Rabu, 14 Oktober 2026

MENJADI SUSTER FRANSISKAN SUKABUMI (SFS) “Sebuah perjalanan cinta, panggilan, dan pengabdian”

Sr. Sylvana SFS & Sr. Paskalia SFS

Pernahkah kamu bertanya dalam hati, “Tuhan, apa rencana-Mu untuk hidupku?” Mungkin kamu memiliki banyak impian, ingin melanjutkan pendidikan, berkarya, membangun masa depan, atau melakukan sesuatu yang berarti bagi sesama. Namun, di tengah semua itu, pernahkah terlintas keinginan untuk mengenal Tuhan lebih dekat dan mempersembahkan hidup bagi-Nya? Menjadi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) adalah salah satu jalan untuk menjawab panggilan itu. Sebuah perjalanan untuk mengenal diri, mengenal Tuhan, hidup dalam persaudaraan, serta melayani sesama dengan semangat Santo Fransiskus dari Assisi: sederhana, rendah hati, penuh kasih, dan peduli terhadap keutuhan ciptaan. Menjadi suster bukan berarti harus menjadi orang yang sempurna. Ini adalah perjalanan untuk terus bertumbuh, belajar mencintai, dan menemukan bagaimana Tuhan berkarya dalam hidupmu.

Bagaimana perjalanan menjadi Suster Fransiskan Sukabumi? Yuk, kenali tahap-tahapnya! 

ASPIRAN - Berani Mengenal Panggilan (6–12 bulan) Semuanya bisa dimulai dari rasa ingin tahu, ketertarikan, atau kerinduan kecil dalam hati. Sebagai aspiran, kamu diajak mengenal lebih dekat kehidupan, spiritualitas, dan karya SFS. Di tahap ini, kamu belajar mengenal diri sendiri, membangun relasi dengan Tuhan, dan melihat apakah hidup sebagai seorang suster sungguh menjadi jalan yang ingin kamu tempuh. Belum harus punya semua jawaban. Yang penting, berani mulai mengenal. Masa aspiransi dijalani di komunitas, tempat tugas, atau tempat kerja yang ditentukan. 
Aspiran SFS

POSTULAN - Mengenal Diri, Memantapkan Hati (1 tahun) Setelah menjalani masa aspiran, perjalanan berlanjut ke tahap postulan. Di sini, kamu mendapat pendampingan untuk semakin mengenal dirimu sendiri, kehidupan doa, persaudaraan, dan karya pelayanan Kongregasi SFS. Kamu belajar memahami kelebihan, keterbatasan, harapan, dan motivasimu. Semuanya menjadi bagian dari proses untuk mengambil keputusan secara lebih matang dan bebas. Bukan sekadar ingin menjadi suster, tetapi mulai memahami arti hidup sebagai seorang suster. 

NOVIS — Belajar Menghidupi Semangat Fransiskan (2 tahun) Inilah masa pembinaan yang lebih mendalam untuk mengenal dan menghayati cara hidup SFS. Para novis belajar memperdalam doa, Kitab Suci, spiritualitas Fransiskan, sejarah Kongregasi, hidup persaudaraan, serta makna kaul-kaul religius. Pada tahap ini, kamu juga semakin belajar hidup sederhana, rendah hati, taat, dan siap melayani. Penerimaan jubah biara menjadi salah satu tanda penting dalam perjalanan pembinaan ini. Belajar bukan hanya mengenakan jubah, tetapi juga mengenakan hati yang siap mengasihi dan melayani. 

Novis (berbunga dada)

YUNIOR — Bertumbuh dalam Komitmen dan Pelayanan (5–8 tahun) Setelah menyelesaikan masa novisiat dan diterima untuk mengikrarkan profesi pertama, kamu memasuki masa yunior. Pada tahap ini, kamu mengikrarkan kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan, serta mulai menjalani perutusan dengan lebih penuh dalam kehidupan dan karya Kongregasi. Di tengah pengalaman pelayanan nyata, kamu terus belajar, mengevaluasi diri, memperdalam hidup rohani, dan bertumbuh dalam tanggung jawab sebagai seorang suster. Ada pengalaman menyenangkan, tantangan, dan hal-hal baru yang perlu dipelajari. Semuanya menjadi bagian dari proses pendewasaan panggilan. Panggilan tidak berhenti pada janji. Panggilan bertumbuh melalui kesetiaan setiap hari. 
Yunior SFS

ANGGOTA DEFINITIF — Setia Seumur Hidup Profesi Kekal Setelah menjalani masa pembinaan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan Kongregasi, seorang suster dapat mengikrarkan profesi kekal. Inilah penyerahan diri secara sukarela dan definitif kepada Tuhan dalam hidup bakti sebagai anggota SFS. Profesi kekal bukan berarti perjalanan belajar telah selesai. Justru, inilah komitmen untuk terus menghidupi panggilan dengan setia, bertanggung jawab dalam persaudaraan, dan melayani Gereja serta sesama dalam semangat kedinaan Fransiskan. Bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena cinta kepada Tuhan terus diperbarui dan dihidupi setiap hari. 
Medior SFS

Apakah kamu juga merasakan panggilan itu? 
Mungkin kamu masih bertanya-tanya. Mungkin kamu merasa belum pantas, masih memiliki banyak kekurangan, atau belum yakin dengan masa depanmu. Tidak apa-apa. Kamu tidak harus memahami semuanya sekaligus. Panggilan dapat bertumbuh melalui doa, pengalaman hidup, perjumpaan dengan orang lain, dan keberanian untuk membuka hati. Jika kamu seorang perempuan muda Katolik yang ingin mengenal kehidupan membiara, kamu boleh mulai dengan langkah sederhana: datang, berkenalan, bertanya, dan mengalami kehidupan para Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) dari dekat. Kenali semangatnya. Rasakan persaudaraannya. Temukan makna pelayanannya. Berikan dirimu kesempatan untuk mendengarkan suara Tuhan dalam hidupmu.

