Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2026

CAP DI DAHI

Sebut saja Jeni. Ia sering duduk di sudut yang sama, tempat suara-suara tak pernah benar-benar sunyi, tapi tak satu pun memanggil namanya dengan tulus. Kesepian baginya bukan soal sendirian, melainkan tentang hadir di tengah banyak orang namun terus-menerus merasa tak diinginkan.

Bagi orang lain, ia selalu “tidak baik.” Kata itu menempel seperti cap di dahi. Apa pun yang ia lakukan. berbicara atau diam, bergerak atau hanya bernapas, selalu ada bisik yang menyusul. Gosip beredar lebih cepat daripada kebenaran. Para pemimpin mengernyitkan dahi, menaruh sentimen yang dingin, seolah keberadaannya sendiri adalah masalah yang harus dibereskan. Ia tak tahu kesalahan apa yang sedang diadili; dakwaan berubah-ubah, tapi vonisnya sama.

Padahal di dalam dirinya, ia merasa baik-baik saja. Tidak sempurna, tentu. Namun setiap pagi ia berusaha bangun dengan niat yang lurus: melakukan yang terbaik, tidak merugikan siapa pun, menahan diri saat emosi menguat. Ia menimbang kata sebelum keluar, menimbang langkah sebelum melangkah. Anehnya, justru ketika ia menyampaikan pendapat, dengan hati-hati, tanpa teriak. Ia dicurigai. Suaranya dianggap ancaman. Kejujurannya ditafsirkan sebagai perlawanan.

Lama-lama, ia belajar bahwa diam pun bukan perlindungan. Diam justru dituduh sebagai rencana. Ketidakikutsertaannya dianggap sikap. Ia menjadi cerita yang diceritakan orang lain, tanpa pernah dimintai klarifikasi. Wajahnya hadir, tapi maknanya didefinisikan di luar dirinya.

Malam-malamnya kian berat. Ia mulai mengumpulkan potongan kalimat yang dilontarkan kepadanya, menyusunnya menjadi cermin yang retak. Di cermin itu, ia bertanya: “Apa aku memang seburuk itu?” Pertanyaan itu berulang, menipis, lalu menjadi keyakinan palsu. Ia menyalahkan diri sendiri atas hujan yang tak ia sebabkan. Ia menimbang hidupnya dan menemukan timbangan itu berat sebelah.

Kesedihan menyelinap pelan, menggerogoti rasa berguna. Ia merasa kecil, tak bernilai, seolah upaya terbaiknya tak pernah cukup. Namun di sela-sela runtuh itu, masih ada denyut halus, sebuah suara yang belum padam sepenuhnya yang berkata bahwa kebaikan tidak selalu berisik, dan kebenaran tak selalu segera dipercaya.

Ia belum tahu bagaimana menebus luka-luka itu. Tapi ia tahu satu hal, meski dunia terus memberi label, ia tetap manusia yang berusaha. Dan di suatu titik yang sunyi, ia berharap suatu hari nanti, upayanya akan dikenali atau setidaknya, ia bisa memaafkan dirinya sendiri.



Curahan dari Sang Jeni.

