Sabtu, 17 Oktober 2026

Ketika “Sound Horeg” Bertemu dengan Semangat yang Nyaris Mati Suri

Ada sesuatu yang menarik ketika berjumpa dengan orang muda Katolik dan para religius muda Katolik. Mereka membawa warna tersendiri. Ada tawa yang lepas, cerita yang bersahut-sahutan, candaan yang tidak ada habisnya, dan suara yang kadang membuat orang bertanya-tanya, “Ini sedang rapat atau sedang reuni?” Kalau mereka sudah berkumpul, suasananya bisa langsung berubah. Yang tadinya sepi menjadi ramai. Yang tadinya kaku menjadi cair. Yang tadinya hanya ingin membicarakan satu agenda, tiba-tiba melebar ke mana-mana, dari hal serius sampai hal-hal receh yang hanya mereka sendiri yang mengerti. Saking ramainya, sampai-sampai muncul istilah yang cukup menggelitik: kalau orang-orang muda ini bertemu, pasti ada “sound horeg”-nya! Bukan karena mereka membawa pengeras suara ke mana-mana, melainkan karena energi, tawa, dan suara mereka seolah-olah mampu menghidupkan seluruh ruangan. Mereka tertawa bersama, saling meledek dengan penuh keakraban, berbicara dengan nada yang bersemangat, dan sesekali membuat orang yang berada di dekat mereka ikut tersenyum, entah karena terhibur atau karena bingung melihat betapa ramainya suasana. Namun, di balik semua keramaian itu, ada hal yang jauh lebih menarik untuk direnungkan.

Semangat yang membara di awal, lalu perlahan meredup

Ketika merencanakan sebuah kegiatan, semangat mereka bisa luar biasa. Ide bermunculan dari berbagai arah. Ada yang mengusulkan konsep acara, ada yang memikirkan desain, ada yang membayangkan suasana kegiatan, ada yang menawarkan cara baru agar kegiatan lebih menarik. Dalam waktu singkat, sebuah rencana sederhana bisa berkembang menjadi gagasan besar yang penuh warna.

“Bagaimana kalau kita buat seperti ini?”

“Wah, bisa banget!”

“Kalau ditambah ini, pasti lebih seru!”

“Gas! Kita kerjakan!”

Kalimat-kalimat seperti itu terasa akrab. Di awal, semuanya tampak mudah dan mungkin. Mata berbinar, percakapan mengalir, dan semangat terasa memenuhi ruangan.

Tetapi, waktu berjalan. Hari berganti minggu. Kesibukan datang silih berganti. Pesan di grup yang awalnya dibalas dalam hitungan detik, perlahan mulai tenggelam. Rencana yang dahulu dibicarakan dengan penuh antusiasme mulai kehilangan gaungnya. Beberapa orang menghilang dari percakapan, sebagian tenggelam dalam aktivitas masing-masing, sementara yang lain mungkin sedang berjuang dengan urusan hidup yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Semangat yang tadinya membara perlahan meredup. Bahkan, ada kalanya terasa seperti sedang mengalami mati suri.

Di titik ini, orang mudah memberikan penilaian.

“Katanya semangat, kok sekarang tidak ada kabar?”

“Katanya mau bekerja bersama, tetapi ke mana semua orang?”

“Jangan-jangan mereka hanya pandai bicara.”

Penilaian seperti itu bisa dimengerti. Sebab, sebuah kegiatan memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ide, tawa, dan seruan “gas!” Dibutuhkan konsistensi, disiplin, komunikasi, dan kesediaan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Namun, sebelum memberikan penilaian, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah semangat yang meredup selalu berarti seseorang tidak peduli? Apakah orang yang tidak selalu terlihat sibuk berarti tidak sedang bekerja?

Sebab, manusia tidak selalu menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang sama.


Mereka mungkin tidak selalu terlihat serius, tetapi jangan salah menilai

Ada orang yang menunjukkan keseriusan dengan wajah tegang, suara tegas, jadwal yang rapi, dan gerak-gerik yang tampak sibuk. Ada pula orang yang tetap bisa tertawa, bercanda, dan terlihat santai, tetapi sesungguhnya menyimpan kemampuan luar biasa ketika tanggung jawab dipercayakan kepadanya.

Orang muda Katolik dan religius muda sering kali memperlihatkan wajah yang kedua ini.

Dari luar, mereka mungkin tampak seperti tidak sedang bekerja. Ketika berkumpul, yang terdengar justru tawa. Ketika bertemu, yang terlihat justru canda. Ketika berdiskusi, percakapan mereka kadang begitu ramai sampai sulit membedakan mana ide, mana lelucon, dan mana rencana yang sungguh-sungguh akan dikerjakan.

Bagi sebagian orang, gaya seperti ini bisa dianggap tidak serius. Mereka dinilai terlalu santai, kurang formal, kurang disiplin, atau bahkan kurang bertanggung jawab.

Namun, pengalaman bekerja bersama mereka bisa menghadirkan kejutan.

Ketika sebuah tugas benar-benar dipercayakan, mereka mampu menunjukkan hasil yang mengagumkan. Ada kreativitas yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ada ide-ide segar yang menjawab kebutuhan zaman. Ada keberanian mencoba sesuatu yang baru. Ada kemampuan memanfaatkan teknologi, membangun komunikasi, mengemas pesan, dan menciptakan kegiatan yang dekat dengan kehidupan orang muda.

Mereka mungkin tidak selalu bekerja dengan cara yang kita bayangkan. Mereka tidak selalu memperlihatkan kesibukan sebagai bukti produktivitas. Tetapi, ketika diminta menunjukkan hasil, sering kali mereka datang dengan sesuatu yang melampaui perkiraan.

Di situlah kita belajar bahwa keseriusan tidak selalu harus berwajah tegang, dan kreativitas tidak selalu lahir dari suasana yang kaku.