Tuhan Memanggil, Beranikah Kamu Menjawab? 
Mungkin panggilan itu hadir bukan sebagai suara yang keras, melainkan sebagai kerinduan kecil di dalam hati. Suster Fransiskan Sukabumi — sederhana dalam hidup, setia dalam persaudaraan, dan penuh kasih dalam pelayanan. Mari mengenal SFS lebih dekat dan menapaki perjalanan panggilan bersama.

Jika anda kamu ingin mengenal lebih jauh dan bertanya, bisa menghubungi nomor yg ada di brosur.


_Sr. M. Emilia SFS









Selasa, 06 Oktober 2026

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KONGREGASI SUSTER FRANSISKAN SUKABUMI (SFS)

Para Suster SFS

Identitas dan Akar Sejarah Kongregasi

Suster-suster Fransiskan Sukabumi (SFS) adalah suatu persaudaraan yang terdiri dari pribadi-pribadi yang terdorong oleh panggilan ilahi untuk menghayati dan meneruskan semangat pendiri, Ibu Rosa de Bie. Kongregasi ini berkedudukan di Sukabumi, Jawa Barat, dengan alamat Biara Pusat di Jalan Rumah Sakit No. 3, Kota Sukabumi. Dalam perjalanan sejarahnya, SFS berakar pada Suster-suster Peniten Recollectinen St. Catharina Bergen op Zoom, Nederland, yang didirikan oleh Ibu Rosa de Bie pada 12 Februari 1838. Semangat yang diwariskan oleh pendiri menjadi dasar bagi para suster untuk menghayati panggilan hidup religius dalam persaudaraan, pertobatan, doa, pelayanan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada mereka yang membutuhkan.

Keinginan untuk terlibat dalam karya misi telah tumbuh dalam diri Suster-suster Penitenten-Rekolektin Bergen op Zoom sejak masa kepemimpinan Moeder Margaretha. Mereka mendambakan kesempatan untuk merawat orang-orang sakit di daerah misi. Namun, cita-cita tersebut beberapa kali mengalami hambatan karena keterbatasan tenaga yang cakap dan kesulitan finansial. Pada tahun 1928 muncul tawaran yang lebih konkret melalui pembicaraan mengenai kemungkinan berkarya di daerah misi Bengkulu, tetapi rencana tersebut tidak terlaksana. Semangat misi kembali berkobar ketika pada tahun 1930 Mgr. Pacificus Bos OFMCap. mengunjungi Suster-suster St. Catharina dan berbicara tentang kebutuhan pelayanan di daerah misi. Meskipun demikian, rencana untuk berkarya di Kalimantan juga belum menjadi kenyataan.

 

Jalan Menuju Sukabumi dan Awal Karya Misi

Perjalanan menuju Indonesia mulai memperoleh arah yang lebih jelas pada tahun 1932. Melalui hubungan dengan Pater H. Muller, SY, muncul kemungkinan untuk mengambil alih sebuah rumah sakit di dekat Sukabumi. Pater J. Wubbe, SY, kemudian datang ke St. Catharina bersama Tuan van Mechelen untuk membicarakan kemungkinan mengambil alih rumah sakit milik Kota Praja Sukabumi. Pembicaraan tersebut berkembang secara serius. Pater Wubbe menunjukkan keadaan dan kebutuhan karya di Sukabumi serta mendorong pimpinan Kongregasi agar percaya pada penyelenggaraan ilahi. Walaupun persoalan finansial dan kekurangan tenaga menjadi kekhawatiran besar, semangat misioner para suster kembali tumbuh.

Setelah melalui pertimbangan dan doa, pada 28 Desember 1932 Mgr. P. Hopmans memberikan persetujuan bagi Kongregasi untuk menerima tugas misi tersebut. Hari itu kemudian dikenang sebagai hari yang membahagiakan bagi Kongregasi. Untuk menjalankan tu-gas misi, enam suster dipilih sebagai misionaris pertama, yaitu Sr. Serap-hine Gulickx sebagai overste, Sr. Imelda den Aantrekker, Sr. Augusta Mocke, Sr. Theresina Tax, Sr. Gemma Mertogh, dan Sr. Valentina Uitdewilligen. Pada 19 Maret 1933 mereka menerima salib misi, kemudian berangkat dari Belanda menuju Indonesia.

Enam Misionaris Pertama

Duduk dari kiri ke kanan:

Moeder Seraphine, Sr. Imelda

Berdiri dari kiri ke kanan:

  Sr. Therezina, Sr. Valentine, Sr. Agusta, Sr. Gemma


Pada Kamis Putih, 13 April 1933, para misionaris pertama dari Kongregasi Penitent-Rekolektin Bergen op Zoom tiba di Tanjung Priok. Setelah menyesuaikan diri dan mempelajari kondisi pelayanan kesehatan di Jawa Tengah, mereka melanjutkan perjalanan ke Sukabumi. Pada 1 Mei 1933 mereka tiba di Sukabumi. Karena rumah sakit belum secara resmi diserahkan kepada Misi, para suster untuk sementara tinggal di sebuah rumah yang telah dipersiapkan bagi mereka. Mereka mulai melayani orang-orang sakit di rumah-rumah, mempelajari bahasa Melayu, dan menantikan selesainya proses pengalihan rumah sakit.

