Sukabumi, 17
September 2026 —
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, 25 bahkan 40 tahun telah dilalui
dalam perjalanan panggilan hidup religius sebagai Suster Fransiskan Sukabumi
(SFS). Kamis, 17 September 2026, menjadi hari penuh syukur bagi tujuh saudari
SFS yang merayakan perjalanan profesi religius mereka.
Mereka
yang merayakan 25 tahun profesi religius adalah Sr. Bonifasia SFS, Sr. Yuliana
SFS, dan Sr. Olga SFS. Sementara itu, Sr. Elisabeth SFS, Sr. Clementine SFS,
Sr. Rosita SFS, dan Sr. Patricia SFS merayakan 40 tahun profesi religius.
Perayaan
syukur berlangsung di Kapel St. Fransiskus Asisi, Biara Pusat Suster Fransiskan
Sukabumi, pada pukul 10.00 WIB. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikaris
Keuskupan Bogor, RD Yohanes Driyanto, Pr, bersama belasan imam konselebran.
Suasana perayaan semakin meriah dengan koor dari SMA Mardi Waluya Cibinong.
Setia
di Tengah Perjalanan
Dalam
kotbahnya, disampaikan sebuah kenyataan sederhana yang sering terlupakan: waktu
berjalan cepat dan kehidupan tidak pernah benar-benar bebas dari penderitaan.
Dua
puluh lima dan empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada begitu banyak
pengalaman yang telah dilewati: sukacita, keberhasilan, kegagalan, harapan yang
terpenuhi, bahkan harapan yang ternyata berjalan tidak sesuai dengan keinginan.
Dalam
perjalanan hidup, banyak hal yang dicita-citakan ternyata tidak terjadi.
Perbuatan baik pun belum tentu langsung mendapat balasan yang baik. Bahkan, ada
kalanya kita berhadapan dengan orang atau situasi yang sengaja membuat kita
kecewa dan menderita.
Itulah
kenyataan hidup. Tidak ada kehidupan yang benar-benar bersih dari penderitaan.
Bahkan
usia pun terus berjalan. Kita semua pada akhirnya akan menjadi tua. Namun,
seperti candaan sederhana yang disampaikan dalam kotbah, “Belum tentu tua
akan duluan.” Sebuah humor ringan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa
hidup adalah anugerah yang tidak pernah kita tahu sampai kapan diberikan.
Karena
itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apa yang sudah saya dapatkan selama
hidup?” Apakah kekayaan? Ketenaran? Pujian? Jabatan?
Pada
akhirnya, semua itu akan berlalu.
Setelah
puluhan tahun menjalani panggilan, seseorang bisa saja bertanya, “Saya sudah
berjuang sekian lama, lalu apa yang saya dapatkan?” Namun iman mengajak
untuk melihat pertanyaan itu dari sisi yang berbeda: bukan terutama tentang apa
yang telah diperoleh, tetapi tentang apakah kita tetap setia.
Paulus
mengingatkan agar iman kita tidak menjadi lemah. Kita dipanggil untuk tetap
bertahan dan setia karena ada janji Tuhan: kehidupan baru dan kehidupan kekal.
Bukan
Dipanggil untuk Sukses, tetapi untuk Setia
Yesus
tidak pernah menjanjikan bahwa mengikuti-Nya berarti hidup tanpa penderitaan.
Yesus justru berkata, “Pikullah salibmu dan ikutlah Aku.”
Mengikuti
Yesus berarti belajar berpikir seperti Yesus, bersikap seperti Yesus, dan
berusaha melakukan apa yang dilakukan Yesus. Ada saatnya kita harus menyangkal
diri, berkata “tidak” terhadap keinginan sendiri, dan tetap berjalan meskipun
jalan yang dilalui tidak selalu mudah.
Karena
itu, panggilan hidup religius bukan pertama-tama tentang mencari kesuksesan,
ketenaran, kekayaan, atau jabatan.
Panggilan
adalah tentang kesetiaan.
Pesan
ini mengingatkan pada kesaksian hidup Santa Teresa dari Kalkuta: kita tidak
dipanggil untuk menjadi sukses, tetapi untuk menjadi setia.
Kesetiaan
itulah yang menjadi warna perjalanan tujuh saudari SFS yang hari ini merayakan
25 dan 40 tahun profesi religius. Tahun-tahun yang panjang itu tidak selalu
berisi peristiwa yang menyenangkan. Namun justru melalui berbagai pengalaman,
Tuhan membentuk, menguatkan, dan memurnikan perjalanan panggilan mereka.
“Bahwasanya
Tuhan itu baik”
Semangat
syukur tersebut sejalan dengan Mazmur 100:5: “Sebab Tuhan itu baik, kasih
setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”
Setelah
25 dan 40 tahun, yang dirayakan bukan hanya lamanya waktu, tetapi terutama
kebaikan dan kesetiaan Tuhan.
Ada
begitu banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan rencana manusia. Ada doa
yang belum terjawab seperti yang diharapkan. Ada pengalaman yang mungkin pernah
menyakitkan. Ada tugas yang berat dan perjalanan yang tidak selalu mudah.
Namun,
ketika melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, ada satu hal yang tetap:
Tuhan setia.
Perayaan
ini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa setiap pengalaman bahkan pengalaman
yang tidak menyenangkan dapat menjadi bagian dari cara Tuhan membentuk pribadi
dan mempersiapkan seseorang untuk menjalankan perutusan yang dipercayakan
kepadanya.
Syukur
yang Dirayakan Bersama
Usai
Perayaan Ekaristi, para suster, imam, keluarga, sahabat, dan tamu undangan
melakukan perarakan menuju Rumah Retret St. Lidwina sebagai tempat resepsi.
Perarakan semakin semarak dengan tarian yang dibawakan oleh Postulan SFS,
diiringi musik dan lagu Songke Manggarai.
Setibanya
di ruang resepsi, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan ucapan
selamat kepada para pestawati. Sukacita semakin terasa melalui berbagai hiburan
yang dipersembahkan oleh para suster, karyawan Biara Pusat, serta Bianka (Siswa SD Mardi Waluya Sukabumi).
Pesta
syukur kemudian ditutup dengan tarian bersama para suster dan para tamu
undangan. Semua larut dalam kegembiraan sebagai ungkapan syukur atas perjalanan
panjang yang telah Tuhan sertai.
Dua
puluh lima dan empat puluh tahun akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi
sebuah kesaksian bahwa perjalanan panggilan memiliki cerita, perjuangan, air
mata, sukacita, dan banyak kejutan.
Namun
di atas semuanya itu, ada satu keyakinan yang tetap menjadi dasar:
Tuhan
itu baik. Kasih setia-Nya tidak pernah berakhir.
Dan
setelah 25 atau 40 tahun, perjalanan itu belum selesai. Masih ada perutusan
yang dipercayakan, masih ada langkah yang harus dijalani, dan masih ada
kesempatan untuk terus mengatakan dalam hati:
“Tuhan,
terima kasih karena Engkau tetap setia.”
Proficat Para Suster.....
_EmiliaSFS_







.jpeg)



.png)











