Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, Mgr. Christophorus Tri Harsono, Pr., didampingi oleh 5 orang imam konselebran dan seorang diakon. Perayaan berlangsung khidmat, namun sekaligus terasa hangat karena dihadiri oleh para suster SFS, keluarga Sr. Clara, serta para undangan yang datang untuk memberikan dukungan dan doa.
Profesi kekal menjadi tanda bahwa Sr. M. Clara memilih untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Momen penting dalam perayaan ini ditandai dengan pengucapan janji selibat seumur hidup di hadapan Uskup dan Gereja melalui Pelayan Umum Persaudaraan SFS. Selanjutnya, Sr. Clara menerima cincin sebagai lambang penyerahan diri secara total kepada Tuhan dan kesediaannya untuk setia sepanjang hidup dalam panggilannya.
“Aku Akan Mengikuti Engkau ke Mana pun Engkau Pergi”
Dalam homilinya, Mgr. Christophorus mengajak Sr. Clara dan seluruh umat untuk merenungkan perkataan, “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.”
Menurut Uskup, mengikuti Tuhan bukan sekadar sebuah kata atau janji yang diucapkan, tetapi membutuhkan keberanian, keteguhan hati, dan kesetiaan untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.
Uskup juga mengingatkan umat tentang pentingnya menjaga niat dan perkataan. Fitnah, katanya, merupakan kejahatan yang sudah diniatkan. Demikian pula dengan kebohongan. Satu kebohongan dapat melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya hingga akhirnya menjadi rangkaian dusta yang sulit dihentikan.
Karena itu, setiap niat sekecil apa pun perlu dijaga dengan baik. Dari niat lahirlah harapan, dari harapan lahirlah janji, dan janji harus dipertahankan dengan kesetiaan. “Need berani,” demikian pesan yang ditekankan dalam homili, mengikuti Tuhan membutuhkan keberanian untuk tetap bertahan dalam berbagai keadaan.
Uskup juga mengajak umat untuk menata kehidupan dengan bijaksana: hati perlu dirasionalisasikan dan otak perlu dispiritualisasikan. Dengan demikian, keputusan tidak hanya didasarkan pada perasaan atau logika semata, tetapi juga pada iman dan kebijaksanaan.
Ia mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan cara yang tidak baik pada akhirnya akan membawa kerugian. Apa yang tidak baik akan berujung pada kebuntuan, kerugian, bahkan kematian.
Menjadi "Gembala" yang Baik
Dalam homilinya, Mgr. Christophorus juga mengajak umat untuk belajar dari sosok gembala yang baik. Seorang gembala tidak meninggalkan dombanya ketika menghadapi kesulitan. Ia tetap hadir, mengenal, melindungi, dan merawat domba-dombanya.
Ada enam sikap gembala yang baik yang ditekankan dalam homili:
Siap berkorban dan membawa keselamatan. Gembala yang baik tidak lari ketika menghadapi kesulitan, tetapi tetap setia dan hadir.
Mengenal pribadi dombanya. Ia mau mendengarkan keluhan, protes, kata-kata kasar, bahkan fitnah yang mungkin ditujukan kepadanya.
Memberikan perlindungan dari bahaya. Gembala selalu hadir dalam berbagai situasi, bukan melarikan diri atau menyalahkan orang lain.
Membimbing ke arah yang benar. Gembala membantu domba menemukan jalan yang baik dan benar.
Melayani dan memelihara dengan tulus. Pelayanan dilakukan dengan ikhlas, bukan karena terpaksa dan bukan pula dengan perhitungan untung-rugi.
Mengajar melalui keteladanan. Salah satu teladan penting yang harus diberikan adalah kemampuan untuk mengampuni.
Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi Sr. Clara yang kini memasuki tahap baru dalam perjalanan hidup membiara dan seluruh hadirin yang hadir. Profesi kekal bukan hanya tentang menjadi milik Tuhan, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir dan melayani sesama dengan kasih.
Mengikuti Tuhan Tanpa Menoleh ke Belakang
Mengikuti Tuhan ke mana pun Ia pergi juga berarti berani meninggalkan berbagai keterikatan duniawi. Uskup mengingatkan bahwa seorang yang sungguh mengikuti Tuhan tidak hidup dengan pamrih, ambisi pribadi, atau mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.
Teladan St. Fransiskus Asisi menjadi inspirasi. Fransiskus yang berasal dari keluarga berada justru memilih jalan kemiskinan, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Kekayaan tidak menjadi tujuan hidupnya karena ia menemukan kekayaan yang lebih besar dalam Tuhan dan pelayanan kepada sesama.
Karena itu, mengikuti Tuhan berarti tidak terus-menerus menoleh ke belakang. Ada saatnya seseorang harus berani meninggalkan keterikatan pada keduniawian secara total dan melangkah maju dalam panggilan yang telah dipilih.
Namun, perjalanan mengikuti Tuhan bukan hanya untuk diri sendiri. Orang yang mengikuti Tuhan dipanggil untuk mewartakan dan membagikan keselamatan kepada sesama, menghadirkan pengampunan, mengajak orang untuk bertobat, serta menjadi tanda kasih Tuhan di tengah kehidupan.
Pesan ini menjadi bekal bagi Sr. Clara dalam menjalani profesi kekalnya: tetap setia, berani, rendah hati, melayani dengan tulus, dan terus menghadirkan kasih serta keselamatan bagi orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Sukacita Bersama Keluarga dan Persaudaraan SFS
Setelah perayaan Ekaristi selesai, suasana sukacita berlanjut dengan sesi foto bersama para konselebran dan selebran, para suster SFS, serta keluarga Sr. Clara. Sr. Clara kemudian menerima ucapan selamat dari para Suster dan tamu undangan yang hadir di depan kapel.
Kebersamaan semakin terasa dalam acara ramah tamah. Para postulan, novis, dan yunior SFS turut memeriahkan suasana dengan beberapa pertunjukan hiburan. Keluarga dan para hadirin juga ikut mengambil bagian melalui karaoke dan berjoget bersama.
Tawa, senyum, dan kebersamaan menghiasi acara tersebut. Perayaan profesi kekal Sr. M. Clara tidak hanya menjadi sebuah peristiwa liturgis, tetapi juga menjadi perayaan iman, panggilan, persaudaraan, dan ucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.
Dengan profesi kekal yang telah diikrarkan, Sr. M. Clara SFS melangkah dalam perjalanan panggilannya dengan satu tekad: “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Sebuah janji yang kini bukan hanya diucapkan, tetapi hendak diwujudkan dalam kesetiaan, pelayanan, pengorbanan, dan kasih sepanjang hidup.
Selamat menempuh perjalanan profesi kekal, Sr. M. Clara SFS. Semoga Tuhan selalu menguatkan langkah, meneguhkan panggilan, dan menjadikan hidupmu berkat bagi Gereja, Persaudaraan SFS, keluarga, dan sesama.
KEKAL ABADI KASIH SETIANYA
_Sr. M. Emilia SFS
![]() |
| Mohon doa restu dari Orang tua (Ibu dan Saudara kembarnya) |
![]() |
| Penerimaan Cincin sebagai penyerahan diri secara total kepada Tuhan |
![]() |
| Bersama Uskup, para Imam, dan Diakon |

.jpeg)



.png)