Akhirnya, setelah melalui berbagai proses, pada 31 Desember 1933 para suster secara resmi menetap di rumah sakit. Mulai 1 Januari 1934 rumah sakit tersebut berada dalam pengelolaan mereka dan kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit St. Lidwina. Dengan demikian, karya pelayanan kesehatan di Sukabumi menjadi tonggak penting dalam perjalanan kehadiran Kongregasi di Indonesia. Pada masa awal tersebut, para suster melayani pasien dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk pasien pribumi, pasien Eropa, kaum miskin yang memperoleh pelayanan secara cuma-cuma, serta pasien dari bagian penjara.

RS. St. Lidwina Kota Sukabumi
(Sekarang: RSUD Syamsudin Kota Sukabumi)



Pertumbuhan Karya Misi di Sukabumi dan Sekitarnya

Karya di Sukabumi berkembang dengan pesat. Pada tahun 1934, selain pelayanan di Rumah Sakit St. Lidwina, para suster juga membuka poliklinik yang melayani ribuan orang miskin. Perkembangan karya tersebut menunjukkan bahwa kehadiran para suster bukan hanya berkaitan dengan perawatan orang sakit, tetapi juga merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Pada tahun-tahun berikutnya, kebutuhan pelayanan semakin meningkat sehingga Kongregasi mengirimkan tenaga baru dari Bergen op Zoom.

Pada tahun 1936, ketika jumlah suster bertambah, dibuka poliklinik di Sukanegara, Jawa Barat. Karya tersebut berkembang dan memperoleh tanggapan positif dari masyarakat. Kemudian pada tahun 1937 didirikan pula poliklinik di Cibeber. Dengan demikian, pelayanan para suster tidak hanya berpusat di Rumah Sakit St. Lidwina di Sukabumi, tetapi mulai menjangkau masyarakat di wilayah sekitar. Pada tahun 1938, perkembangan karya misi semakin memperlihatkan buah dari semangat pengorbanan para suster. Pada 2 Maret 1939, empat suster lagi tiba di Indonesia untuk membantu karya pelayanan, khususnya menjangkau masyarakat di pedalaman.

 

 

Masa Pendudukan Jepang dan Perubahan Situasi

Perjalanan karya misi kemudian menghadapi masa yang sangat berat ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang mulai berkuasa di Indonesia. Para suster berkebangsaan Belanda turut mengalami penahanan. Pada 28 September 1943 mereka digiring ke kamp tawanan dan selama kurang lebih empat tahun berpindah dari satu tempat ke tempat lain, antara lain Cicurug, Bogor, dan Kramat Jakarta. Masa tersebut menjadi pengalaman penderitaan yang berat, tetapi para suster tetap menjalani keadaan dengan ketabahan dan penyerahan diri.

Perang membawa dampak besar terhadap karya yang telah dirintis. Rumah Sakit di Sukanegara hancur dan karya di Cibeber musnah. Rumah Sakit St. Lidwina di Sukabumi tetap ada, tetapi setelah perang pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Daerah. Ketika para suster keluar dari kamp tawanan dan kembali ke Sukabumi pada tahun 1947, mereka menghadapi situasi yang berbeda. Dengan semangat pelayanan yang sama, mereka membangun kembali karya dan bekerja sama dengan pemerintah untuk tetap menolong orang-orang yang sakit dan menderita.

 

Lahirnya Pendidikan bagi Puteri-Puteri Indonesia

Perubahan penting dalam sejarah Kongregasi terjadi ketika jumlah suster berkebangsaan Belanda semakin menyusut karena sebagian dari mereka telah lanjut usia dan kembali ke negeri asal. Keadaan ini mendorong munculnya pemikiran untuk membuka pendidikan bagi gadis-gadis pribumi agar karya dan semangat Kongregasi dapat diteruskan di Indonesia. Atas dorongan Mgr. N. Geise OFM, yang pada waktu itu menjabat Prefektur Apostolik Sukabumi, gagasan tersebut mulai diwujudkan.

Pada 8 Desember 1950, tiga gadis Jawa memberanikan diri memasuki cara hidup para suster Santo Fransiskus. Mereka menjadi pelopor bagi generasi berikutnya. Dua di antara mereka kemudian dikenal sebagai Sr. M. Lidwina SFS dan Sr. M. Gerarda SFS. Angkatan pertama menyelesaikan pendidikan pada tahun 1953. Setelah itu, angkatan demi angkatan menyusul sehingga kehidupan religius Fransiskan berkembang semakin subur di bumi Pasundan. Kehadiran para suster pribumi menjadi jawaban bagi keberlanjutan karya. Satu demi satu suster dari Belanda kembali ke negeri asal, sementara satu demi satu pula suster pribumi tampil untuk melanjutkan karya yang telah dirintis.