Tentu saja, ini bukan berarti keterlambatan, hilangnya komunikasi, atau tanggung jawab yang terbengkalai harus dimaklumi begitu saja. Orang muda pun perlu belajar menepati komitmen, mengelola waktu, dan menyelesaikan tugas. Kepercayaan harus dijawab dengan tanggung jawab.

Namun, tanggung jawab juga tidak boleh diukur hanya dari penampilan, gaya bicara, atau seberapa sering seseorang terlihat sibuk.

Ada baiknya kita belajar menilai mereka dari proses, komitmen, dan hasil nyata, bukan sekadar dari kesan pertama.


Generasi yang berbeda, cara bekerja yang berbeda

Generasi milenial dan Generasi Z kini cukup dominan dalam berbagai kegiatan pelayanan. Mereka hadir dengan pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir yang tidak selalu sama dengan generasi sebelumnya.

Mereka akrab dengan dunia digital. Mereka senang berkolaborasi, menyukai ruang untuk berkreasi, dan ingin mengetahui alasan di balik sesuatu yang mereka kerjakan. Mereka cenderung lebih bersemangat ketika diberi kesempatan untuk terlibat secara nyata, menyampaikan gagasan, mencoba pendekatan baru, dan merasa bahwa kehadiran mereka sungguh berarti.

Mereka tidak selalu nyaman jika hanya diminta mengikuti instruksi tanpa memahami tujuan. Mereka ingin menjadi bagian dari proses, bukan sekadar pelaksana keputusan yang sudah dibuat orang lain.

Bagi sebagian generasi yang lebih senior, cara seperti ini mungkin terasa merepotkan. Ada yang berharap orang muda lebih patuh, lebih tenang, lebih teratur, dan tidak terlalu banyak bertanya.

Sementara itu, orang muda mungkin berharap diberi kepercayaan, ruang berekspresi, dan kesempatan untuk belajar tanpa terus-menerus dicurigai.

Di antara kedua harapan itu, sebenarnya ada kesempatan yang besar untuk saling memperkaya.

Generasi senior memiliki pengalaman, kebijaksanaan, ketekunan, dan kemampuan melihat risiko. Generasi muda membawa energi, kreativitas, keberanian mencoba, dan kepekaan terhadap perubahan zaman.

Bayangkan apa yang bisa terjadi jika keduanya tidak sibuk mempertahankan cara masing-masing, tetapi bersedia duduk bersama, mendengarkan, dan belajar satu sama lain.

Pengalaman tanpa keterbukaan bisa berubah menjadi kekakuan. Kreativitas tanpa ketekunan bisa berhenti sebagai gagasan. Namun, ketika pengalaman bertemu kreativitas, dan kebijaksanaan bertemu keberanian, pelayanan dapat menemukan cara-cara baru untuk bertumbuh.

Yang dibutuhkan bukan generasi yang saling mengalahkan, melainkan generasi yang saling melengkapi.

 

Ketika sukacita dianggap ancaman

Ada satu hal yang lebih menyedihkan daripada semangat yang meredup, yaitu ketika semangat seseorang justru dipadamkan oleh orang lain.

Kadang-kadang, bukan karena orang muda tidak mampu bekerja. Bukan pula karena mereka tidak memiliki gagasan. Mereka justru mampu menghasilkan sesuatu yang baik, membangun suasana yang hidup, dan menggerakkan orang lain.

Namun, kehadiran mereka tidak selalu diterima dengan lapang hati.

Ada yang merasa terganggu dengan keramaian mereka. Ada yang menganggap kreativitas mereka terlalu berbeda. Ada yang merasa cara kerja mereka tidak sesuai dengan kebiasaan yang selama ini berlaku. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan muncul rasa iri ketika orang muda mendapat kepercayaan, ketika gagasannya diterima, atau ketika hasil kerjanya mendapat apresiasi.

Dari sana, kritik yang semula dimaksudkan untuk memperbaiki bisa berubah menjadi upaya mengecilkan. Perbedaan pendapat berubah menjadi persoalan pribadi. Ruang belajar berubah menjadi ruang penghakiman.

Perlahan-lahan, orang muda yang semula berani berbicara mulai memilih diam. Mereka yang dahulu penuh gagasan mulai menyimpan ide untuk dirinya sendiri. Mereka yang biasanya datang dengan tawa mulai merasa canggung. Mereka yang dahulu berkata, “Gas, kita kerjakan!” mulai bertanya dalam hati, “Untuk apa berusaha kalau akhirnya selalu dianggap salah?”

Dan yang paling menyakitkan adalah ketika mereka tidak lagi diberi ruang untuk bertumbuh. Mereka disisihkan, disingkirkan, atau secara halus dibuat merasa bahwa mereka tidak lagi diinginkan.

Seolah-olah, satu-satunya cara untuk menjadi bagian dari komunitas adalah dengan menyesuaikan diri sepenuhnya pada cara berpikir orang-orang yang sudah lebih dahulu berada di dalamnya.

Padahal, komunitas yang sehat bukanlah komunitas yang membuat semua orang berpikir, berbicara, dan bertindak dengan cara yang sama. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.

Tentu, tidak semua kritik adalah bentuk iri hati, dan tidak setiap konflik berarti seseorang sedang menjatuhkan orang lain. Kritik yang jujur tetap dibutuhkan. Evaluasi tetap penting. Perilaku yang merugikan komunitas juga harus dibicarakan dengan terbuka.

Namun, kita perlu berani membedakan antara mengoreksi dan merendahkan, antara mendampingi dan mengendalikan, antara menegakkan tanggung jawab dan menutup kesempatan seseorang untuk berkembang.

