sekali! Padahal tinggal sedikit lagi!”

"Jangan patah semangat..."

"Ayok... pasti bisa..."

Ada yang spontan menghela napas, ada yang geleng-geleng kepala, bahkan ada yang ikut sedih seolah-olah dirinya sendiri yang sedang bertanding. Hahaha! Begitulah kalau sudah terbawa suasana. Walaupun hanya menonton dari depan televisi, rasanya seperti ikut berjuang di lapangan.

 Yang paling seru tentu saja komentar para suster!

“Seharusnya smash-nya diarahkan ke sana!”

“Waduh, kurang profesional smash-nya!”

“Harusnya bolanya ditendang ke arah sana!”

“Bagaimana mau menang kalau mainnya seperti itu?”

"Harusnya nahan bola, gak seperti itu!"

Wah, kalau mendengar komentar-komentar ini, rasanya para suster sudah siap menjadi pelatih nasional! Tinggal mengenakan seragam olahraga, membawa papan strategi, lalu berdiri di pinggir lapangan. Lengkap sudah! Hahaha! 

Padahal, yang sedang bertanding adalah atlet profesional yang sudah berlatih bertahun-tahun. Mereka punya kemampuan, pengalaman, strategi, dan tentu saja tekanan yang tidak mudah. Sementara para komentator dadakan ini duduk nyaman di depan televisi, mungkin sambil menikmati camilan, tetapi analisisnya luar biasa!

Namun, di antara ramainya komentar, selalu ada suara yang mencoba mengingatkan.

“Eh, mereka itu atlet profesional. Kalau bukan profesional, mana mungkin bisa mewakili negaranya? Kita melihat dari luar memang gampang berkomentar. Coba kalau kita yang berada di lapangan, belum tentu bisa melakukan seperti mereka. Namanya pertandingan, pasti ada kesalahan, ada tekanan, dan ada hal-hal yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.”

Benar juga, ya! Kadang-kadang, melihat memang lebih mudah daripada menjalani sendiri.

Bukan Hanya Pertandingan, tetapi Juga Kebersamaan

Namun, yang membuat kegiatan ini terasa istimewa bukan hanya pertandingan yang ditonton atau siapa yang akhirnya menjadi juara. Ada hal lain yang jauh lebih berharga, yaitu kebersamaan para suster. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab masing-masing, momen menonton bersama menjadi kesempatan untuk berkumpul, tertawa, berbagi kegembiraan, dan menikmati waktu bersama sebagai saudara. Ada yang mendukung tim yang sama, ada pula yang diam-diam menjagokan tim berbeda. Akibatnya, ketika satu tim mencetak angka, sebagian bersorak kegirangan, sementara yang lain hanya bisa tersenyum pasrah. Kalau tim jagoannya kalah, mulailah mencari alasan dan memberikan analisis pertandingan. Hahaha!

Tetapi justru di situlah letak keseruannya. Perbedaan dukungan tidak membuat kebersamaan hilang. Boleh berbeda pilihan, boleh berbeda pendapat, bahkan boleh saling menggoda, tetapi semuanya tetap duduk bersama, menikmati pertandingan yang sama. Kadang-kadang, kemenangan tim kesayangan menjadi alasan untuk bersorak bersama. Kekalahan menjadi kesempatan untuk saling menghibur. Dan komentar-komentar spontan yang muncul justru menjadi bahan cerita yang bisa dikenang dan ditertawakan bersama setelah pertandingan selesai.

Bukankah hal-hal sederhana seperti ini yang membuat hidup berkomunitas terasa lebih hidup?

Kita tidak harus selalu melakukan sesuatu yang besar untuk membangun persaudaraan. Duduk bersama, menikmati pertandingan, tertawa bersama, bahkan berbeda pendapat dengan cara yang menyenangkan pun bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup bersama.

Belajar Menghargai dari Depan Televisi

Dari kebiasaan sederhana ini, ada pelajaran kecil yang bisa kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sering kali, kita mudah berkata, “Seharusnya begini, seharusnya begitu.” Kita merasa tahu apa yang paling baik bagi orang lain, bagaimana mereka harus bertindak, atau bagaimana mereka seharusnya menyelesaikan masalah.

Padahal, kita tidak selalu mengetahui perjuangan, tekanan, dan pergumulan yang sedang mereka hadapi.

Sama seperti atlet yang terlihat melakukan kesalahan di lapangan, setiap orang juga bisa mengalami kegagalan, salah mengambil keputusan, atau tidak mampu melakukan sesuatu sesuai harapan. Bukan berarti mereka tidak berusaha. Bisa jadi, mereka sedang berjuang sebaik mungkin dengan kemampuan dan keadaan yang mereka miliki. Karena itu, belajar menghargai perjuangan orang lain menjadi hal yang penting. Bukan berarti kita tidak boleh memberikan masukan atau kritik, melainkan belajar menyampaikannya dengan sikap yang membangun, bukan sekadar menyalahkan.

Dalam hidup bersama sebagai para suster, kita pun tidak selalu sempurna. Ada kalanya kita berhasil menyenangkan saudara, tetapi ada kalanya kita melakukan kesalahan. Ada saatnya kita menjadi penyemangat, tetapi ada juga saatnya kita membutuhkan dukungan.