Suster Pembimbing dan Postulan Pertama (Sr. Gerarda SFS dan Sr. Lidwina SFS)


Perkembangan pendidikan calon suster tersebut kemudian dikenang sebagai pembukaan Novisiat St. Bonaventura di Sukabumi pada 8 Desember 1951. Para calon dipersiapkan untuk menjadi pribadi religius yang tangguh. Dua calon pertama yang disebut dalam profil adalah Lidwina Suharti dan Agnes Aminatun. Mereka menerima busana biara pada 16 September 1952 dan mengucapkan profesi sementara pada 17 September 1954. Sejak saat itu, para calon dari berbagai daerah di Indonesia terus menyusul dan menjadi bagian dari perkembangan SFS.

 

Dari Warisan Peniten-Rekolektin Menuju Kongregasi SFS

Pertumbuhan anggota pribumi semakin memperkuat kehidupan Kongregasi di Indonesia. SFS mewarisi semangat Suster-suster Peniten Recollectinen St. Catharina Bergen op Zoom dan menghayati semangat pendiri sebagai jalan untuk mencapai persatuan dengan Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. Dalam perkembangan selanjutnya, Suster-suster Fransiskan Sukabumi menjadi suatu persaudaraan religius yang menghayati panggilan dalam konteks Gereja dan masyarakat Indonesia.

SFS kemudian menjadi Kongregasi mandiri tingkat diosesan. Kemandirian tersebut ditegaskan melalui dekrit Kongregasi Suci dengan nomor Prot. N. DD. 2369–1/95, Roma, 7 Oktober 1995, dan dekrit Keuskupan Bogor dengan nomor 33/Dekrit/SKB/96 tanggal 14 April 1996. Sejak itu, SFS melanjutkan perjalanan sebagai Kongregasi yang berakar pada warisan spiritual pendiri dan pengalaman misioner para pendahulunya, sekaligus mengembangkan karya sesuai kebutuhan Gereja dan masyarakat di Indonesia.

 

Cara Hidup dan Spiritualitas SFS

Cara hidup SFS berakar pada semangat Fransiskan dan diarahkan kepada persatuan dengan Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. Untuk mencapai tujuan tersebut, para suster menghayati doa dan kontemplasi, ulah tapa dan pengendalian diri, pelepasan dari hal-hal duniawi, ketaatan, kerendahan hati, cinta kasih yang melayani, pengorbanan diri, serta semangat kegembiraan Fransiskan. Penghayatan tersebut diwujudkan melalui tiga nasihat Injil, yaitu kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, serta melalui kehidupan persaudaraan.


Hidup persaudaraan menjadi bagian penting dari identitas SFS. Setiap komunitas sekurang-kurangnya terdiri dari tiga anggota yang dipanggil untuk berdoa bersama, membangun kesetaraan, dan mengembangkan komunikasi yang mendalam. Ketaatan diwujudkan dalam kesetiaan kepada Konstitusi, para pemimpin, dan persaudaraan. Kemiskinan atau pelepasan dari hal-hal duniawi dimaknai sebagai sikap lepas bebas sehingga setiap suster siap diutus dan menjalankan perutusan dengan gembira.

Spiritualitas SFS dirumuskan dalam ungkapan: “Menghayati Kasih Yesus Kristus Injili dalam hidup persaudaraan yang ditopang oleh semangat tobat, doa, pelayanan, dan kesederhanaan.” Kasih menjadi dasar karena Allah diimani sebagai kasih. Yesus Kristus menjadi pusat kehidupan dan perutusan. Hidup persaudaraan berpola pada persekutuan Yesus dan kedua belas Rasul, sedangkan pertobatan mendorong para suster untuk terus-menerus memperbarui diri, saling mengampuni, dan menyelamatkan.

Doa menjadi sumber dan roh yang menjiwai seluruh kehidupan serta pelayanan para suster. Ungkapan St. Fransiskus, “Allahku dan semuaku” (Deus meus et omnia), menggambarkan relasi yang mendalam antara manusia dan Allah. Dari kehidupan doa, kontemplasi, Ekaristi, doa bersama, doa pribadi, dan refleksi atas realitas hidup dalam terang Sabda, para suster memperoleh kekuatan untuk menjalankan perutusan.

Pelayanan merupakan wujud nyata kasih. Para suster dipanggil untuk saling melayani dengan gembira dan menjadikan diri sebagai tempat pengungsian bagi mereka yang mengalami kesusahan. Pelayanan dalam komunitas kemudian mengalir keluar melalui berbagai karya kepada masyarakat. Kesederhanaan juga menjadi ciri penting, dengan meneladani Ibu Rosa de Bie dalam sikap lepas bebas terhadap jabatan, barang, harta benda, dan tempat. Kesederhanaan diwujudkan melalui penggunaan fasilitas secara bijaksana, keterbukaan dalam pergaulan, rasa syukur, kerja keras, dan kerelaan berbagi.

 

Perutusan dan Karya Pelayanan SFS

Dalam perjalanan selanjutnya, karya SFS berkembang dalam dua arah, yaitu pelayanan ke dalam dan pelayanan ke luar. Pelayanan ke dalam terutama diarahkan pada pembinaan anggota melalui masa postulan selama 1 (satu) tahun, masa novisiat selama 2 (dua tahun), masa yuniorat selama 6 (enam) sampai 9 (sembilan) tahun, serta bina lanjut. Pembinaan ini bertujuan membantu para anggota bertumbuh dalam kehidupan religius dan semakin matang dalam menghayati panggilan serta perutusannya.