Jika memang ada yang perlu diperbaiki, sampaikanlah dengan jelas. Jika ada tanggung jawab yang tidak dijalankan, bicarakanlah secara adil. Jika ada perbedaan cara kerja, carilah jalan tengah.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengoreksi cara orang muda tertawa sampai lupa melihat apa yang sebenarnya bisa mereka kerjakan.

Jangan sampai kita begitu terganggu dengan suara mereka sampai tidak lagi mendengar isi gagasan mereka.

Dan jangan sampai kita begitu ingin menjaga keteraturan sampai tanpa sadar mematikan kehidupan di dalam komunitas sendiri.

 

Bekerja bersama bukan berarti harus selalu sama

Bekerja bersama orang muda Katolik dan religius muda Katolik mengajarkan bahwa kolaborasi tidak cukup dibangun hanya dengan membagi tugas dan menetapkan tenggat waktu. Kolaborasi juga membutuhkan kepercayaan, komunikasi, kesabaran, dan kesediaan untuk memahami cara kerja satu sama lain.

Orang muda perlu belajar bahwa antusiasme pada awal kegiatan harus diterjemahkan menjadi komitmen yang nyata. Ide yang bagus perlu ditindaklanjuti. Janji perlu ditepati. Tugas perlu diselesaikan. Jika ada kendala, komunikasi harus tetap dijaga.

Sebaliknya, mereka yang menjadi pemimpin, pendamping, atau rekan kerja juga perlu belajar memberikan ruang. Jangan setiap kali orang muda tertawa langsung dianggap tidak serius. Jangan setiap kali mereka menyampaikan gagasan yang berbeda langsung dicurigai. Jangan menuntut kedewasaan dari mereka, tetapi menutup kesempatan yang memungkinkan mereka belajar menjadi dewasa.

Kepercayaan bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Kepercayaan berarti memberikan tanggung jawab dengan tujuan yang jelas, batas waktu yang disepakati, dukungan yang memadai, serta ruang untuk berinisiatif.

Pendampingan bukan berarti mengatur setiap langkah. Pendampingan berarti berjalan bersama, membantu ketika mereka mengalami kesulitan, memberikan koreksi ketika diperlukan, dan tetap menghargai martabat mereka ketika terjadi kesalahan.

Sebab, orang muda tidak akan belajar bertanggung jawab jika setiap kesalahan selalu berakhir dengan hukuman sosial. Mereka tidak akan belajar memimpin jika setiap keputusan harus selalu dikendalikan orang lain. Mereka tidak akan berani berkreasi jika setiap gagasan baru disambut dengan kecurigaan.

Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba, tetapi juga membutuhkan pendamping yang bersedia mengingatkan. Mereka membutuhkan kebebasan, tetapi juga membutuhkan batas yang sehat. Mereka membutuhkan apresiasi, tetapi juga membutuhkan evaluasi yang jujur.

Di situlah kerja bersama menjadi proses pendewasaan bagi semua pihak.

Bukan hanya orang muda yang belajar dari generasi senior. Generasi senior pun dapat belajar kembali tentang sukacita, spontanitas, keberanian, dan kesediaan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

 

Gereja tidak hanya membutuhkan suara yang tertib, tetapi juga suara yang hidup

Dalam kehidupan Gereja, kita sering berbicara tentang harapan, regenerasi, keterlibatan orang muda, dan masa depan pelayanan. Kita berharap mereka hadir, mengambil bagian, dan melanjutkan karya yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya.

Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita sungguh-sungguh memberikan ruang bagi mereka untuk hadir sebagai diri mereka sendiri?

Apakah kita hanya menginginkan orang muda yang datang ketika dipanggil, diam ketika diminta, dan mengerjakan segala sesuatu persis seperti yang kita kehendaki?

Ataukah kita juga bersedia menerima orang muda yang penuh pertanyaan, membawa gagasan baru, tertawa dengan lepas, dan memiliki cara kerja yang kadang berbeda dari kebiasaan kita?

Gereja tentu membutuhkan keteraturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Akan tetapi, Gereja juga membutuhkan sukacita, kreativitas, keberanian, dan semangat pembaruan.

Kita tidak bisa mengharapkan Gereja tetap hidup jika orang-orang muda hanya diberi tempat untuk hadir, tetapi tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi.

Kita tidak bisa mengharapkan mereka bertahan dalam pelayanan jika setiap energi yang mereka bawa justru dipandang sebagai gangguan.

Dan kita tidak bisa mengharapkan mereka tumbuh menjadi pemimpin jika ruang untuk belajar memimpin selalu tertutup oleh ketakutan akan kesalahan.

Barangkali, sesekali kita perlu membiarkan ruang pertemuan sedikit lebih ramai. Membiarkan tawa hadir di tengah keseriusan. Memberi kesempatan bagi ide-ide baru untuk diuji. Bahkan, sesekali ikut tertawa ketika istilah “sound horeg” kembali muncul saat mereka berkumpul.

Bukan karena semua hal harus dibuat santai, melainkan karena pelayanan yang baik tidak harus kehilangan kegembiraannya.

Bukankah kita ingin orang muda melayani bukan hanya karena merasa wajib, tetapi karena menemukan makna, persaudaraan, dan sukacita di dalamnya?

 

Jangan sampai kita kehilangan mereka sebelum kehilangan kegembiraan kita

Pada akhirnya, bekerja bersama orang muda mengajarkan kita bahwa setiap generasi memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kehidupan.

Ada yang menunjukkan keseriusan melalui ketenangan. Ada yang menunjukkan kepedulian melalui percakapan panjang. Ada yang mengungkapkan persaudaraan melalui candaan. Ada pula yang baru terlihat kemampuannya ketika sebuah tanggung jawab benar-benar dipercayakan.

Kita tidak harus menyukai semua gaya mereka. Kita tidak harus menyetujui setiap gagasan mereka. Dan mereka pun tidak harus selalu benar.

Namun, kita bisa memilih untuk tidak buru-buru menghakimi.