Di sinilah persaudaraan menemukan maknanya: bukan karena kita selalu sama atau selalu benar, melainkan karena kita bersedia menerima, menghargai, dan mendukung satu sama lain.

 Akhirnya, Siapa pun yang Menang, Persaudaraan Tetap Nomor Satu!

Jadi, kalau Indonesia sedang bertanding, silakan bersorak sepuasnya! Boleh tegang, boleh berteriak, boleh melompat kegirangan, dan tentu saja boleh memberikan komentar ala pelatih nasional.

Tetapi jangan lupa, tetap sportif dan jangan sampai komentar kita lebih keras daripada suara televisi! Hahaha!

Sebab, pertandingan akan berakhir, skor akan dilupakan, dan para atlet akan kembali menjalani kehidupan mereka. Namun, kenangan tentang kebersamaan, tawa, dan kegembiraan yang kita bagikan bersama saudara-saudari bisa tetap tinggal di hati.

Pada akhirnya, yang paling membahagiakan bukan hanya ketika tim kesayangan menang, tetapi juga ketika kita bisa tertawa, bersukacita, dan menikmati kebersamaan sebagai saudara. Karena dalam hidup berkomunitas, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membuktikan bahwa komentar kita paling benar, melainkan ketika kita mampu tetap bersaudara meskipun berbeda pendapat.

Dan satu hal yang pasti: kalau para suster sudah berkumpul di depan televisi, pertandingan boleh saja berlangsung di lapangan, tetapi keseruannya bisa berlangsung sampai ke ruang makan!

Siapa tahu, setelah pertandingan selesai, komentarnya masih berlanjut saat makan malam.

“Coba tadi smash-nya diarahkan ke sana!”

Lalu terdengar jawaban dari sudut ruangan:

“Sudah, Suster! Besok saja kita yang ikut bertanding!”

Wah, kalau begitu, bukan hanya atlet yang harus berlatih. Para komentator juga perlu pemanasan! Hahaha!

 

Salam olahraga

Sr. M. Emilia SFS


Kamis, 22 Oktober 2026

TAK TERBACA, TETAP BERTUMBUH

 

Di antara riuhnya dunia yang tak pernah kehabisan suara, ada jiwa muda yang memilih menjadi sunyi, bukan karena tak memiliki kata, melainkan karena tak semua yang dipikirkan harus diucapkan. Di balik sepasang mata yang tampak biasa, tersimpan pikiran yang berlari lebih cepat daripada langkah, menangkap isyarat yang luput dari pandangan, membaca suasana sebelum orang lain menyadari perubahan, dan merangkai makna dari percakapan-percakapan sederhana. Ia seperti angin yang menjelajahi celah-celah kehidupan, menyentuh banyak hal, menyerap banyak pengalaman, tetapi tak selalu meninggalkan jejak yang dapat dibaca oleh siapa saja.

Barangkali, dunia memang terlalu sering menilai seseorang dari apa yang tampak di permukaan, tanpa pernah benar-benar menyelami samudra yang tersembunyi di dalam dirinya. Ada yang mengira diam adalah tanda ketidaktahuan, ada yang menyangka kesederhanaan sebagai kelemahan, dan ada pula yang merasa terancam oleh sesuatu yang bahkan belum mereka pahami. Namun, sebagaimana akar yang tumbuh jauh di dalam tanah tanpa tepuk tangan, ia terus bertumbuh dalam senyap, menguat dalam kesendirian, dan belajar berdiri teguh meski angin penilaian datang silih berganti.

 

Ada orang muda yang tidak selalu banyak bicara, tetapi pikirannya berjalan ke mana-mana. Matanya memperhatikan banyak hal, telinganya menangkap percakapan yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain, dan pikirannya bekerja lebih cepat daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia mampu membaca situasi, menangkap perubahan suasana, memahami arah pembicaraan, bahkan menyadari hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang lain. Ia tidak selalu bertanya, tetapi bukan berarti ia tidak ingin tahu. Justru sebaliknya, rasa ingin tahunya begitu besar. Ia suka mengeksplorasi banyak hal, mencari informasi, mempelajari sesuatu yang baru, dan menjelajahi dunia melalui berbagai cara yang disukainya.


Baginya, belajar tidak selalu harus duduk di ruang kelas, mengikuti seminar, atau mendengarkan seseorang yang berbicara di depan banyak orang. Terkadang, ia belajar dengan mengamati. Terkadang, ia belajar dengan mendengarkan. Dan sering kali, ia belajar dengan mencari tahu sendiri, menyusuri berbagai kemungkinan, sampai menemukan jawaban yang membuat pikirannya merasa puas. Namun, ada satu hal yang tidak selalu dipahami orang lain tentang dirinya: tidak semua yang ia ketahui harus ia ceritakan. Ia bisa saja mengetahui banyak hal, tetapi memilih diam. Bukan karena tidak mampu menjelaskan, bukan pula karena tidak memiliki sesuatu untuk dibagikan. Ia hanya tidak merasa perlu menunjukkan segala sesuatu yang ada di kepalanya. Jika tidak diminta, ia akan menyimpan pengetahuannya sendiri. Ia lebih senang mengamati daripada sibuk membuktikan bahwa dirinya tahu.

