Selasa, 02 Juni 2026

SERAHKAN PADA PENYELENGGARAAN ILAHI

Dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat-saat ketika seseorang mengalami ketidakadilan, kekecewaan, penolakan, atau perlakuan yang melukai hati. Pengalaman-pengalaman tersebut sering kali menimbulkan pertanyaan, kemarahan, bahkan pemberontakan batin. Mengapa hal ini terjadi? Mengapa usaha yang sudah dilakukan tidak menghasilkan sesuatu yang baik? Mengapa orang yang berbuat tidak adil justru terlihat baik-baik saja?

Sebagai manusia, perasaan kecewa dan marah adalah sesuatu yang wajar. Namun, tidak semua luka harus dibalas dengan luka yang lain. Tidak semua ketidakadilan harus dijawab dengan balas dendam. Pada titik tertentu, seseorang perlu menyadari bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendali dirinya. Ketika segala upaya telah dilakukan dan keadaan tetap tidak berubah, menyerahkan semuanya kepada Penyelenggaraan Ilahi menjadi sebuah pilihan yang membebaskan.

Menyerahkan bukan berarti menyerah. Menyerahkan berarti percaya bahwa ada kebijaksanaan yang lebih besar daripada pemahaman manusia. Ada rencana yang mungkin belum dapat dilihat saat ini, tetapi akan menjadi jelas pada waktunya. Kepercayaan ini membantu seseorang melepaskan beban untuk terus-menerus menghakimi, menyalahkan, atau menghitung setiap ketidakadilan yang dialaminya.

Sikap percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi juga mengajak seseorang untuk tidak menyimpan kebencian terhadap orang lain. Kebencian sering kali tidak melukai orang yang dibenci, tetapi justru menguras energi dan kedamaian orang yang menyimpannya. Ketika seseorang memilih untuk melepaskan dendam, ia tidak sedang membenarkan kesalahan yang terjadi. Ia hanya memutuskan bahwa masa depannya terlalu berharga untuk terus diikat oleh luka masa lalu.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memenangkan setiap pertarungan atau membuktikan bahwa kita benar di hadapan semua orang. Hidup adalah tentang menjalani setiap pengalaman dengan hati yang tetap terbuka, belajar dari setiap kesulitan, dan percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan melalui peristiwa-peristiwa yang tidak kita pahami.

Mungkin keadilan tidak selalu datang pada waktu yang diinginkan. Mungkin jawaban atas banyak pertanyaan tidak segera ditemukan. Namun, iman mengajarkan bahwa tidak ada air mata, perjuangan, atau pengorbanan yang sia-sia. Ketika seseorang menyerahkan seluruh permasalahan, kekecewaan, dan pemberontakan hatinya kepada Tuhan, ia sedang memilih jalan damai. Jalan yang tidak dibangun di atas dendam, melainkan di atas kepercayaan bahwa Penyelenggaraan Ilahi akan membawa segala sesuatu menuju kebaikan pada waktunya. _Emilsfs_

Percaya pada Penyelenggaraan Ilahi

Senin, 01 Juni 2026

PERPISAHAN YANG TAK SEMPAT TERUCAP

Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita bukan hanya sebagai bagian dari cerita, tetapi sebagai alasan mengapa kita bisa menjadi seperti hari ini. Mereka merawat kita saat kita belum bisa melakukan apa-apa. Menjaga kita ketika dunia terasa terlalu besar dan menakutkan. Mengasihi tanpa banyak kata, tetapi melalui tindakan-tindakan sederhana setiap hari. 

HARI INI, DIA TELAH PERGI. YA... DIA TELAH PERGI. PERGI MENGHADAP BAPA DI SURGA.

Dia yang menggantikan peran Ibu yang sedari kecil sudah pergi mendahului menghadap Bapa di surga. Dia yang melakukan segala upaya tanpa kata-kata, namun tindakan yang begitu tulus dengan segala kesederhanaannya.

Dan yang paling berat bukan hanya kepergiannya. Yang paling berat adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa berada di sana. Tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Tidak bisa menggenggam tangannya. Tidak bisa mengucapkan terima kasih secara langsung. Tidak bisa ikut mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Seolah ada kalimat-kalimat yang masih tertahan di dalam hati. Kalimat yang ingin sekali diucapkan, tetapi waktu ternyata berjalan lebih cepat daripada yang kita kira. Namun, aku percaya kasih tidak dibatasi oleh jarak. Cinta dan rasa terima kasih tidak harus selalu diucapkan di depan makam atau di ruang persemayaman. Tuhan yang melihat hati pasti mengerti setiap air mata, setiap doa, dan setiap kenangan yang kusimpan.