DIAMpun jadi ANCAMAN

Rabu, 18 Desember 2024

Romantisnya Saya dan Hujan

Setiap Sabtu, saya selalu basah kuyup karena hujan. Itu sudah seperti rutinitas yang tak terelakkan, yang selalu datang dengan cara yang sama: hujan turun, saya di tengah perjalanan pulang, dan saya basah. Hari itu, seperti biasa, Sabtu sore saya dimulai dengan perjalanan pulang menggunakan kereta api. Setelah kuliah selesai, saya melangkah keluar dari kampus dengan rasa lega, meskipun di balik rasa lega itu saya tahu ada satu hal yang selalu terjadi di setiap Sabtu—hujan. Seperti sebuah ironi kecil, hujan selalu datang tepat saat saya akan pulang.
    Dan seperti biasa, saya sudah tahu harus menghadapi hujan yang pasti akan datang. Kuliah hari itu pun hanya seharian, dan begitu sudah waktunya, saya langsung bergegas menuju stasiun untuk naik kereta pulang. Tidak ada yang terlalu istimewa, hanya Sabtu biasa. Namun, seperti yang sudah saya tahu, di balik sabtu yang biasa ini, ada satu hal yang tak pernah berubah: hujan. Setelah men’tap’ e - card, melewati peron kemudian saya menaiki kereta yang penuh sesak. Pemandangan di luar jendela sedikit buram, dengan gedung-gedung pencakar langit yang berlalu cepat, berpadu dengan langit yang mulai kelabu. 
    Dari stasiun kota, perjalanan kereta api ke stasiun dekat rumah saya memakan waktu sekitar satu jam. Selama itu, saya tidak bisa berhenti berpikir tentang satu hal: hujan yang selalu datang. Kereta yang saya tumpangi sudah siap berangkat tepat waktu. Begitu saya duduk di kursi yang kosong, saya bisa merasakan sedikit kelegaan. Pemandangan luar jendela masih cerah, namun saya bisa merasakan udara lembap yang mulai menggantung di langit. Di dalam kereta, orang-orang duduk bahkan berdiri dengan tenang, beberapa sibuk dengan ponsel mereka, beberapa lainnya terlelap setelah seharian beraktivitas, beberapa lain lagi berbincang bersama teman yang bersebelahan. Di luar, kota mulai berlalu cepat, tetapi ada sesuatu di udara yang memberi saya firasat buruk. Saya sudah tahu, hujan pasti akan datang, dan kali ini petir juga akan ikut menyertainya. Tidak lama setelah kereta bergerak, saya bisa melihat awan hitam mulai menggulung di langit, seolah-olah alam sedang bersiap untuk menunjukkan kekuatan penuh. Saya menarik napas dalam-dalam, dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Petir? Belum, saya pikir. Tetapi setelah beberapa detik, suara itu semakin keras, dan tiba-tiba langit memuntahkan kilat yang menyambar-nyambar. Suara gemuruh petir datang dengan begitu mendalam, hampir seperti guntur yang hendak menggetarkan dunia. Saya merasakan getaran itu bersamaan dengan menutup mata agar tak terlihat sambaran kilat itu, meskipun saya berada di dalam kereta. Dan begitu hujan turun, ia datang dengan kekuatan yang luar biasa. Bukan hanya sekadar gerimis, tetapi hujan lebat yang disertai dengan petir menyambar-nyambar di luar. Saya melihat ke luar jendela, menyaksikan hujan yang turun begitu deras, menaburkan air ke kaca kereta hingga pandangan saya terbatas. 
    Seiring perjalanan, langit semakin gelap, dan kilat terus menyambar ke bumi, seolah beradu dengan suara petir yang menggelegar. Sebagian penumpang mulai resah, sementara yang lain hanya diam, terdiam oleh kekuatan alam yang tiba-tiba datang dengan ganas. Saya menatap keluar, merasakan sesuatu yang aneh. Meski dalam kereta yang nyaman, dengan suara gemuruh petir yang menggetarkan, saya merasakan semacam keterhubungan dengan hujan. Ada kedamaian dalam kekacauan itu, dalam suara petir yang terus bergemuruh dan air hujan yang membasahi dunia di luar. Di dalam kereta yang hangat dan aman ini, saya tahu saya terlindung dari apa yang terjadi di luar sana. Tetapi ada sesuatu dalam diri saya yang tetap merasa terhubung dengan hujan dan petir itu—seperti ada sebuah kekuatan yang lebih besar dari sekadar perjalanan pulang ini. Petir menyambar lagi, lebih terang dari sebelumnya. Lampu kereta berkelip sejenak, dan dalam sekejap, sebagian penumpang tampak cemas. Namun, saya tetap duduk dengan tenang sembari mengumandangkan doa salam maria berkali-kali, meskipun tubuh saya terasa sedikit tegang. Sesekali saya mendengar bisik-bisik dari beberapa penumpang yang mulai khawatir. Tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menikmati momen itu. Hujan yang terus turun, gemuruh petir yang semakin hebat, semua itu seolah membangkitkan perasaan campur aduk—antara rasa takut dan rasa kagum pada kekuatan alam yang begitu besar. Kereta melaju dengan tenang meskipun dunia di luar tampak kacau. Saya menoleh ke sekitar, melihat orang-orang yang mulai tampak gelisah, mungkin karena kereta mulai melambat sedikit. Lalu, tiba-tiba suara pengumuman terdengar, memberitahukan bahwa ada gangguan di jalur yang menyebabkan keterlambatan perjalanan. Tidak heran, dengan cuaca seperti ini—hujan deras disertai petir—mungkin jalur kereta menjadi licin atau terganggu. Saya menyandarkan kepala di jendela, menatap hujan yang terus menumbuk kaca kereta, berusaha melupakan kekhawatiran yang muncul di sekitar saya. Petir kembali menyambar, kali ini lebih dekat, membuat seluruh kereta bergetar sejenak. 