Sayangnya, diam sering kali disalahartikan. Ada yang menganggapnya sombong. Ada yang mencurigainya memiliki maksud tersembunyi. Ada pula yang merasa tidak nyaman dengan caranya memahami situasi begitu cepat. Bahkan, terkadang, orang yang tidak benar-benar mengenalnya justru paling berani memberikan penilaian tentang dirinya.

Ia dihakimi sebelum diberi kesempatan menjelaskan. Dicurigai sebelum melakukan sesuatu. Dijatuhkan sebelum menunjukkan kemampuannya. Bahkan, ada orang-orang yang berusaha menjauhkannya dari lingkungan tertentu, seolah-olah keberadaannya adalah ancaman yang harus disingkirkan.


Barangkali, bagi sebagian orang, seseorang yang tidak mudah ditebak memang terasa mengganggu. Apalagi jika orang itu tidak banyak bicara, tetapi mampu menangkap sesuatu yang tidak disadari oleh orang lain. Namun, ia perlahan belajar bahwa tidak semua orang harus memahami dirinya. Tidak semua tuduhan harus dijawab. Tidak semua penilaian harus diluruskan. Dan tidak semua orang yang meragukannya layak mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang siapa dirinya sebenarnya. Sebab, hidup akan terlalu melelahkan jika setiap langkah harus disertai usaha untuk membuktikan bahwa kita tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Maka, ia memilih terus berjalan.

Di tengah orang-orang yang sibuk menilai, ia tetap menciptakan dunianya sendiri. Ia merawat hobi-hobinya, menikmati hal-hal yang disukainya, mencoba pengalaman baru, dan menemukan kebahagiaan dalam aktivitas yang mungkin tidak dipahami oleh semua orang. Ada dunia yang dibangunnya melalui buku, musik, teknologi, perjalanan, percakapan, kreativitas, atau apa pun yang membuatnya merasa hidup. Dunia yang tidak harus mendapatkan persetujuan semua orang. Dunia yang memberinya ruang untuk bernapas, berpikir, bereksperimen, dan menjadi dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus selalu ditemukan dalam penerimaan orang lain. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh ketika seseorang berhenti memaksakan diri agar diterima oleh lingkungan yang terus-menerus membuatnya merasa salah.

Tentu saja, perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada saat-saat ketika ia lelah menghadapi prasangka. Ada waktu ketika ia bertanya-tanya mengapa orang begitu mudah menghakimi sesuatu yang bahkan belum mereka pahami. Ada pula momen ketika ia harus berhadapan dengan orang-orang yang merasa dirinya paling pintar, paling tahu, paling benar, dan seolah-olah memiliki jawaban untuk segala sesuatu.

Orang-orang yang berbicara seakan tidak pernah keliru. Yang menganggap pendapatnya sebagai kebenaran mutlak. Yang merasa berhak mengukur kemampuan orang lain hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Menghadapi mereka, ia belajar satu hal penting: tidak semua perdebatan perlu dimenangkan, dan tidak semua orang yang berbicara dengan penuh keyakinan benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakannya.

Ia tidak harus merendahkan orang lain untuk menunjukkan kecerdasannya. Ia tidak harus memamerkan semua pengetahuannya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia juga tidak harus mengubah dirinya menjadi orang yang paling keras bersuara hanya supaya keberadaannya diperhitungkan. Sebab, kecerdasan bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana ia menggunakan pengetahuannya, membaca keadaan, mengendalikan diri, dan memahami kapan harus berbicara serta kapan lebih baik diam.

Perlahan-lahan, ia belajar menjadi lebih tenang. Bukan karena ia tidak lagi peduli, melainkan karena ia mulai memahami hal-hal mana yang pantas mendapatkan energinya dan hal-hal mana yang cukup dilewati tanpa perlu dibawa terlalu jauh ke dalam pikirannya. Ia tetap bisa merasa sedih, kecewa, marah, dan terluka. Ia bukan manusia yang kebal terhadap perkataan orang lain. Namun, ia tidak ingin menjadikan perlakuan buruk orang lain sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh. Ia tahu bahwa masih banyak hal yang ingin dipelajari, banyak tempat yang ingin dijelajahi, banyak pengalaman yang ingin dicoba, dan banyak kemungkinan yang belum sempat ditemukan.


Lalu, untuk apa menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk menghadapi orang-orang yang tidak pernah benar-benar ingin memahami dirinya? Ia memilih melangkah lagi.

Bukan untuk membuat orang-orang yang pernah merendahkannya merasa kalah. Bukan pula untuk suatu hari berdiri di hadapan mereka sambil berkata, “Lihat, aku ternyata lebih hebat daripada yang kalian kira.” Tidak. Ia ingin bertumbuh karena hidupnya sendiri terlalu berharga untuk dihabiskan demi pembuktian semacam itu. Ia ingin menjadi seseorang yang lebih luas pikirannya, lebih matang cara pandangnya, lebih terampil dalam bidang yang disukainya, dan lebih bebas menentukan arah hidupnya.