Kita bisa memilih untuk bertanya sebelum menuduh, mendengarkan sebelum menyimpulkan, dan membimbing sebelum menyingkirkan.

Sebab, mungkin saja di antara orang-orang muda yang hari ini kita anggap terlalu ramai, ada calon pemimpin yang kelak akan menggerakkan banyak orang. Di antara mereka yang tampak santai, ada pribadi kreatif yang mampu menemukan jalan keluar ketika kita kehabisan ide. Di antara mereka yang tertawa paling keras, mungkin ada hati yang paling tulus ingin memberikan sesuatu bagi Gereja.

Tetapi, potensi itu tidak akan selalu tumbuh dengan sendirinya. Ia membutuhkan kepercayaan, pendampingan, kesempatan, dan lingkungan yang membuat seseorang merasa diterima sekaligus ditantang untuk menjadi lebih baik.

Jangan sampai suatu hari kita bertanya, “Ke mana orang-orang muda yang dahulu begitu bersemangat?”

Jangan sampai kita merindukan kreativitas mereka setelah kita sendiri membuat mereka takut untuk berpendapat.

Jangan sampai kita mengeluhkan kurangnya keterlibatan orang muda, padahal tanpa sadar kita telah menutup pintu ketika mereka datang membawa gagasan dan energi.

Dan jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya suara mereka setelah ruangan yang dahulu ramai itu berubah menjadi sunyi.

Karena sesungguhnya, yang perlu kita jaga bukan hanya agar kegiatan berjalan sesuai rencana. Yang juga perlu kita jaga adalah agar orang-orang yang mengerjakannya tetap memiliki hati yang hidup, semangat untuk bertumbuh, dan sukacita dalam melayani.

Biarlah ada tawa, tetapi tetap ada tanggung jawab. Biarlah ada kebebasan, tetapi tetap ada komitmen. Biarlah ada perbedaan, tetapi tetap ada rasa hormat. Dan biarlah ada “sound horeg”, tetapi jangan sampai suara itu menenggelamkan suara hati yang ingin melayani.

Sebab, Gereja tidak hanya membutuhkan orang muda yang mau bekerja. Gereja membutuhkan orang muda yang bertumbuh melalui pekerjaannya, menemukan makna dalam pelayanannya, dan tetap merasa bahwa dirinya diterima di dalam komunitasnya.

Mungkin, itulah salah satu bentuk panggilan kita bersama: bukan sekadar membuat orang muda bertahan di dalam Gereja, melainkan menciptakan Gereja yang membuat mereka ingin terus bertumbuh, berkarya, dan pulang dengan sukacita.

Dan jika suatu hari mereka kembali berkumpul, tertawa lepas, bertukar cerita, lalu membuat ruangan kembali ramai seperti sedang ada “sound horeg”, semoga kita tidak lagi buru-buru bertanya, “Mengapa mereka berisik sekali?”

Melainkan tersenyum dan berkata dalam hati:

“Syukurlah, mereka masih ada. Mereka masih punya semangat. Mereka masih punya tempat untuk pulang. Sekarang, mari kita berjalan bersama dan membantu semangat itu tetap menyala.”

Karena yang paling menyedihkan bukanlah ketika suara orang muda sesekali meredup, melainkan ketika mereka memilih diam selamanya karena merasa tidak lagi memiliki tempat untuk bersuara.


Salam sukacita dan setia

Sr. M. Emilia SFS

 


Rabu, 14 Oktober 2026

MENJADI SUSTER FRANSISKAN SUKABUMI (SFS) “Sebuah perjalanan cinta, panggilan, dan pengabdian”

Sr. Sylvana SFS & Sr. Paskalia SFS

Pernahkah kamu bertanya dalam hati, “Tuhan, apa rencana-Mu untuk hidupku?” Mungkin kamu memiliki banyak impian, ingin melanjutkan pendidikan, berkarya, membangun masa depan, atau melakukan sesuatu yang berarti bagi sesama. Namun, di tengah semua itu, pernahkah terlintas keinginan untuk mengenal Tuhan lebih dekat dan mempersembahkan hidup bagi-Nya? Menjadi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) adalah salah satu jalan untuk menjawab panggilan itu. Sebuah perjalanan untuk mengenal diri, mengenal Tuhan, hidup dalam persaudaraan, serta melayani sesama dengan semangat Santo Fransiskus dari Assisi: sederhana, rendah hati, penuh kasih, dan peduli terhadap keutuhan ciptaan. Menjadi suster bukan berarti harus menjadi orang yang sempurna. Ini adalah perjalanan untuk terus bertumbuh, belajar mencintai, dan menemukan bagaimana Tuhan berkarya dalam hidupmu.

Bagaimana perjalanan menjadi Suster Fransiskan Sukabumi? Yuk, kenali tahap-tahapnya! 

Aspiran SFS
ASPIRAN - Berani Mengenal Panggilan (6–12 bulan) Semuanya bisa dimulai dari rasa ingin tahu, ketertarikan, atau kerinduan kecil dalam hati. Sebagai aspiran, kamu diajak mengenal lebih dekat kehidupan, spiritualitas, dan karya SFS. Di tahap ini, kamu belajar mengenal diri sendiri, membangun relasi dengan Tuhan, dan melihat apakah hidup sebagai seorang suster sungguh menjadi jalan yang ingin kamu tempuh. Belum harus punya semua jawaban. Yang penting, berani mulai mengenal. Masa aspiransi dijalani di komunitas, tempat tugas, atau tempat kerja yang ditentukan. 