    Saya memejamkan mata sejenak, mencoba meresapi momen itu. Hujan dan petir datang dengan cara yang sama setiap kali—mungkin itu cara alam mengingatkan kita bahwa dalam hidup, ada hal-hal yang tak bisa kita kendalikan. Meskipun cuaca di luar sangat buruk, saya merasa seperti berada dalam ruang aman. Hujan yang menderu, petir yang menyambar, semuanya terasa begitu jauh meskipun saya tahu saya berada tepat di tengah-tengahnya. Ada kedamaian dalam kekacauan itu. Saya merasa seperti diizinkan untuk merasakan sesuatu yang lebih dalam—perasaan yang muncul hanya ketika kita benar-benar terhubung dengan alam, dengan kekuatan yang lebih besar dari diri kita. Kereta akhirnya melaju kembali dengan lancar setelah beberapa menit, dan meskipun petir masih terdengar di kejauhan dan kemudian hujanpun mulai reda terbawa suara petir itu. Saya tahu perjalanan ini akan segera berakhir.
    Puji Tuhan, ada harapan bahwa meneruskan perjalanan nantinya ada rasa lega karena tiada turunnya hujan, Lampu kereta kembali stabil, dan suara mesin yang melaju membawa saya lebih dekat ke rumah. Saya masih duduk dengan tenang, menatap langit yang mulai sedikit terang, dengan suara gemuruh petir yang semakin jauh. Ketika kereta akhirnya berhenti di stasiun tujuan, saya merasa seolah-olah saya baru saja menjalani sebuah perjalanan batin yang panjang. Perjalanan dari kampus, lewat hujan, petir, dan segala kebisingan dunia luar. Saya tahu, meskipun saya baru saja menuntaskan perjalanan ini, hujan dan petir akan terus menjadi bagian dari Sabtu saya, bagian dari perjalanan yang tak terhindarkan, dan mungkin, bagian dari diri saya yang selalu mencari kedamaian dalam setiap cuaca yang datang. Saya turun dari kereta, menyusuri peron yang masih basah oleh hujan, dan saat hendak melangkah keluar, saya mendengar kembali suara petir terakhir yang menyambar di kejauhan. Mungkin, petir itu adalah cara alam untuk mengingatkan saya bahwa meskipun perjalanan saya sudah selesai, hidup ini selalu penuh dengan hal-hal tak terduga yang datang begitu cepat dan pergi begitu saja, meninggalkan kenangan dan perasaan yang tak mudah dilupakan. Perasaan lega rupanya hanya sebentar sebab setiap kali saya turun dari kereta, cuaca di luar stasium sudah kembali mulai berubah. Langit yang tadi kelabu kini tampak lebih gelap, awan tebal menutupi sinar matahari yang sempat muncul semakin menjauh. Begitu saya melangkah keluar dari stasiun, biasanya saya langsung membuka aplikasi ojek online.             Begitu datang, saya langsung naik, berharap bisa sampai rumah secepat mungkin. Namun, entah kenapa, setiap kali perjalanan saya dimulai, hujan pasti datang. Tak pernah meleset. Tetes pertama jatuh ke wajah saya ketika saya baru saja melangkah keluar dari stasiun. Saya pikir itu hanya hujan ringan, hanya gerimis yang akan reda dalam beberapa menit. Tapi tidak. Hujan itu tidak kenal kompromi, dan seiring dengan perjalanan ojek yang semakin jauh, hujan semakin deras. Berkendara di atas ojek motor, saya duduk di belakang pengemudi, merasakan angin sore yang semakin dingin dan air hujan yang mulai membasahi pakaian saya. Payung? Tidak. Memang Saya membawa payung namun mustahil bila saya memakai payung bersamaan dengan berkendara motor. Setiap tetes hujan yang menyentuh wajah saya seakan mengingatkan saya bahwa hujan adalah bagian dari cerita Sabtu saya. Saya bisa melihat jalanan yang mulai tergenang air, kendaraan yang melaju perlahan karena hujan yang semakin lebat, dan orang-orang yang mulai mencari tempat berteduh. Dalam beberapa detik, saya dan pengemudi ojek kami sudah terperangkap dalam hujan yang begitu deras. Di tengah perjalanan pulang yang biasanya santai, semuanya menjadi basah kuyup. Tak lama, sepatu saya mulai terendam air, dan celana panjang saya semakin basah. Sialnya, saya harus tetap bertahan dalam perjalanan itu—meskipun sudah tahu bahwa tak lama lagi, saya akan sampai di rumah dengan pakaian yang lengket, rambut yang basah, dan tubuh yang kedinginan. 
        Di sepanjang perjalanan, saya hanya bisa berharap bahwa perjalanan ini cepat selesai. Tapi, di balik semua rasa tidak nyaman itu, ada satu hal yang selalu membuat saya tersenyum. Hujan. Saya merasa, meskipun basah kuyup, ada kedamaian tertentu yang hanya bisa saya temukan ketika hujan turun. Hujan datang dengan segala ketidakpastian, tanpa memberi tahu kapan ia akan datang atau berapa lama ia akan turun, tetapi tetap saja, saya merasa ada semacam kedekatan antara saya dan hujan. Seperti hujan tahu betul bahwa saya selalu pulang pada Sabtu sore, dan ia tahu betul bahwa saya tak akan bisa menghindarinya.serasa saya dan hujan yang selalu merindukan pertemuan yang romantis. Setibanya di depan rumah, saya turun dari ojek dengan rasa lelah yang sudah tidak bisa dibendung. Udara sore menjelang malam yang dingin mengalir ke tubuh saya yang basah. Namun, ada sesuatu yang menenangkan di dalam diri saya. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Hujan ini, meskipun datang dengan kebasahan yang tak terhindarkan, selalu memberi saya kesempatan untuk berhenti sejenak. Namun, ada satu hal yang selalu saya sadari. Meski terkadang hujan itu datang begitu mendalam, begitu deras, tetap saja ia akan berhenti pada waktunya. Begitu juga dengan perasaan saya—tapi, mungkin saya hanya butuh lebih banyak waktu untuk menyadari bahwa hujan, seperti perasaan-perasaan saya, adalah bagian dari perjalanan yang tidak bisa dipaksakan.
Emilia_sfs

