Jumat, 18 September 2026

25 dan 40 Tahun Setia: Bersyukur dalam Setiap Perjalanan Panggilan

Sukabumi, 17 September 2026 — Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, 25 bahkan 40 tahun telah dilalui dalam perjalanan panggilan hidup religius sebagai Suster Fransiskan Sukabumi (SFS). Kamis, 17 September 2026, menjadi hari penuh syukur bagi tujuh saudari SFS yang merayakan perjalanan profesi religius mereka.

Mereka yang merayakan 25 tahun profesi religius adalah Sr. Bonifasia SFS, Sr. Yuliana SFS, dan Sr. Olga SFS. Sementara itu, Sr. Elisabeth SFS, Sr. Clementine SFS, Sr. Rosita SFS, dan Sr. Patricia SFS merayakan 40 tahun profesi religius.

Perayaan syukur berlangsung di Kapel St. Fransiskus Asisi, Biara Pusat Suster Fransiskan Sukabumi, pada pukul 10.00 WIB. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikaris Keuskupan Bogor, RD Yohanes Driyanto, Pr, bersama belasan imam konselebran. Suasana perayaan semakin meriah dengan koor dari SMA Mardi Waluya Cibinong.

 

Setia di Tengah Perjalanan

Dalam kotbahnya, disampaikan sebuah kenyataan sederhana yang sering terlupakan: waktu berjalan cepat dan kehidupan tidak pernah benar-benar bebas dari penderitaan.

Dua puluh lima dan empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada begitu banyak pengalaman yang telah dilewati: sukacita, keberhasilan, kegagalan, harapan yang terpenuhi, bahkan harapan yang ternyata berjalan tidak sesuai dengan keinginan.

Dalam perjalanan hidup, banyak hal yang dicita-citakan ternyata tidak terjadi. Perbuatan baik pun belum tentu langsung mendapat balasan yang baik. Bahkan, ada kalanya kita berhadapan dengan orang atau situasi yang sengaja membuat kita kecewa dan menderita.

Itulah kenyataan hidup. Tidak ada kehidupan yang benar-benar bersih dari penderitaan.

Bahkan usia pun terus berjalan. Kita semua pada akhirnya akan menjadi tua. Namun, seperti candaan sederhana yang disampaikan dalam kotbah, “Belum tentu tua akan duluan.” Sebuah humor ringan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa hidup adalah anugerah yang tidak pernah kita tahu sampai kapan diberikan.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Apa yang sudah saya dapatkan selama hidup?” Apakah kekayaan? Ketenaran? Pujian? Jabatan?

Pada akhirnya, semua itu akan berlalu.

Setelah puluhan tahun menjalani panggilan, seseorang bisa saja bertanya, “Saya sudah berjuang sekian lama, lalu apa yang saya dapatkan?” Namun iman mengajak untuk melihat pertanyaan itu dari sisi yang berbeda: bukan terutama tentang apa yang telah diperoleh, tetapi tentang apakah kita tetap setia.

Paulus mengingatkan agar iman kita tidak menjadi lemah. Kita dipanggil untuk tetap bertahan dan setia karena ada janji Tuhan: kehidupan baru dan kehidupan kekal.

 

Bukan Dipanggil untuk Sukses, tetapi untuk Setia

Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa mengikuti-Nya berarti hidup tanpa penderitaan. Yesus justru berkata, “Pikullah salibmu dan ikutlah Aku.”

Mengikuti Yesus berarti belajar berpikir seperti Yesus, bersikap seperti Yesus, dan berusaha melakukan apa yang dilakukan Yesus. Ada saatnya kita harus menyangkal diri, berkata “tidak” terhadap keinginan sendiri, dan tetap berjalan meskipun jalan yang dilalui tidak selalu mudah.

Karena itu, panggilan hidup religius bukan pertama-tama tentang mencari kesuksesan, ketenaran, kekayaan, atau jabatan.

Panggilan adalah tentang kesetiaan.

Pesan ini mengingatkan pada kesaksian hidup Santa Teresa dari Kalkuta: kita tidak dipanggil untuk menjadi sukses, tetapi untuk menjadi setia.

Kesetiaan itulah yang menjadi warna perjalanan tujuh saudari SFS yang hari ini merayakan 25 dan 40 tahun profesi religius. Tahun-tahun yang panjang itu tidak selalu berisi peristiwa yang menyenangkan. Namun justru melalui berbagai pengalaman, Tuhan membentuk, menguatkan, dan memurnikan perjalanan panggilan mereka.

 

“Bahwasanya Tuhan itu baik”

Semangat syukur tersebut sejalan dengan Mazmur 100:5: “Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”

Setelah 25 dan 40 tahun, yang dirayakan bukan hanya lamanya waktu, tetapi terutama kebaikan dan kesetiaan Tuhan.

Ada begitu banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan rencana manusia. Ada doa yang belum terjawab seperti yang diharapkan. Ada pengalaman yang mungkin pernah menyakitkan. Ada tugas yang berat dan perjalanan yang tidak selalu mudah.

Namun, ketika melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, ada satu hal yang tetap: Tuhan setia.

Perayaan ini menjadi kesempatan untuk melihat bahwa setiap pengalaman bahkan pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menjadi bagian dari cara Tuhan membentuk pribadi dan mempersiapkan seseorang untuk menjalankan perutusan yang dipercayakan kepadanya.

 

Syukur yang Dirayakan Bersama

Usai Perayaan Ekaristi, para suster, imam, keluarga, sahabat, dan tamu undangan melakukan perarakan menuju Rumah Retret St. Lidwina sebagai tempat resepsi. Perarakan semakin semarak dengan tarian yang dibawakan oleh Postulan SFS, diiringi musik dan lagu Songke Manggarai.

Setibanya di ruang resepsi, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan ucapan selamat kepada para pestawati. Sukacita semakin terasa melalui berbagai hiburan yang dipersembahkan oleh para suster, karyawan Biara Pusat, serta Bianka (Siswa SD Mardi Waluya Sukabumi).

Pesta syukur kemudian ditutup dengan tarian bersama para suster dan para tamu undangan. Semua larut dalam kegembiraan sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panjang yang telah Tuhan sertai.

Dua puluh lima dan empat puluh tahun akhirnya bukan sekadar angka. Ia menjadi sebuah kesaksian bahwa perjalanan panggilan memiliki cerita, perjuangan, air mata, sukacita, dan banyak kejutan.

Namun di atas semuanya itu, ada satu keyakinan yang tetap menjadi dasar:

Tuhan itu baik. Kasih setia-Nya tidak pernah berakhir.

Dan setelah 25 atau 40 tahun, perjalanan itu belum selesai. Masih ada perutusan yang dipercayakan, masih ada langkah yang harus dijalani, dan masih ada kesempatan untuk terus mengatakan dalam hati:

“Tuhan, terima kasih karena Engkau tetap setia.”


Proficat Para Suster.....



_EmiliaSFS_














 

25 dan 40 Tahun Setia: Bersyukur dalam Setiap Perjalanan Panggilan

Sukabumi, 17 September 2026 — Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, 25 bahkan 40 tahun telah dilalui dalam perjalanan panggilan hidup ...