Terima kasih untuk semua perhatianmu. Untuk kesabaranmu merawatku sejak kecil. Untuk setiap pengorbanan yang mungkin bahkan tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku mungkin tidak sempat mengucapkan selamat jalan secara langsung, tetapi namamu akan selalu tinggal di dalam doa-doaku. Hari ini aku belajar bahwa perpisahan tidak selalu terjadi dengan cara yang kita inginkan. Kadang hidup memaksa kita mengucapkan selamat tinggal dari kejauhan. Tetapi kasih yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak akan hilang begitu saja.

Selamat jalan, Aina Bano. "MODESTA BANO"

Beristirahatlah dalam damai bersama Bapa di surga.

Meski langkahku tidak bisa mengantarmu sampai ke tempat peristirahatan terakhir, hatiku tetap berjalan bersamamu. Dan sampai kapan pun, aku akan selalu bersyukur karena pernah memiliki seseorang sepertimu dalam hidupku.

"Kasih yang sejati tidak berakhir saat seseorang pergi. Ia tetap hidup dalam kenangan, doa, dan hati yang terus mencintai." ❤️🕊️ 

Aina Modesta Bano. Biasa kami panggil "Mama Nenek"😔


Sabtu, 21 Februari 2026

CAP DI DAHI

Sebut saja Jeni. Ia sering duduk di sudut yang sama, tempat suara-suara tak pernah benar-benar sunyi, tapi tak satu pun memanggil namanya dengan tulus. Kesepian baginya bukan soal sendirian, melainkan tentang hadir di tengah banyak orang namun terus-menerus merasa tak diinginkan.

Bagi orang lain, ia selalu “tidak baik.” Kata itu menempel seperti cap di dahi. Apa pun yang ia lakukan. berbicara atau diam, bergerak atau hanya bernapas, selalu ada bisik yang menyusul. Gosip beredar lebih cepat daripada kebenaran. Para pemimpin mengernyitkan dahi, menaruh sentimen yang dingin, seolah keberadaannya sendiri adalah masalah yang harus dibereskan. Ia tak tahu kesalahan apa yang sedang diadili; dakwaan berubah-ubah, tapi vonisnya sama.

Padahal di dalam dirinya, ia merasa baik-baik saja. Tidak sempurna, tentu. Namun setiap pagi ia berusaha bangun dengan niat yang lurus: melakukan yang terbaik, tidak merugikan siapa pun, menahan diri saat emosi menguat. Ia menimbang kata sebelum keluar, menimbang langkah sebelum melangkah. Anehnya, justru ketika ia menyampaikan pendapat, dengan hati-hati, tanpa teriak. Ia dicurigai. Suaranya dianggap ancaman. Kejujurannya ditafsirkan sebagai perlawanan.

Lama-lama, ia belajar bahwa diam pun bukan perlindungan. Diam justru dituduh sebagai rencana. Ketidakikutsertaannya dianggap sikap. Ia menjadi cerita yang diceritakan orang lain, tanpa pernah dimintai klarifikasi. Wajahnya hadir, tapi maknanya didefinisikan di luar dirinya.

Malam-malamnya kian berat. Ia mulai mengumpulkan potongan kalimat yang dilontarkan kepadanya, menyusunnya menjadi cermin yang retak. Di cermin itu, ia bertanya: “Apa aku memang seburuk itu?” Pertanyaan itu berulang, menipis, lalu menjadi keyakinan palsu. Ia menyalahkan diri sendiri atas hujan yang tak ia sebabkan. Ia menimbang hidupnya dan menemukan timbangan itu berat sebelah.

Kesedihan menyelinap pelan, menggerogoti rasa berguna. Ia merasa kecil, tak bernilai, seolah upaya terbaiknya tak pernah cukup. Namun di sela-sela runtuh itu, masih ada denyut halus, sebuah suara yang belum padam sepenuhnya yang berkata bahwa kebaikan tidak selalu berisik, dan kebenaran tak selalu segera dipercaya.

Ia belum tahu bagaimana menebus luka-luka itu. Tapi ia tahu satu hal, meski dunia terus memberi label, ia tetap manusia yang berusaha. Dan di suatu titik yang sunyi, ia berharap suatu hari nanti, upayanya akan dikenali atau setidaknya, ia bisa memaafkan dirinya sendiri.



Curahan dari Sang Jeni.

DIAMpun jadi ANCAMAN

SERAHKAN PADA PENYELENGGARAAN ILAHI

Dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat-saat ketika seseorang mengalami ketidakadilan, kekecewaan, ...