Jumat, 08 Maret 2024

PERJUMPAAN YANG TAK DIINGINKAN

πŸ’˜πŸ’•πŸ’—
Yang kutakutkan adalah berjumpa dan kemudian berpisah. Rasa-rasanya tak mampu untuk melepaskanmu dan berpisah denganmu. hari-hari penuh dengan bayanganmu dan kenangan saat berjumpa. setiap gerak-gerikmu, tindakanmu,perhatianmu, dan rasa nyamanmu membuatku sedikit hilang akal dan berpikir tak jernih. 

ah, kadang aku menyesali kenapa harus ada perjumpaan dan kemudian yang kuterima adalah perpisahan. 
melihatmu, bersuara bersamamu itu sudah cukup bagiku.
kadang ada rasa cemburu ketika kumendengar kau berbagi dengan yang lain. kubayangkan bahwa kau mulai melupakanku.
ah, rasa dan pikiran ini cukup liar. 

padahal ku tak tahu, apakah engkaupun mengalami hal yang sama. apakah kau pun mengalami kehilangan?apakah kau mengalami rasa rindu yang berat?
yang kutahu adalah ketika berjumpa,kau begitu perhatian, dan begitu merasa nyaman bersamamu. rasanya tidak ingin beranjak dari peraduan.
Sering kubertanya kenapa harus ada perjumpaan? kenapa ku harus mengenalmu? kenapa rasa ini begitu kuat terhadapmu? ah.... PERJUMPAAN YANG TAK DIINGINKAN ... yang pada akhirnya membawa penderitaan batin.
Semoga luapan hati ini, menjadi pelipur rindu...
Meski jarang berkabar, namun ku tahu bahwa kau pun tetap yakin pada hidup dan pilihanmu.

kutetap mendoakanmu, agar selalu setia pada hidup dan panggilanmu.