Ia ingin menikmati perjalanan tanpa harus terus-menerus menoleh kepada orang-orang yang sibuk membicarakan langkahnya. Dan di tengah semua itu, ada satu keyakinan yang perlahan tumbuh semakin kuat dalam dirinya. Apa yang dimiliki orang lain hari ini tidak mengurangi apa yang ia miliki. Apa yang dicapai orang lain tidak menghapus pencapaiannya. Dan apa yang berhasil ia pelajari, bangun, alami, serta kembangkan dalam dirinya tidak serta-merta hilang hanya karena seseorang tidak menyukai keberadaannya.


Orang lain mungkin bisa mengambil kesempatan darinya. Mereka mungkin bisa menutup pintu, membatasi ruang, menghalangi jalan, atau membuat orang lain meragukan kemampuannya. Bahkan, mereka mungkin berhasil menjauhkannya dari suatu lingkungan.

Namun, mereka tidak otomatis dapat mengambil rasa ingin tahunya. Mereka tidak bisa begitu saja menghapus pengalaman yang telah membentuk cara berpikirnya. Mereka tidak bisa menentukan seluruh isi pikirannya, merampas kreativitasnya, atau mengendalikan semua kemungkinan yang masih dapat ia jelajahi. Sebab, ada hal-hal yang tumbuh di dalam diri seseorang dan tidak bergantung sepenuhnya pada pengakuan dunia luar.

Pengetahuan yang telah dipelajari. Keterampilan yang telah dilatih. Pengalaman yang telah dilewati. Kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan menemukan jalan baru. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya. Ia mungkin belum mengetahui semua jawaban. Ia mungkin masih memiliki banyak kekurangan. Ia pun bisa salah, perlu belajar kembali, dan harus bersedia menerima kritik yang membangun. Namun, ia tidak harus membiarkan prasangka orang lain menjadi batas bagi pertumbuhannya. Karena hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling pintar, paling berkuasa, atau paling pantas didengar.


Hidup adalah perjalanan untuk mengenali diri sendiri, mengembangkan apa yang dimiliki, dan menemukan cara agar keberadaan kita sungguh berarti. Maka, biarlah mereka berbicara jika memang itu yang mereka pilih. Biarlah mereka menilai jika mereka merasa perlu. Biarlah mereka mengira bahwa diam berarti tidak tahu, bahwa kesederhanaan berarti tidak mampu, atau bahwa seseorang yang tidak memamerkan dirinya tidak memiliki sesuatu yang istimewa.

Ia tidak perlu menjelaskan seluruh isi kepalanya kepada setiap orang yang ditemuinya.

Ia hanya perlu memastikan bahwa dirinya sendiri tidak berhenti belajar, tidak kehilangan rasa ingin tahu, dan tidak menyerahkan kebahagiaannya kepada orang-orang yang gemar menghakimi. Sebab, pada akhirnya, ia tidak sedang membangun kehidupan untuk memenuhi ekspektasi semua orang. Ia sedang membangun kehidupan yang sungguh-sungguh ingin ia jalani. Dan selama ia masih memiliki keberanian untuk berpikir, kemauan untuk belajar, kebebasan untuk menciptakan dunianya sendiri, serta kerendahan hati untuk terus bertumbuh, ia masih memiliki banyak alasan untuk melangkah.

Ia boleh memilih diam, tetapi pikirannya tetap menjelajah. Ia boleh disalahpahami, tetapi tidak harus kehilangan dirinya. Ia boleh dijauhkan dari suatu tempat, tetapi tidak harus kehilangan arah.

Sebab, ia akhirnya mengerti: tidak semua hal berharga dalam hidup harus dipamerkan, tidak semua kemampuan harus diumumkan, dan tidak semua perjalanan harus disaksikan orang lain.


Ada pertumbuhan yang berlangsung dalam diam. Ada kemenangan yang tidak membutuhkan tepuk tangan. Dan ada kebebasan yang muncul ketika seseorang tidak lagi merasa wajib membuktikan dirinya kepada semua orang. Ia akan terus berjalan, membawa rasa ingin tahunya, merawat kesukaannya, mengembangkan kemampuannya, dan menciptakan dunia yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri.

Bukan karena ia tidak peduli pada dunia. Melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa dunia boleh memiliki banyak pendapat tentang dirinya, tetapi hidupnya tetap menjadi tanggung jawabnya sendiri.


NB. Terinspirasi dari mereka yang jiwanya seluas samudera.


Pace e Bene!