POSTULAN - Mengenal Diri, Memantapkan Hati (1 tahun) Setelah menjalani masa aspiran, perjalanan berlanjut ke tahap postulan. Di sini, kamu mendapat pendampingan untuk semakin mengenal dirimu sendiri, kehidupan doa, persaudaraan, dan karya pelayanan Kongregasi SFS. Kamu belajar memahami kelebihan, keterbatasan, harapan, dan motivasimu. Semuanya menjadi bagian dari proses untuk mengambil keputusan secara lebih matang dan bebas. Bukan sekadar ingin menjadi suster, tetapi mulai memahami arti hidup sebagai seorang suster. 

Novis (berbunga dada)
NOVIS — Belajar Menghidupi Semangat Fransiskan (2 tahun) Inilah masa pembinaan yang lebih mendalam untuk mengenal dan menghayati cara hidup SFS. Para novis belajar memperdalam doa, Kitab Suci, spiritualitas Fransiskan, sejarah Kongregasi, hidup persaudaraan, serta makna kaul-kaul religius. Pada tahap ini, kamu juga semakin belajar hidup sederhana, rendah hati, taat, dan siap melayani. Penerimaan jubah biara menjadi salah satu tanda penting dalam perjalanan pembinaan ini. Belajar bukan hanya mengenakan jubah, tetapi juga mengenakan hati yang siap mengasihi dan melayani. 


Yunior SFS
YUNIOR — Bertumbuh dalam Komitmen dan Pelayanan (5–8 tahun) Setelah menyelesaikan masa novisiat dan diterima untuk mengikrarkan profesi pertama, kamu memasuki masa yunior. Pada tahap ini, kamu mengikrarkan kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan, serta mulai menjalani perutusan dengan lebih penuh dalam kehidupan dan karya Kongregasi. Di tengah pengalaman pelayanan nyata, kamu terus belajar, mengevaluasi diri, memperdalam hidup rohani, dan bertumbuh dalam tanggung jawab sebagai seorang suster. Ada pengalaman menyenangkan, tantangan, dan hal-hal baru yang perlu dipelajari. Semuanya menjadi bagian dari proses pendewasaan panggilan. Panggilan tidak berhenti pada janji. Panggilan bertumbuh melalui kesetiaan setiap hari. 

Medior SFS
ANGGOTA DEFINITIF — Setia Seumur Hidup Profesi Kekal Setelah menjalani masa pembinaan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan Kongregasi, seorang suster dapat mengikrarkan profesi kekal. Inilah penyerahan diri secara sukarela dan definitif kepada Tuhan dalam hidup bakti sebagai anggota SFS. Profesi kekal bukan berarti perjalanan belajar telah selesai. Justru, inilah komitmen untuk terus menghidupi panggilan dengan setia, bertanggung jawab dalam persaudaraan, dan melayani Gereja serta sesama dalam semangat kedinaan Fransiskan. Bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena cinta kepada Tuhan terus diperbarui dan dihidupi setiap hari. 

Apakah kamu juga merasakan panggilan itu? 
Mungkin kamu masih bertanya-tanya. Mungkin kamu merasa belum pantas, masih memiliki banyak kekurangan, atau belum yakin dengan masa depanmu. Tidak apa-apa. Kamu tidak harus memahami semuanya sekaligus. Panggilan dapat bertumbuh melalui doa, pengalaman hidup, perjumpaan dengan orang lain, dan keberanian untuk membuka hati. Jika kamu seorang perempuan muda Katolik yang ingin mengenal kehidupan membiara, kamu boleh mulai dengan langkah sederhana: datang, berkenalan, bertanya, dan mengalami kehidupan para Suster Fransiskan Sukabumi (SFS) dari dekat. Kenali semangatnya. Rasakan persaudaraannya. Temukan makna pelayanannya. Berikan dirimu kesempatan untuk mendengarkan suara Tuhan dalam hidupmu.

Tuhan Memanggil, Beranikah Kamu Menjawab? 
Mungkin panggilan itu hadir bukan sebagai suara yang keras, melainkan sebagai kerinduan kecil di dalam hati. Suster Fransiskan Sukabumi — sederhana dalam hidup, setia dalam persaudaraan, dan penuh kasih dalam pelayanan. Mari mengenal SFS lebih dekat dan menapaki perjalanan panggilan bersama.

Jika anda kamu ingin mengenal lebih jauh dan bertanya, bisa menghubungi nomor yg ada di brosur.


_Sr. M. Emilia SFS









Selasa, 06 Oktober 2026

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KONGREGASI SUSTER FRANSISKAN SUKABUMI (SFS)

Para Suster SFS

Identitas dan Akar Sejarah Kongregasi

Suster-suster Fransiskan Sukabumi (SFS) adalah suatu persaudaraan yang terdiri dari pribadi-pribadi yang terdorong oleh panggilan ilahi untuk menghayati dan meneruskan semangat pendiri, Ibu Rosa de Bie. Kongregasi ini berkedudukan di Sukabumi, Jawa Barat, dengan alamat Biara Pusat di Jalan Rumah Sakit No. 3, Kota Sukabumi. Dalam perjalanan sejarahnya, SFS berakar pada Suster-suster Peniten Recollectinen St. Catharina Bergen op Zoom, Nederland, yang didirikan oleh Ibu Rosa de Bie pada 12 Februari 1838. Semangat yang diwariskan oleh pendiri menjadi dasar bagi para suster untuk menghayati panggilan hidup religius dalam persaudaraan, pertobatan, doa, pelayanan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada mereka yang membutuhkan.

Keinginan untuk terlibat dalam karya misi telah tumbuh dalam diri Suster-suster Penitenten-Rekolektin Bergen op Zoom sejak masa kepemimpinan Moeder Margaretha. Mereka mendambakan kesempatan untuk merawat orang-orang sakit di daerah misi. Namun, cita-cita tersebut beberapa kali mengalami hambatan karena keterbatasan tenaga yang cakap dan kesulitan finansial. Pada tahun 1928 muncul tawaran yang lebih konkret melalui pembicaraan mengenai kemungkinan berkarya di daerah misi Bengkulu, tetapi rencana tersebut tidak terlaksana. Semangat misi kembali berkobar ketika pada tahun 1930 Mgr. Pacificus Bos OFMCap. mengunjungi Suster-suster St. Catharina dan berbicara tentang kebutuhan pelayanan di daerah misi. Meskipun demikian, rencana untuk berkarya di Kalimantan juga belum menjadi kenyataan.