 

Pelayanan ke luar dilaksanakan dalam berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan, SFS berkarya melalui TK, SD, SMP, dan SMA di sejumlah tempat, antara lain di Jawa Barat (Sukabumi, Cipanas, Bogor, Cibinong) dan Jawa Tengah (Sragen, Gubug). Dalam bidang kesehatan, Kongregasi melayani melalui rumah sakit dan Klinik, Rumah bersalin (Sragen, Wirosari – Jawa Tengah dan Sukabumi, Sindanglaya, Cibinong – Jawa Barat).

Di bidang sosial, SFS memiliki karya pelayanan bagi lanjut usia melalui Rumah Lanjut Usia atau Panti Wreda yang bertempat di Sukabumi – Jawa Barat. Dalam bidang pastoral, Kongregasi berkarya melalui Rumah Retret St. Lidwina di Sukabumi dan pelayanan pastoral paroki. SFS juga terlibat dalam karya Keuskupan di Palangka Raya dan Samarinda, meliputi pendidikan, pastoral, asrama, dan tugas-tugas lainnya sesuai kebutuhan. Selain itu terdapat kerja sama dengan OFM dalam pelayanan Asrama Putri dan dapur umum Panti Asuhan St. Yusuf Sindanglaya, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat serta pendampingan retret persiapan kaul kekal. Kerja sama juga dilakukan dalam Rumpun Theresia Saelmaekers (FCh, SFS, KSFL, dan FSE) dengan Keuskupan Padang melalui Komunitas Maria Mater Die Tuapejat Mentawai dalam bidang pendidikan dan pastoral.

 

Identitas, Motto, dan Arah Perjalanan SFS

Seluruh perjalanan sejarah SFS memperlihatkan kesinambungan antara warisan spiritual pendiri, pengalaman misioner, pertumbuhan kehidupan religius pribumi, dan pelayanan kepada masyarakat. Dari keberanian enam misionaris yang meninggalkan Belanda pada tahun 1933, pelayanan kesehatan di Sukabumi, masa penderitaan dalam kamp tawanan, pembangunan kembali karya setelah perang, hingga lahir dan berkembangnya para suster pribumi, sejarah SFS merupakan kisah tentang iman, pengorbanan, ketekunan, dan kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi.

Motto SFS, “Tempat Pengungsian bagi yang Menderita”, merangkum arah pelayanan dan spiritualitas Kongregasi. Motto tersebut tidak hanya menjadi semboyan, tetapi juga menjadi panggilan untuk menghadirkan kasih Allah secara nyata bagi mereka yang lemah, miskin, sakit, terlantar, dan mengalami penderitaan. Dalam semangat Fransiskan, para suster dipanggil untuk hidup sederhana, membangun persaudaraan, bertobat terus-menerus, berdoa, dan melayani dengan sukacita.

Dengan demikian, sejarah Suster-suster Fransiskan Sukabumi tidak dapat dipisahkan dari sejarah misi Peniten-Rekolektin Bergen op Zoom di Indonesia. Benih yang ditanam melalui pengorbanan para misionaris kemudian bertumbuh menjadi sebuah Kongregasi yang mandiri di tingkat diosesan dan berakar kuat di Indonesia. Kehadiran para suster pribumi menjadi tanda keberlanjutan karya tersebut. Dari generasi ke generasi, SFS terus dipanggil untuk menghayati kasih Yesus Kristus Injili dalam hidup persaudaraan serta mewujudkannya melalui doa, pertobatan, pelayanan, kesederhanaan melalui pendidikan, kesehatan, sosial, dan pastoral.

 

Sr. M. Emilia SFS

 

 

 


 

Medior SFS

Para Suster SFS dan Postulan SFS


Profesi Kekal 

Profesi Sementara

 

Postulan SFS menggunakan pakaian daerah (Nias dan Tanimbar) sebelum menerima jubah biara
sebagai Novis SFS

 

Ibu Rosa de Bie
Pendiri Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS)



Jumat, 18 September 2026

25 dan 40 Tahun Setia: Bersyukur dalam Setiap Perjalanan Panggilan

Sukabumi, 17 September 2026 — Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, 25 bahkan 40 tahun telah dilalui dalam perjalanan panggilan hidup religius sebagai Suster Fransiskan Sukabumi (SFS). Kamis, 17 September 2026, menjadi hari penuh syukur bagi tujuh saudari SFS yang merayakan perjalanan profesi religius mereka.

Mereka yang merayakan 25 tahun profesi religius adalah Sr. Bonifasia SFS, Sr. Yuliana SFS, dan Sr. Olga SFS. Sementara itu, Sr. Elisabeth SFS, Sr. Clementine SFS, Sr. Rosita SFS, dan Sr. Patricia SFS merayakan 40 tahun profesi religius.

Perayaan syukur berlangsung di Kapel St. Fransiskus Asisi, Biara Pusat Suster Fransiskan Sukabumi, pada pukul 10.00 WIB. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikaris Keuskupan Bogor, RD Yohanes Driyanto, Pr, bersama belasan imam konselebran. Suasana perayaan semakin meriah dengan koor dari SMA Mardi Waluya Cibinong.

 

Setia di Tengah Perjalanan

Dalam kotbahnya, disampaikan sebuah kenyataan sederhana yang sering terlupakan: waktu berjalan cepat dan kehidupan tidak pernah benar-benar bebas dari penderitaan.

Dua puluh lima dan empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada begitu banyak pengalaman yang telah dilewati: sukacita, keberhasilan, kegagalan, harapan yang terpenuhi, bahkan harapan yang ternyata berjalan tidak sesuai dengan keinginan.