Sr. M. Emilia SFS


 

Sabtu, 17 Oktober 2026

Ketika “Sound Horeg” Bertemu dengan Semangat yang Nyaris Mati Suri

Ada sesuatu yang menarik ketika berjumpa dengan orang muda Katolik dan para religius muda Katolik. Mereka membawa warna tersendiri. Ada tawa yang lepas, cerita yang bersahut-sahutan, candaan yang tidak ada habisnya, dan suara yang kadang membuat orang bertanya-tanya, “Ini sedang rapat atau sedang reuni?” Kalau mereka sudah berkumpul, suasananya bisa langsung berubah. Yang tadinya sepi menjadi ramai. Yang tadinya kaku menjadi cair. Yang tadinya hanya ingin membicarakan satu agenda, tiba-tiba melebar ke mana-mana, dari hal serius sampai hal-hal receh yang hanya mereka sendiri yang mengerti. Saking ramainya, sampai-sampai muncul istilah yang cukup menggelitik: kalau orang-orang muda ini bertemu, pasti ada “sound horeg”-nya! Bukan karena mereka membawa pengeras suara ke mana-mana, melainkan karena energi, tawa, dan suara mereka seolah-olah mampu menghidupkan seluruh ruangan. Mereka tertawa bersama, saling meledek dengan penuh keakraban, berbicara dengan nada yang bersemangat, dan sesekali membuat orang yang berada di dekat mereka ikut tersenyum, entah karena terhibur atau karena bingung melihat betapa ramainya suasana. Namun, di balik semua keramaian itu, ada hal yang jauh lebih menarik untuk direnungkan.

Semangat yang membara di awal, lalu perlahan meredup

Ketika merencanakan sebuah kegiatan, semangat mereka bisa luar biasa. Ide bermunculan dari berbagai arah. Ada yang mengusulkan konsep acara, ada yang memikirkan desain, ada yang membayangkan suasana kegiatan, ada yang menawarkan cara baru agar kegiatan lebih menarik. Dalam waktu singkat, sebuah rencana sederhana bisa berkembang menjadi gagasan besar yang penuh warna.

“Bagaimana kalau kita buat seperti ini?”

“Wah, bisa banget!”

“Kalau ditambah ini, pasti lebih seru!”

“Gas! Kita kerjakan!”

Kalimat-kalimat seperti itu terasa akrab. Di awal, semuanya tampak mudah dan mungkin. Mata berbinar, percakapan mengalir, dan semangat terasa memenuhi ruangan.

Tetapi, waktu berjalan. Hari berganti minggu. Kesibukan datang silih berganti. Pesan di grup yang awalnya dibalas dalam hitungan detik, perlahan mulai tenggelam. Rencana yang dahulu dibicarakan dengan penuh antusiasme mulai kehilangan gaungnya. Beberapa orang menghilang dari percakapan, sebagian tenggelam dalam aktivitas masing-masing, sementara yang lain mungkin sedang berjuang dengan urusan hidup yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Semangat yang tadinya membara perlahan meredup. Bahkan, ada kalanya terasa seperti sedang mengalami mati suri.

Di titik ini, orang mudah memberikan penilaian.

“Katanya semangat, kok sekarang tidak ada kabar?”

“Katanya mau bekerja bersama, tetapi ke mana semua orang?”

“Jangan-jangan mereka hanya pandai bicara.”

Penilaian seperti itu bisa dimengerti. Sebab, sebuah kegiatan memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ide, tawa, dan seruan “gas!” Dibutuhkan konsistensi, disiplin, komunikasi, dan kesediaan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Namun, sebelum memberikan penilaian, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah semangat yang meredup selalu berarti seseorang tidak peduli? Apakah orang yang tidak selalu terlihat sibuk berarti tidak sedang bekerja?

Sebab, manusia tidak selalu menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang sama.


Mereka mungkin tidak selalu terlihat serius, tetapi jangan salah menilai

Ada orang yang menunjukkan keseriusan dengan wajah tegang, suara tegas, jadwal yang rapi, dan gerak-gerik yang tampak sibuk. Ada pula orang yang tetap bisa tertawa, bercanda, dan terlihat santai, tetapi sesungguhnya menyimpan kemampuan luar biasa ketika tanggung jawab dipercayakan kepadanya.

Orang muda Katolik dan religius muda sering kali memperlihatkan wajah yang kedua ini.

Dari luar, mereka mungkin tampak seperti tidak sedang bekerja. Ketika berkumpul, yang terdengar justru tawa. Ketika bertemu, yang terlihat justru canda. Ketika berdiskusi, percakapan mereka kadang begitu ramai sampai sulit membedakan mana ide, mana lelucon, dan mana rencana yang sungguh-sungguh akan dikerjakan.

Bagi sebagian orang, gaya seperti ini bisa dianggap tidak serius. Mereka dinilai terlalu santai, kurang formal, kurang disiplin, atau bahkan kurang bertanggung jawab.

Namun, pengalaman bekerja bersama mereka bisa menghadirkan kejutan.

Ketika sebuah tugas benar-benar dipercayakan, mereka mampu menunjukkan hasil yang mengagumkan. Ada kreativitas yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ada ide-ide segar yang menjawab kebutuhan zaman. Ada keberanian mencoba sesuatu yang baru. Ada kemampuan memanfaatkan teknologi, membangun komunikasi, mengemas pesan, dan menciptakan kegiatan yang dekat dengan kehidupan orang muda.

Mereka mungkin tidak selalu bekerja dengan cara yang kita bayangkan. Mereka tidak selalu memperlihatkan kesibukan sebagai bukti produktivitas. Tetapi, ketika diminta menunjukkan hasil, sering kali mereka datang dengan sesuatu yang melampaui perkiraan.