 

Jalan Menuju Sukabumi dan Awal Karya Misi

Perjalanan menuju Indonesia mulai memperoleh arah yang lebih jelas pada tahun 1932. Melalui hubungan dengan Pater H. Muller, SY, muncul kemungkinan untuk mengambil alih sebuah rumah sakit di dekat Sukabumi. Pater J. Wubbe, SY, kemudian datang ke St. Catharina bersama Tuan van Mechelen untuk membicarakan kemungkinan mengambil alih rumah sakit milik Kota Praja Sukabumi. Pembicaraan tersebut berkembang secara serius. Pater Wubbe menunjukkan keadaan dan kebutuhan karya di Sukabumi serta mendorong pimpinan Kongregasi agar percaya pada penyelenggaraan ilahi. Walaupun persoalan finansial dan kekurangan tenaga menjadi kekhawatiran besar, semangat misioner para suster kembali tumbuh.

Setelah melalui pertimbangan dan doa, pada 28 Desember 1932 Mgr. P. Hopmans memberikan persetujuan bagi Kongregasi untuk menerima tugas misi tersebut. Hari itu kemudian dikenang sebagai hari yang membahagiakan bagi Kongregasi. Untuk menjalankan tu-gas misi, enam suster dipilih sebagai misionaris pertama, yaitu Sr. Serap-hine Gulickx sebagai overste, Sr. Imelda den Aantrekker, Sr. Augusta Mocke, Sr. Theresina Tax, Sr. Gemma Mertogh, dan Sr. Valentina Uitdewilligen. Pada 19 Maret 1933 mereka menerima salib misi, kemudian berangkat dari Belanda menuju Indonesia.

Enam Misionaris Pertama

Duduk dari kiri ke kanan:

Moeder Seraphine, Sr. Imelda

Berdiri dari kiri ke kanan:

  Sr. Therezina, Sr. Valentine, Sr. Agusta, Sr. Gemma


Pada Kamis Putih, 13 April 1933, para misionaris pertama dari Kongregasi Penitent-Rekolektin Bergen op Zoom tiba di Tanjung Priok. Setelah menyesuaikan diri dan mempelajari kondisi pelayanan kesehatan di Jawa Tengah, mereka melanjutkan perjalanan ke Sukabumi. Pada 1 Mei 1933 mereka tiba di Sukabumi. Karena rumah sakit belum secara resmi diserahkan kepada Misi, para suster untuk sementara tinggal di sebuah rumah yang telah dipersiapkan bagi mereka. Mereka mulai melayani orang-orang sakit di rumah-rumah, mempelajari bahasa Melayu, dan menantikan selesainya proses pengalihan rumah sakit.

Akhirnya, setelah melalui berbagai proses, pada 31 Desember 1933 para suster secara resmi menetap di rumah sakit. Mulai 1 Januari 1934 rumah sakit tersebut berada dalam pengelolaan mereka dan kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit St. Lidwina. Dengan demikian, karya pelayanan kesehatan di Sukabumi menjadi tonggak penting dalam perjalanan kehadiran Kongregasi di Indonesia. Pada masa awal tersebut, para suster melayani pasien dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk pasien pribumi, pasien Eropa, kaum miskin yang memperoleh pelayanan secara cuma-cuma, serta pasien dari bagian penjara.

RS. St. Lidwina Kota Sukabumi
(Sekarang: RSUD Syamsudin Kota Sukabumi)



Pertumbuhan Karya Misi di Sukabumi dan Sekitarnya

Karya di Sukabumi berkembang dengan pesat. Pada tahun 1934, selain pelayanan di Rumah Sakit St. Lidwina, para suster juga membuka poliklinik yang melayani ribuan orang miskin. Perkembangan karya tersebut menunjukkan bahwa kehadiran para suster bukan hanya berkaitan dengan perawatan orang sakit, tetapi juga merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Pada tahun-tahun berikutnya, kebutuhan pelayanan semakin meningkat sehingga Kongregasi mengirimkan tenaga baru dari Bergen op Zoom.

Pada tahun 1936, ketika jumlah suster bertambah, dibuka poliklinik di Sukanegara, Jawa Barat. Karya tersebut berkembang dan memperoleh tanggapan positif dari masyarakat. Kemudian pada tahun 1937 didirikan pula poliklinik di Cibeber. Dengan demikian, pelayanan para suster tidak hanya berpusat di Rumah Sakit St. Lidwina di Sukabumi, tetapi mulai menjangkau masyarakat di wilayah sekitar. Pada tahun 1938, perkembangan karya misi semakin memperlihatkan buah dari semangat pengorbanan para suster. Pada 2 Maret 1939, empat suster lagi tiba di Indonesia untuk membantu karya pelayanan, khususnya menjangkau masyarakat di pedalaman.

 

 

Masa Pendudukan Jepang dan Perubahan Situasi

Perjalanan karya misi kemudian menghadapi masa yang sangat berat ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang mulai berkuasa di Indonesia. Para suster berkebangsaan Belanda turut mengalami penahanan. Pada 28 September 1943 mereka digiring ke kamp tawanan dan selama kurang lebih empat tahun berpindah dari satu tempat ke tempat lain, antara lain Cicurug, Bogor, dan Kramat Jakarta. Masa tersebut menjadi pengalaman penderitaan yang berat, tetapi para suster tetap menjalani keadaan dengan ketabahan dan penyerahan diri.