Dalam perjalanan hidup, banyak hal yang dicita-citakan ternyata tidak terjadi. Perbuatan baik pun belum tentu langsung mendapat balasan yang baik. Bahkan, ada kalanya kita berhadapan dengan orang atau situasi yang sengaja membuat kita kecewa dan menderita.

Itulah kenyataan hidup. Tidak ada kehidupan yang benar-benar bersih dari penderitaan.

Bahkan usia pun terus berjalan. Kita semua pada akhirnya akan menjadi tua. Namun, seperti candaan sederhana yang disampaikan dalam kotbah, “Belum tentu tua akan duluan.” Sebuah humor ringan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa hidup adalah anugerah yang tidak pernah kita tahu sampai kapan diberikan.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apa yang sudah saya dapatkan selama hidup?” Apakah kekayaan? Ketenaran? Pujian? Jabatan?

Pada akhirnya, semua itu akan berlalu.

Setelah puluhan tahun menjalani panggilan, seseorang bisa saja bertanya, “Saya sudah berjuang sekian lama, lalu apa yang saya dapatkan?” Namun iman mengajak untuk melihat pertanyaan itu dari sisi yang berbeda: bukan terutama tentang apa yang telah diperoleh, tetapi tentang apakah kita tetap setia.

Paulus mengingatkan agar iman kita tidak menjadi lemah. Kita dipanggil untuk tetap bertahan dan setia karena ada janji Tuhan: kehidupan baru dan kehidupan kekal.

 

Bukan Dipanggil untuk Sukses, tetapi untuk Setia

Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa mengikuti-Nya berarti hidup tanpa penderitaan. Yesus justru berkata, “Pikullah salibmu dan ikutlah Aku.”

Mengikuti Yesus berarti belajar berpikir seperti Yesus, bersikap seperti Yesus, dan berusaha melakukan apa yang dilakukan Yesus. Ada saatnya kita harus menyangkal diri, berkata “tidak” terhadap keinginan sendiri, dan tetap berjalan meskipun jalan yang dilalui tidak selalu mudah.

Karena itu, panggilan hidup religius bukan pertama-tama tentang mencari kesuksesan, ketenaran, kekayaan, atau jabatan.

Panggilan adalah tentang kesetiaan.

Pesan ini mengingatkan pada kesaksian hidup Santa Teresa dari Kalkuta: kita tidak dipanggil untuk menjadi sukses, tetapi untuk menjadi setia.

Kesetiaan itulah yang menjadi warna perjalanan tujuh saudari SFS yang hari ini merayakan 25 dan 40 tahun profesi religius. Tahun-tahun yang panjang itu tidak selalu berisi peristiwa yang menyenangkan. Namun justru melalui berbagai pengalaman, Tuhan membentuk, menguatkan, dan memurnikan perjalanan panggilan mereka.

 

“Bahwasanya Tuhan itu baik”

Semangat syukur tersebut sejalan dengan Mazmur 100:5: “Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”

Setelah 25 dan 40 tahun, yang dirayakan bukan hanya lamanya waktu, tetapi terutama kebaikan dan kesetiaan Tuhan.

Ada begitu banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan rencana manusia. Ada doa yang belum terjawab seperti yang diharapkan. Ada pengalaman yang mungkin pernah menyakitkan. Ada tugas yang berat dan perjalanan yang tidak selalu mudah.

Namun, ketika melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, ada satu hal yang tetap: Tuhan setia.

Perayaan ini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa setiap pengalaman bahkan pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menjadi bagian dari cara Tuhan membentuk pribadi dan mempersiapkan seseorang untuk menjalankan perutusan yang dipercayakan kepadanya.

 

Syukur yang Dirayakan Bersama

Usai Perayaan Ekaristi, para suster, imam, keluarga, sahabat, dan tamu undangan melakukan perarakan menuju Rumah Retret St. Lidwina sebagai tempat resepsi. Perarakan semakin semarak dengan tarian yang dibawakan oleh Postulan SFS, diiringi musik dan lagu Songke Manggarai.

Setibanya di ruang resepsi, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan ucapan selamat kepada para pestawati. Sukacita semakin terasa melalui berbagai hiburan yang dipersembahkan oleh para suster, karyawan Biara Pusat, serta Bianka (Siswa SD Mardi Waluya Sukabumi).

Pesta syukur kemudian ditutup dengan tarian bersama para suster dan para tamu undangan. Semua larut dalam kegembiraan sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panjang yang telah Tuhan sertai.

Dua puluh lima dan empat puluh tahun akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi sebuah kesaksian bahwa perjalanan panggilan memiliki cerita, perjuangan, air mata, sukacita, dan banyak kejutan.

Namun di atas semuanya itu, ada satu keyakinan yang tetap menjadi dasar:

Tuhan itu baik. Kasih setia-Nya tidak pernah berakhir.

Dan setelah 25 atau 40 tahun, perjalanan itu belum selesai. Masih ada perutusan yang dipercayakan, masih ada langkah yang harus dijalani, dan masih ada kesempatan untuk terus mengatakan dalam hati:

“Tuhan, terima kasih karena Engkau tetap setia.”


Proficat Para Suster.....