Di situlah kita belajar bahwa keseriusan tidak selalu harus berwajah tegang, dan kreativitas tidak selalu lahir dari suasana yang kaku.

Tentu saja, ini bukan berarti keterlambatan, hilangnya komunikasi, atau tanggung jawab yang terbengkalai harus dimaklumi begitu saja. Orang muda pun perlu belajar menepati komitmen, mengelola waktu, dan menyelesaikan tugas. Kepercayaan harus dijawab dengan tanggung jawab.

Namun, tanggung jawab juga tidak boleh diukur hanya dari penampilan, gaya bicara, atau seberapa sering seseorang terlihat sibuk.

Ada baiknya kita belajar menilai mereka dari proses, komitmen, dan hasil nyata, bukan sekadar dari kesan pertama.


Generasi yang berbeda, cara bekerja yang berbeda

Generasi milenial dan Generasi Z kini cukup dominan dalam berbagai kegiatan pelayanan. Mereka hadir dengan pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir yang tidak selalu sama dengan generasi sebelumnya.

Mereka akrab dengan dunia digital. Mereka senang berkolaborasi, menyukai ruang untuk berkreasi, dan ingin mengetahui alasan di balik sesuatu yang mereka kerjakan. Mereka cenderung lebih bersemangat ketika diberi kesempatan untuk terlibat secara nyata, menyampaikan gagasan, mencoba pendekatan baru, dan merasa bahwa kehadiran mereka sungguh berarti.

Mereka tidak selalu nyaman jika hanya diminta mengikuti instruksi tanpa memahami tujuan. Mereka ingin menjadi bagian dari proses, bukan sekadar pelaksana keputusan yang sudah dibuat orang lain.

Bagi sebagian generasi yang lebih senior, cara seperti ini mungkin terasa merepotkan. Ada yang berharap orang muda lebih patuh, lebih tenang, lebih teratur, dan tidak terlalu banyak bertanya.

Sementara itu, orang muda mungkin berharap diberi kepercayaan, ruang berekspresi, dan kesempatan untuk belajar tanpa terus-menerus dicurigai.

Di antara kedua harapan itu, sebenarnya ada kesempatan yang besar untuk saling memperkaya.

Generasi senior memiliki pengalaman, kebijaksanaan, ketekunan, dan kemampuan melihat risiko. Generasi muda membawa energi, kreativitas, keberanian mencoba, dan kepekaan terhadap perubahan zaman.

Bayangkan apa yang bisa terjadi jika keduanya tidak sibuk mempertahankan cara masing-masing, tetapi bersedia duduk bersama, mendengarkan, dan belajar satu sama lain.

Pengalaman tanpa keterbukaan bisa berubah menjadi kekakuan. Kreativitas tanpa ketekunan bisa berhenti sebagai gagasan. Namun, ketika pengalaman bertemu kreativitas, dan kebijaksanaan bertemu keberanian, pelayanan dapat menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh.

Yang dibutuhkan bukan generasi yang saling mengalahkan, melainkan generasi yang saling melengkapi.

 

Ketika sukacita dianggap ancaman

Ada satu hal yang lebih menyedihkan daripada semangat yang meredup, yaitu ketika semangat seseorang justru dipadamkan oleh orang lain.

Kadang-kadang, bukan karena orang muda tidak mampu bekerja. Bukan pula karena mereka tidak memiliki gagasan. Mereka justru mampu menghasilkan sesuatu yang baik, membangun suasana yang hidup, dan menggerakkan orang lain.

Namun, kehadiran mereka tidak selalu diterima dengan lapang hati.

Ada yang merasa terganggu dengan keramaian mereka. Ada yang menganggap kreativitas mereka terlalu berbeda. Ada yang merasa cara kerja mereka tidak sesuai dengan kebiasaan yang selama ini berlaku. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan muncul rasa iri ketika orang muda mendapat kepercayaan, ketika gagasannya diterima, atau ketika hasil kerjanya mendapat apresiasi.

Dari sana, kritik yang semula dimaksudkan untuk memperbaiki bisa berubah menjadi upaya mengecilkan. Perbedaan pendapat berubah menjadi persoalan pribadi. Ruang belajar berubah menjadi ruang penghakiman.

Perlahan-lahan, orang muda yang semula berani berbicara mulai memilih diam. Mereka yang dahulu penuh gagasan mulai menyimpan ide untuk dirinya sendiri. Mereka yang biasanya datang dengan tawa mulai merasa canggung. Mereka yang dahulu berkata, “Gas, kita kerjakan!” mulai bertanya dalam hati, “Untuk apa berusaha kalau akhirnya selalu dianggap salah?”

Dan yang paling menyakitkan adalah ketika mereka tidak lagi diberi ruang untuk bertumbuh. Mereka disisihkan, disingkirkan, atau secara halus dibuat merasa bahwa mereka tidak lagi diinginkan.

Seolah-olah, satu-satunya cara untuk menjadi bagian dari komunitas adalah dengan menyesuaikan diri sepenuhnya pada cara berpikir orang-orang yang sudah lebih dahulu berada di dalamnya.