Doakan ku agar tetap bahagia, sukacita, dan setia pada hidup dan panggilanku.


Kupersembahkan untukmu yang berjuang dengan rasa dan perasaan yang mendalam baginyaπŸ’˜

Coretan tak bernyawa diawal bulan M
Emilia_sfs
Novis SFS sedang refresing di luar komunitas



Rabu, 27 Juli 2022

GADIS DESA

        
        Lina tinggal di suatu desa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota. Kira-kira dua jam perjalanan naik motor. Dia adalah gadis yang sederhana, cerdas, dan tidak sombong. Selain itu dia juga berbakat dalam bidang ersa apapun. Ada banyak lelaki yang mengagumi kepribadiannya, karena sikapnya terlihat dewasa baik dalam berpikir, bertutur kata, dan bertindak. Tetapi sayangnya tidak ada seorang pun yang berhasil menjadi pacarnya. Bukan berarti dia mati rasa, namun belum ada orang yang tepat untuk dia terima sebagai sang sahabat dekat. Setiap kali ada orang yang mengungkapkan perasaan sejujurnya, dia hanya tersenyum dan tidak memberi jawaban yang pasti. Entah bagaimana ciri-ciri lelaki idaman hatinya. Lina hanya memendam seorang diri dan mungkin masih belum saatnya untuk diketahui oleh orang lain. Tiba saatnya dia menamatkan diri dari jenjang putih abu-abu, dan sekarang akan melanjutkan kuliah di kota. Tak mengherankan jika relasinya terhadap teman-teman sangat baik, karena dia sudah terbiasa dan dilatih untuk menghargai dan menghormati orang lain. Sebagaimana mestinya sering ia lakukan selama di kampung. Sehingga kebiasaan itu sudah melekat dalam dirinya. Tidak pernah terdengar kata-kata Lina yang menyakitkan hati. Dia selalu bersikap ramah dan sopan kepada siapa pun. Selama di kota, dia tinggal di asrama putri yang peraturannya cukup ketat. Baginya ini suatu hal yang biasa, sehingga ersama rasa takut dan ragu akan kedisiplinan. 

Selasa, 04 April 2017

KEPERGIANMU

     Hasil gambar untuk kepergianmu Saat kau pergi ... pergi ... menjauh, dan menjauh dari pandanganku, pandangannya, dan pandangan mereka, hati dan diri ini tak mampu mengucapkan kata-kata indah selain ucapan selamat jalan dan tetesan air mata. Wajah dan bayanganmu selalu menemani setiap perjalanan hidupku mulai dari kepergian dan keberangkatanmu.

Kamis, 23 Maret 2017

BIARKAN DIA HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

          Aku berlari sekuat tenaga ketika mendengar suara yang mencekik telinga di ujung jalan sana. Aku hampir terjatuh. Karena berlari melewati jalan yang terjal ditumbuhi sedikit rumput-rumput yang berduri. Rumput berduri itu ku injak tanpa merasakan sakitnya ketika melukai kakiku. Yang penting aku mengetahui apa yang telah terjadi di sana , batinku. Ha ...??? Ya Tuhan ... apa yang telah terjadi. sebuah bus berwarna ungu menabrak seorang anak kecil.

Senin, 13 Maret 2017

MAAFKAN AKU.

Hasil gambar untuk hati yang terluka karena cintaAku sejenak menggeliat ketika bangun pagi. badanku berat pagi itu seperti ditimpa suatu beban. Rasa malas menjadi milikku pagi itu. ingin rasanya neneruskan tidurku lagi. Apalagi aku masih teringat dengan peristiwa waktu itu, yang membuatku sakit hati. Tapi aku harus menepati janjiku sendiri yaitu berolahraga pagi

Kamis, 23 Februari 2017

UNTUKMU, HOK



Apa kabar, kamu? Apakah kamu kelelahan ketika melewati rentetan peristiwa yang terjadi beberapa bulan ini? Aku bisa menebak rasa lelahmu, karena kantung matamu terlihat jelas dan raut wajahmu yang tersenyum berusaha menyembunyikan lelahmu.