_EmiliaSFS_














 

Rabu, 26 Agustus 2026

“MUDA BERARTI BUKAN BEBAS MENGABAIKAN”

Kadang yang membuat hati lelah bukan karena seseorang tidak bisa menjawab, tetapi karena kita merasa tidak dianggap ada.
Ada kalanya kita bertanya kepada seseorang yang lebih muda. Pertanyaannya sederhana, tidak sulit, bahkan mungkin hanya membutuhkan satu kalimat jawaban. Namun bukannya menjawab, ia tetap sibuk dengan kegiatannya. Berbicara dengan orang lain, tertawa, bernyanyi, atau terus melakukan apa yang sedang dikerjakannya. Seolah-olah pertanyaan tadi hanya angin lewat.
Awalnya mungkin kita berpikir, “Mungkin dia tidak mendengar.”
Kita bertanya lagi. Tetap tidak ada jawaban.
Lalu muncul pikiran lain, “Mungkin dia sedang sibuk.”
Kita mencoba memahami.
Tetapi ketika hal itu terjadi berulang kali, yang terasa bukan lagi soal sibuk atau tidak sibuk. Ada rasa kecil yang muncul di dalam hati: “Apakah saya memang tidak pantas untuk dijawab?”
Padahal menghargai orang lain sebenarnya tidak membutuhkan banyak hal. Tidak harus selalu setuju. Tidak harus selalu punya jawaban yang menyenangkan. Bahkan tidak harus menghentikan semua aktivitas.
Cukup menoleh sebentar dan berkata,
“Sebentar ya.”
atau
“Maaf, saya sedang sibuk.”
Sederhana. Tetapi dari hal sederhana itu, seseorang tahu bahwa dirinya dilihat dan dihargai.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika usia muda membuat seseorang merasa bahwa dirinya bebas melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan perasaan orang di sekitarnya. Seakan-akan kesibukan, teman, handphone, obrolan, atau kesenangannya jauh lebih penting daripada orang yang sedang berbicara dengannya.
Mungkin kita tidak perlu marah. Tidak perlu membalas dengan sikap yang sama. Cukup menyimpan satu pelajaran dalam hati:
Kita semua pernah menjadi yang muda, dan suatu hari kita juga akan menjadi yang lebih tua.
Karena itu, sopan santun bukan tentang siapa yang lebih tua atau lebih muda. Bukan pula tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Sopan santun adalah tentang menyadari bahwa orang lain juga punya hati dan layak dihargai.
Dan terkadang, diamnya seseorang yang merasa tidak dihargai bukan berarti ia tidak peduli.
Bisa jadi, ia hanya sedang belajar untuk tidak memaksakan keberadaannya kepada orang yang memang tidak menganggapnya ada.

_Emiliasfs_

Sabtu, 22 Agustus 2026

Sr. M. Clara SFS Mengikrarkan Profesi Kekal, Menyerahkan Diri Seutuhnya kepada Tuhan

Sukabumi, 19 Agustus 2026 — Suasana penuh syukur dan sukacita menyelimuti Kapel St. Fransiskus Asisi, Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS), pada Rabu, 19 Agustus 2026. Pukul 10.00 WIB, para suster, keluarga, dan undangan berkumpul untuk merayakan profesi kekal Sr. M. Clara SFS, sebuah peristiwa penting dalam perjalanan panggilannya sebagai seorang religius.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, Mgr. Christophorus Tri Harsono, Pr., didampingi oleh 5 orang imam konselebran dan seorang diakon. Perayaan berlangsung khidmat, namun sekaligus terasa hangat karena dihadiri oleh para suster SFS, keluarga Sr. Clara, serta para undangan yang datang untuk memberikan dukungan dan doa.

Profesi kekal menjadi tanda bahwa Sr. M. Clara memilih untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Momen penting dalam perayaan ini ditandai dengan pengucapan janji selibat seumur hidup di hadapan Uskup dan Gereja melalui Pelayan Umum Persaudaraan SFS. Selanjutnya, Sr. Clara menerima cincin sebagai lambang penyerahan diri secara total kepada Tuhan dan kesediaannya untuk setia sepanjang hidup dalam panggilannya.

“Aku Akan Mengikuti Engkau ke Mana pun Engkau Pergi”

Dalam homilinya, Mgr. Christophorus mengajak Sr. Clara dan seluruh umat untuk merenungkan perkataan, “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.”

Menurut Uskup, mengikuti Tuhan bukan sekadar sebuah kata atau janji yang diucapkan, tetapi membutuhkan keberanian, keteguhan hati, dan kesetiaan untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Uskup juga mengingatkan umat tentang pentingnya menjaga niat dan perkataan. Fitnah, katanya, merupakan kejahatan yang sudah diniatkan. Demikian pula dengan kebohongan. Satu kebohongan dapat melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya hingga akhirnya menjadi rangkaian dusta yang sulit dihentikan.

Karena itu, setiap niat sekecil apa pun perlu dijaga dengan baik. Dari niat lahirlah harapan, dari harapan lahirlah janji, dan janji harus dipertahankan dengan kesetiaan. “Need berani,” demikian pesan yang ditekankan dalam homili, mengikuti Tuhan membutuhkan keberanian untuk tetap bertahan dalam berbagai keadaan.

Uskup juga mengajak umat untuk menata kehidupan dengan bijaksana: hati perlu dirasionalisasikan dan otak perlu dispiritualisasikan. Dengan demikian, keputusan tidak hanya didasarkan pada perasaan atau logika semata, tetapi juga pada iman dan kebijaksanaan.

Ia mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan cara yang tidak baik pada akhirnya akan membawa kerugian. Apa yang tidak baik akan berujung pada kebuntuan, kerugian, bahkan kematian.