Padahal, komunitas yang sehat bukanlah komunitas yang membuat semua orang berpikir, berbicara, dan bertindak dengan cara yang sama. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.

Tentu, tidak semua kritik adalah bentuk iri hati, dan tidak setiap konflik berarti seseorang sedang menjatuhkan orang lain. Kritik yang jujur tetap dibutuhkan. Evaluasi tetap penting. Perilaku yang merugikan komunitas juga harus dibicarakan dengan terbuka.

Namun, kita perlu berani membedakan antara mengoreksi dan merendahkan, antara mendampingi dan mengendalikan, antara menegakkan tanggung jawab dan menutup kesempatan seseorang untuk berkembang.

Jika memang ada yang perlu diperbaiki, sampaikanlah dengan jelas. Jika ada tanggung jawab yang tidak dijalankan, bicarakanlah secara adil. Jika ada perbedaan cara kerja, carilah jalan tengah.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengoreksi cara orang muda tertawa sampai lupa melihat apa yang sebenarnya bisa mereka kerjakan.

Jangan sampai kita begitu terganggu dengan suara mereka sampai tidak lagi mendengar isi gagasan mereka.

Dan jangan sampai kita begitu ingin menjaga keteraturan sampai tanpa sadar mematikan kehidupan di dalam komunitas sendiri.

 

Bekerja bersama bukan berarti harus selalu sama

Bekerja bersama orang muda Katolik dan religius muda Katolik mengajarkan bahwa kolaborasi tidak cukup dibangun hanya dengan membagi tugas dan menetapkan tenggat waktu. Kolaborasi juga membutuhkan kepercayaan, komunikasi, kesabaran, dan kesediaan untuk memahami cara kerja satu sama lain.

Orang muda perlu belajar bahwa antusiasme pada awal kegiatan harus diterjemahkan menjadi komitmen yang nyata. Ide yang bagus perlu ditindaklanjuti. Janji perlu ditepati. Tugas perlu diselesaikan. Jika ada kendala, komunikasi harus tetap dijaga.

Sebaliknya, mereka yang menjadi pemimpin, pendamping, atau rekan kerja juga perlu belajar memberikan ruang. Jangan setiap kali orang muda tertawa langsung dianggap tidak serius. Jangan setiap kali mereka menyampaikan gagasan yang berbeda langsung dicurigai. Jangan menuntut kedewasaan dari mereka, tetapi menutup kesempatan yang memungkinkan mereka belajar menjadi dewasa.

Kepercayaan bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Kepercayaan berarti memberikan tanggung jawab dengan tujuan yang jelas, batas waktu yang disepakati, dukungan yang memadai, serta ruang untuk berinisiatif.

Pendampingan bukan berarti mengatur setiap langkah. Pendampingan berarti berjalan bersama, membantu ketika mereka mengalami kesulitan, memberikan koreksi ketika diperlukan, dan tetap menghargai martabat mereka ketika terjadi kesalahan.

Sebab, orang muda tidak akan belajar bertanggung jawab jika setiap kesalahan selalu berakhir dengan hukuman sosial. Mereka tidak akan belajar memimpin jika setiap keputusan harus selalu dikendalikan orang lain. Mereka tidak akan berani berkreasi jika setiap gagasan baru disambut dengan kecurigaan.

Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba, tetapi juga membutuhkan pendamping yang bersedia mengingatkan. Mereka membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan batas yang sehat. Mereka membutuhkan apresiasi, tetapi juga membutuhkan evaluasi yang jujur.

Di situlah kerja bersama menjadi proses pendewasaan bagi semua pihak.

Bukan hanya orang muda yang belajar dari generasi senior. Generasi senior pun dapat belajar kembali tentang sukacita, spontanitas, keberanian, dan kesediaan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

 

Gereja tidak hanya membutuhkan suara yang tertib, tetapi juga suara yang hidup

Dalam kehidupan Gereja, kita sering berbicara tentang harapan, regenerasi, keterlibatan orang muda, dan masa depan pelayanan. Kita berharap mereka hadir, mengambil bagian, dan melanjutkan karya yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya.

Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita sungguh-sungguh memberikan ruang bagi mereka untuk hadir sebagai diri mereka sendiri?

Apakah kita hanya menginginkan orang muda yang datang ketika dipanggil, diam ketika diminta, dan mengerjakan segala sesuatu persis seperti yang kita kehendaki?

Ataukah kita juga bersedia menerima orang muda yang penuh pertanyaan, membawa gagasan baru, tertawa dengan lepas, dan memiliki cara kerja yang kadang berbeda dari kebiasaan kita?

Gereja tentu membutuhkan keteraturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Akan tetapi, Gereja juga membutuhkan sukacita, kreativitas, keberanian, dan semangat pembaruan.

Kita tidak bisa mengharapkan Gereja tetap hidup jika orang-orang muda hanya diberi tempat untuk hadir, tetapi tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi.

Kita tidak bisa mengharapkan mereka bertahan dalam pelayanan jika setiap energi yang mereka bawa justru dipandang sebagai gangguan.

Dan kita tidak bisa mengharapkan mereka tumbuh menjadi pemimpin jika ruang untuk belajar memimpin selalu tertutup oleh ketakutan akan kesalahan.