Rabu, 22 Februari 2017

MENGALIKAN HATI

Hasil gambar untuk hati yang bahagia
Kali ini mengalikan hati
kali ini mengalikan simponi
kali ini mengalikan sentuhan jemari
dan... kali ini mengalikan suara indah itu

Selasa, 01 November 2016

Di Balik Fajar



Di Balik Fajar

                Suatu   sore ketika saya jalan-jalan di halaman parkir biara, saya melihat seorang ibu muda memangku seorang anak kecil, mungkin sekitar empat tahun usianya. Ia duduk di bangku semen di bawah pohon beringin. Kudekati ibu itu, tampak matanya sembab karena menangis, wajahnya cukup manis tetapi betapa kuyu dan nampak sangat kelelahan. Aku bertanya kepadanya.
            “Ibu dari mana? Kok duduk di sini menunggu siapa?”

Sabtu, 23 Januari 2016

"PERSEMBAHANKU"

Persembahanku

           
 
Sering dikatakan bahwa hidup membiara itu adalah panggilan. Meskipun sebenarnya hidup berkeluarga juga adalah panggilan. Saya sendiri juga kurang pasti kapan saya mulai dipanggil. Waktu SMP saya suka melihat Suster-Suster yang berjalan pulang atau pergi ke gereja. Saya lihat jubah Suster warnanya putih, panjangnya sampai ke mata kaki. Kerudungnya pakai penutup dahi, jadi tidak kelihatan rambutnya. Jarum pentul yang dipakai untuk mengatur lipatan kerudung letaknya sama antara Suster yang satu dengan yang lain.

Adakah Aku Engkau Panggil, Tuhan???

Adakah Aku Engkau Panggil, Tuhan?



Seorang gadis. Sangat rajin ke gereja. Bukan hanya tiap hari Minggu, tapi hampir setiap hari. Ini karena nasihat ibunya: “Nak, pergilah ke gereja setiap hari selagi engkau belum bersuami. Kalau engkau sudah menikah nanti, siapa tahu, karena banyaknya pekerjaan, kamu tak lagi bisa sering-sering ke gereja.

Selasa, 07 Juli 2015

ENTAH APA YG HARUS KUKATAKAN

Sungguh...saat ini aku tak mengerti
tak mengerti jalan pikiranmu...
jalan pikiranmu yang boleh kukatakan kau KEJAM ...
sungguh SANGAT KEJAM...

Jumat, 03 Juli 2015

TANCAPAN PAKU CINTA



Hati yang tak membuatku yakin ...
Cinta yang tak mampu kupahami
Cinta yang tak mampu kuterima
Ucap dan kata yang tak mampu kupercayai
Semua hampa belaka ... hampa tak berguna ... sama sekali ... 

KADO VALENTINE'14



Bunyi alarm membangunkanku di pagi ini.bertepatan dengan tanggal 14 Februari yang dianggap hampi semua orang adalah hari kasih sayang. Pagi yang sunyi, sepi meski sesekali terdengar kicauan burung disebelah sana. Dengan agak lunglai, mata setengah terpejam, tangan bergerak mengusapnya agar tak begitu berat untuk melihat arah jalan yang hendak kulalui dari bilik tidurku. Berjalan sambil memperbaiki rambut yang uwal-uwallan.

" MALAIKAT TERDESAK "

Seraut wajah yang benar-benar kurindukan apa yang ada padanya. Ia pucat, kenapa? tubuhnya terbaring, sakitkah? Ia tak menjemputku seperti yang lainnya, tak mendekapku dan hanya tersenyum sayu padaku. Dadaku sesak, tak mengerti atas apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku sakit melihatnya seperti itu, melihat seorang malaikatku (biasa kusapa demikian) yang sebelumnya selalu terlihat tegak, energik kini nampak layu dan tak berdaya

SERAHKAN PADA PENYELENGGARAAN ILAHI

Dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat-saat ketika seseorang mengalami ketidakadilan, kekecewaan, ...