Menjadi "Gembala" yang Baik

Dalam homilinya, Mgr. Christophorus juga mengajak umat untuk belajar dari sosok gembala yang baik. Seorang gembala tidak meninggalkan dombanya ketika menghadapi kesulitan. Ia tetap hadir, mengenal, melindungi, dan merawat domba-dombanya.

Ada enam sikap gembala yang baik yang ditekankan dalam homili:

  1. Siap berkorban dan membawa keselamatan. Gembala yang baik tidak lari ketika menghadapi kesulitan, tetapi tetap setia dan hadir.

  2. Mengenal pribadi dombanya. Ia mau mendengarkan keluhan, protes, kata-kata kasar, bahkan fitnah yang mungkin ditujukan kepadanya.

  3. Memberikan perlindungan dari bahaya. Gembala selalu hadir dalam berbagai situasi, bukan melarikan diri atau menyalahkan orang lain.

  4. Membimbing ke arah yang benar. Gembala membantu domba menemukan jalan yang baik dan benar.

  5. Melayani dan memelihara dengan tulus. Pelayanan dilakukan dengan ikhlas, bukan karena terpaksa dan bukan pula dengan perhitungan untung-rugi.

  6. Mengajar melalui keteladanan. Salah satu teladan penting yang harus diberikan adalah kemampuan untuk mengampuni.

Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi Sr. Clara yang kini memasuki tahap baru dalam perjalanan hidup membiara dan seluruh hadirin yang hadir. Profesi kekal bukan hanya tentang menjadi milik Tuhan, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir dan melayani sesama dengan kasih.

Mengikuti Tuhan Tanpa Menoleh ke Belakang

Mengikuti Tuhan ke mana pun Ia pergi juga berarti berani meninggalkan berbagai keterikatan duniawi. Uskup mengingatkan bahwa seorang yang sungguh mengikuti Tuhan tidak hidup dengan pamrih, ambisi pribadi, atau mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.

Teladan St. Fransiskus Asisi menjadi inspirasi. Fransiskus yang berasal dari keluarga berada justru memilih jalan kemiskinan, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Kekayaan tidak menjadi tujuan hidupnya karena ia menemukan kekayaan yang lebih besar dalam Tuhan dan pelayanan kepada sesama.

Karena itu, mengikuti Tuhan berarti tidak terus-menerus menoleh ke belakang. Ada saatnya seseorang harus berani meninggalkan keterikatan pada keduniawian secara total dan melangkah maju dalam panggilan yang telah dipilih.

Namun, perjalanan mengikuti Tuhan bukan hanya untuk diri sendiri. Orang yang mengikuti Tuhan dipanggil untuk mewartakan dan membagikan keselamatan kepada sesama, menghadirkan pengampunan, mengajak orang untuk bertobat, serta menjadi tanda kasih Tuhan di tengah kehidupan.

Pesan ini menjadi bekal bagi Sr. Clara dalam menjalani profesi kekalnya: tetap setia, berani, rendah hati, melayani dengan tulus, dan terus menghadirkan kasih serta keselamatan bagi orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Sukacita Bersama Keluarga dan Persaudaraan SFS

Setelah perayaan Ekaristi selesai, suasana sukacita berlanjut dengan sesi foto bersama para konselebran dan selebran, para suster SFS, serta keluarga Sr. Clara. Sr. Clara kemudian menerima ucapan selamat dari para Suster dan tamu undangan yang hadir di depan kapel.

Kebersamaan semakin terasa dalam acara ramah tamah. Para postulan, novis, dan yunior SFS turut memeriahkan suasana dengan beberapa pertunjukan hiburan. Keluarga dan para hadirin juga ikut mengambil bagian melalui karaoke dan berjoget bersama.

Tawa, senyum, dan kebersamaan menghiasi acara tersebut. Perayaan profesi kekal Sr. M. Clara tidak hanya menjadi sebuah peristiwa liturgis, tetapi juga menjadi perayaan iman, panggilan, persaudaraan, dan ucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Dengan profesi kekal yang telah diikrarkan, Sr. M. Clara SFS melangkah dalam perjalanan panggilannya dengan satu tekad: “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Sebuah janji yang kini bukan hanya diucapkan, tetapi hendak diwujudkan dalam kesetiaan, pelayanan, pengorbanan, dan kasih sepanjang hidup.

Selamat menempuh perjalanan profesi kekal, Sr. M. Clara SFS. Semoga Tuhan selalu menguatkan langkah, meneguhkan panggilan, dan menjadikan hidupmu berkat bagi Gereja, Persaudaraan SFS, keluarga, dan sesama.

KEKAL ABADI KASIH SETIANYA


_Sr. M. Emilia SFS

Mohon doa restu dari Orang tua (Ibu dan Saudara kembarnya)

Penerimaan Cincin sebagai penyerahan diri secara total kepada Tuhan


Bersama Uskup, para Imam, dan Diakon

Link. Live streaming Perayaan Ekaristi Profesi Kekal Sr. M. Clara SFS



MENJADI SUSTER FRANSISKAN SUKABUMI (SFS) “Sebuah perjalanan cinta, panggilan, dan pengabdian”

Sr. Sylvana SFS & Sr. Paskalia SFS Pernahkah kamu bertanya dalam hati, “Tuhan, apa rencana-Mu untuk hidupku?” Mungkin kamu memiliki bany...