Perang membawa dampak besar terhadap karya yang telah dirintis. Rumah Sakit di Sukanegara hancur dan karya di Cibeber musnah. Rumah Sakit St. Lidwina di Sukabumi tetap ada, tetapi setelah perang pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Daerah. Ketika para suster keluar dari kamp tawanan dan kembali ke Sukabumi pada tahun 1947, mereka menghadapi situasi yang berbeda. Dengan semangat pelayanan yang sama, mereka membangun kembali karya dan bekerja sama dengan pemerintah untuk tetap menolong orang-orang yang sakit dan menderita.

 

Lahirnya Pendidikan bagi Puteri-Puteri Indonesia

Perubahan penting dalam sejarah Kongregasi terjadi ketika jumlah suster berkebangsaan Belanda semakin menyusut karena sebagian dari mereka telah lanjut usia dan kembali ke negeri asal. Keadaan ini mendorong munculnya pemikiran untuk membuka pendidikan bagi gadis-gadis pribumi agar karya dan semangat Kongregasi dapat diteruskan di Indonesia. Atas dorongan Mgr. N. Geise OFM, yang pada waktu itu menjabat Prefektur Apostolik Sukabumi, gagasan tersebut mulai diwujudkan.

Pada 8 Desember 1950, tiga gadis Jawa memberanikan diri memasuki cara hidup para suster Santo Fransiskus. Mereka menjadi pelopor bagi generasi berikutnya. Dua di antara mereka kemudian dikenal sebagai Sr. M. Lidwina SFS dan Sr. M. Gerarda SFS. Angkatan pertama menyelesaikan pendidikan pada tahun 1953. Setelah itu, angkatan demi angkatan menyusul sehingga kehidupan religius Fransiskan berkembang semakin subur di bumi Pasundan. Kehadiran para suster pribumi menjadi jawaban bagi keberlanjutan karya. Satu demi satu suster dari Belanda kembali ke negeri asal, sementara satu demi satu pula suster pribumi tampil untuk melanjutkan karya yang telah dirintis.

Suster Pembimbing dan Postulan Pertama (Sr. Gerarda SFS dan Sr. Lidwina SFS)


Perkembangan pendidikan calon suster tersebut kemudian dikenang sebagai pembukaan Novisiat St. Bonaventura di Sukabumi pada 8 Desember 1951. Para calon dipersiapkan untuk menjadi pribadi religius yang tangguh. Dua calon pertama yang disebut dalam profil adalah Lidwina Suharti dan Agnes Aminatun. Mereka menerima busana biara pada 16 September 1952 dan mengucapkan profesi sementara pada 17 September 1954. Sejak saat itu, para calon dari berbagai daerah di Indonesia terus menyusul dan menjadi bagian dari perkembangan SFS.

 

Dari Warisan Peniten-Rekolektin Menuju Kongregasi SFS

Pertumbuhan anggota pribumi semakin memperkuat kehidupan Kongregasi di Indonesia. SFS mewarisi semangat Suster-suster Peniten Recollectinen St. Catharina Bergen op Zoom dan menghayati semangat pendiri sebagai jalan untuk mencapai persatuan dengan Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. Dalam perkembangan selanjutnya, Suster-suster Fransiskan Sukabumi menjadi suatu persaudaraan religius yang menghayati panggilan dalam konteks Gereja dan masyarakat Indonesia.

SFS kemudian menjadi Kongregasi mandiri tingkat diosesan. Kemandirian tersebut ditegaskan melalui dekrit Kongregasi Suci dengan nomor Prot. N. DD. 2369–1/95, Roma, 7 Oktober 1995, dan dekrit Keuskupan Bogor dengan nomor 33/Dekrit/SKB/96 tanggal 14 April 1996. Sejak itu, SFS melanjutkan perjalanan sebagai Kongregasi yang berakar pada warisan spiritual pendiri dan pengalaman misioner para pendahulunya, sekaligus mengembangkan karya sesuai kebutuhan Gereja dan masyarakat di Indonesia.

 

Cara Hidup dan Spiritualitas SFS

Cara hidup SFS berakar pada semangat Fransiskan dan diarahkan kepada persatuan dengan Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. Untuk mencapai tujuan tersebut, para suster menghayati doa dan kontemplasi, ulah tapa dan pengendalian diri, pelepasan dari hal-hal duniawi, ketaatan, kerendahan hati, cinta kasih yang melayani, pengorbanan diri, serta semangat kegembiraan Fransiskan. Penghayatan tersebut diwujudkan melalui tiga nasihat Injil, yaitu kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, serta melalui kehidupan persaudaraan.


Hidup persaudaraan menjadi bagian penting dari identitas SFS. Setiap komunitas sekurang-kurangnya terdiri dari tiga anggota yang dipanggil untuk berdoa bersama, membangun kesetaraan, dan mengembangkan komunikasi yang mendalam. Ketaatan diwujudkan dalam kesetiaan kepada Konstitusi, para pemimpin, dan persaudaraan. Kemiskinan atau pelepasan dari hal-hal duniawi dimaknai sebagai sikap lepas bebas sehingga setiap suster siap diutus dan menjalankan perutusan dengan gembira.

Spiritualitas SFS dirumuskan dalam ungkapan: “Menghayati Kasih Yesus Kristus Injili dalam hidup persaudaraan yang ditopang oleh semangat tobat, doa, pelayanan, dan kesederhanaan.” Kasih menjadi dasar karena Allah diimani sebagai kasih. Yesus Kristus menjadi pusat kehidupan dan perutusan. Hidup persaudaraan berpola pada persekutuan Yesus dan kedua belas Rasul, sedangkan pertobatan mendorong para suster untuk terus-menerus memperbarui diri, saling mengampuni, dan menyelamatkan.