Barangkali, sesekali kita perlu membiarkan ruang pertemuan sedikit lebih ramai. Membiarkan tawa hadir di tengah keseriusan. Memberi kesempatan bagi ide-ide baru untuk diuji. Bahkan, sesekali ikut tertawa ketika istilah “sound horeg” kembali muncul saat mereka berkumpul.

Bukan karena semua hal harus dibuat santai, melainkan karena pelayanan yang baik tidak harus kehilangan kegembiraannya.

Bukankah kita ingin orang muda melayani bukan hanya karena merasa wajib, tetapi karena menemukan makna, persaudaraan, dan sukacita di dalamnya?

 

Jangan sampai kita kehilangan mereka sebelum kehilangan kegembiraan kita

Pada akhirnya, bekerja bersama orang muda mengajarkan kita bahwa setiap generasi memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kehidupan.

Ada yang menunjukkan keseriusan melalui ketenangan. Ada yang menunjukkan kepedulian melalui percakapan panjang. Ada yang mengungkapkan persaudaraan melalui candaan. Ada pula yang baru terlihat kemampuannya ketika sebuah tanggung jawab benar-benar dipercayakan.

Kita tidak harus menyukai semua gaya mereka. Kita tidak harus menyetujui setiap gagasan mereka. Dan mereka pun tidak harus selalu benar.

Namun, kita bisa memilih untuk tidak buru-buru menghakimi.

Kita bisa memilih untuk bertanya sebelum menuduh, mendengarkan sebelum menyimpulkan, dan membimbing sebelum menyingkirkan.

Sebab, mungkin saja di antara orang-orang muda yang hari ini kita anggap terlalu ramai, ada calon pemimpin yang kelak akan menggerakkan banyak orang. Di antara mereka yang tampak santai, ada pribadi kreatif yang mampu menemukan jalan keluar ketika kita kehabisan ide. Di antara mereka yang tertawa paling keras, mungkin ada hati yang paling tulus ingin memberikan sesuatu bagi Gereja.

Tetapi, potensi itu tidak akan selalu tumbuh dengan sendirinya. Ia membutuhkan kepercayaan, pendampingan, kesempatan, dan lingkungan yang membuat seseorang merasa diterima sekaligus ditantang untuk menjadi lebih baik.

Jangan sampai suatu hari kita bertanya, “Ke mana orang-orang muda yang dahulu begitu bersemangat?”

Jangan sampai kita merindukan kreativitas mereka setelah kita sendiri membuat mereka takut untuk berpendapat.

Jangan sampai kita mengeluhkan kurangnya keterlibatan orang muda, padahal tanpa sadar kita telah menutup pintu ketika mereka datang membawa gagasan dan energi.

Dan jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya suara mereka setelah ruangan yang dahulu ramai itu berubah menjadi sunyi.

Karena sesungguhnya, yang perlu kita jaga bukan hanya agar kegiatan berjalan sesuai rencana. Yang juga perlu kita jaga adalah agar orang-orang yang mengerjakannya tetap memiliki hati yang hidup, semangat untuk bertumbuh, dan sukacita dalam melayani.

Biarlah ada tawa, tetapi tetap ada tanggung jawab. Biarlah ada kebebasan, tetapi tetap ada komitmen. Biarlah ada perbedaan, tetapi tetap ada rasa hormat. Dan biarlah ada “sound horeg”, tetapi jangan sampai suara itu menenggelamkan suara hati yang ingin melayani.

Sebab, Gereja tidak hanya membutuhkan orang muda yang mau bekerja. Gereja membutuhkan orang muda yang bertumbuh melalui pekerjaannya, menemukan makna dalam pelayanannya, dan tetap merasa bahwa dirinya diterima di dalam komunitasnya.

Mungkin, itulah salah satu bentuk panggilan kita bersama: bukan sekadar membuat orang muda bertahan di dalam Gereja, melainkan menciptakan Gereja yang membuat mereka ingin terus bertumbuh, berkarya, dan pulang dengan sukacita.

Dan jika suatu hari mereka kembali berkumpul, tertawa lepas, bertukar cerita, lalu membuat ruangan kembali ramai seperti sedang ada “sound horeg”, semoga kita tidak lagi buru-buru bertanya, “Mengapa mereka berisik sekali?”

Melainkan tersenyum dan berkata dalam hati:

“Syukurlah, mereka masih ada. Mereka masih punya semangat. Mereka masih punya tempat untuk pulang. Sekarang, mari kita berjalan bersama dan membantu semangat itu tetap menyala.”

Karena yang paling menyedihkan bukanlah ketika suara orang muda sesekali meredup, melainkan ketika mereka memilih diam selamanya karena merasa tidak lagi memiliki tempat untuk bersuara.


Salam sukacita dan setia

Sr. M. Emilia SFS

 


"Merawat Rindu dalam Doa, Menanti Pertemuan dalam Keabadian"

Tentang kehilangan, warisan iman, dan harapan akan perjumpaan dalam keabadian. Ada rindu yang tidak lagi menemukan alamat untuk pulang. Ada ...