Doa menjadi sumber dan roh yang menjiwai seluruh kehidupan serta pelayanan para suster. Ungkapan St. Fransiskus, “Allahku dan semuaku” (Deus meus et omnia), menggambarkan relasi yang mendalam antara manusia dan Allah. Dari kehidupan doa, kontemplasi, Ekaristi, doa bersama, doa pribadi, dan refleksi atas realitas hidup dalam terang Sabda, para suster memperoleh kekuatan untuk menjalankan perutusan.

Pelayanan merupakan wujud nyata kasih. Para suster dipanggil untuk saling melayani dengan gembira dan menjadikan diri sebagai tempat pengungsian bagi mereka yang mengalami kesusahan. Pelayanan dalam komunitas kemudian mengalir keluar melalui berbagai karya kepada masyarakat. Kesederhanaan juga menjadi ciri penting, dengan meneladani Ibu Rosa de Bie dalam sikap lepas bebas terhadap jabatan, barang, harta benda, dan tempat. Kesederhanaan diwujudkan melalui penggunaan fasilitas secara bijaksana, keterbukaan dalam pergaulan, rasa syukur, kerja keras, dan kerelaan berbagi.

 

Perutusan dan Karya Pelayanan SFS

Dalam perjalanan selanjutnya, karya SFS berkembang dalam dua arah, yaitu pelayanan ke dalam dan pelayanan ke luar. Pelayanan ke dalam terutama diarahkan pada pembinaan anggota melalui masa postulan selama 1 (satu) tahun, masa novisiat selama 2 (dua tahun), masa yuniorat selama 6 (enam) sampai 9 (sembilan) tahun, serta bina lanjut. Pembinaan ini bertujuan membantu para anggota bertumbuh dalam kehidupan religius dan semakin matang dalam menghayati panggilan serta perutusannya.

 

Pelayanan ke luar dilaksanakan dalam berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan, SFS berkarya melalui TK, SD, SMP, dan SMA di sejumlah tempat, antara lain di Jawa Barat (Sukabumi, Cipanas, Bogor, Cibinong) dan Jawa Tengah (Sragen, Gubug). Dalam bidang kesehatan, Kongregasi melayani melalui rumah sakit dan Klinik, Rumah bersalin (Sragen, Wirosari – Jawa Tengah dan Sukabumi, Sindanglaya, Cibinong – Jawa Barat).

Di bidang sosial, SFS memiliki karya pelayanan bagi lanjut usia melalui Rumah Lanjut Usia atau Panti Wreda yang bertempat di Sukabumi – Jawa Barat. Dalam bidang pastoral, Kongregasi berkarya melalui Rumah Retret St. Lidwina di Sukabumi dan pelayanan pastoral paroki. SFS juga terlibat dalam karya Keuskupan di Palangka Raya dan Samarinda, meliputi pendidikan, pastoral, asrama, dan tugas-tugas lainnya sesuai kebutuhan. Selain itu terdapat kerja sama dengan OFM dalam pelayanan Asrama Putri dan dapur umum Panti Asuhan St. Yusuf Sindanglaya, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat serta pendampingan retret persiapan kaul kekal. Kerja sama juga dilakukan dalam Rumpun Theresia Saelmaekers (FCh, SFS, KSFL, dan FSE) dengan Keuskupan Padang melalui Komunitas Maria Mater Die Tuapejat Mentawai dalam bidang pendidikan dan pastoral.

 

Identitas, Motto, dan Arah Perjalanan SFS

Seluruh perjalanan sejarah SFS memperlihatkan kesinambungan antara warisan spiritual pendiri, pengalaman misioner, pertumbuhan kehidupan religius pribumi, dan pelayanan kepada masyarakat. Dari keberanian enam misionaris yang meninggalkan Belanda pada tahun 1933, pelayanan kesehatan di Sukabumi, masa penderitaan dalam kamp tawanan, pembangunan kembali karya setelah perang, hingga lahir dan berkembangnya para suster pribumi, sejarah SFS merupakan kisah tentang iman, pengorbanan, ketekunan, dan kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi.

Motto SFS, “Tempat Pengungsian bagi yang Menderita”, merangkum arah pelayanan dan spiritualitas Kongregasi. Motto tersebut tidak hanya menjadi semboyan, tetapi juga menjadi panggilan untuk menghadirkan kasih Allah secara nyata bagi mereka yang lemah, miskin, sakit, terlantar, dan mengalami penderitaan. Dalam semangat Fransiskan, para suster dipanggil untuk hidup sederhana, membangun persaudaraan, bertobat terus-menerus, berdoa, dan melayani dengan sukacita.

Dengan demikian, sejarah Suster-suster Fransiskan Sukabumi tidak dapat dipisahkan dari sejarah misi Peniten-Rekolektin Bergen op Zoom di Indonesia. Benih yang ditanam melalui pengorbanan para misionaris kemudian bertumbuh menjadi sebuah Kongregasi yang mandiri di tingkat diosesan dan berakar kuat di Indonesia. Kehadiran para suster pribumi menjadi tanda keberlanjutan karya tersebut. Dari generasi ke generasi, SFS terus dipanggil untuk menghayati kasih Yesus Kristus Injili dalam hidup persaudaraan serta mewujudkannya melalui doa, pertobatan, pelayanan, kesederhanaan melalui pendidikan, kesehatan, sosial, dan pastoral.

 

Sr. M. Emilia SFS

 

 

 


 

Medior SFS

Para Suster SFS dan Postulan SFS


Profesi Kekal 

Profesi Sementara

 

Postulan SFS menggunakan pakaian daerah (Nias dan Tanimbar) sebelum menerima jubah biara
sebagai Novis SFS

 

Ibu Rosa de Bie
Pendiri Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS)



Ketika “Sound Horeg” Bertemu dengan Semangat yang Nyaris Mati Suri

Ada sesuatu yang menarik ketika berjumpa dengan orang muda Katolik dan para religius muda Katolik. Mereka membawa warna tersendiri. Ada tawa...