Di antara riuhnya dunia yang tak pernah kehabisan suara, ada jiwa muda yang memilih menjadi sunyi, bukan karena tak memiliki kata, melainkan karena tak semua yang dipikirkan harus diucapkan. Di balik sepasang mata yang tampak biasa, tersimpan pikiran yang berlari lebih cepat daripada langkah, menangkap isyarat yang luput dari pandangan, membaca suasana sebelum orang lain menyadari perubahan, dan merangkai makna dari percakapan-percakapan sederhana. Ia seperti angin yang menjelajahi celah-celah kehidupan, menyentuh banyak hal, menyerap banyak pengalaman, tetapi tak selalu meninggalkan jejak yang dapat dibaca oleh siapa saja.
Barangkali,
dunia memang terlalu sering menilai seseorang dari apa yang tampak di
permukaan, tanpa pernah benar-benar menyelami samudra yang tersembunyi di dalam
dirinya. Ada yang mengira diam adalah tanda ketidaktahuan, ada yang menyangka
kesederhanaan sebagai kelemahan, dan ada pula yang merasa terancam oleh sesuatu
yang bahkan belum mereka pahami. Namun, sebagaimana akar yang tumbuh jauh di
dalam tanah tanpa tepuk tangan, ia terus bertumbuh dalam senyap, menguat dalam
kesendirian, dan belajar berdiri teguh meski angin penilaian datang silih
berganti.
Ada
orang muda yang tidak selalu banyak bicara, tetapi pikirannya berjalan ke
mana-mana. Matanya memperhatikan banyak hal, telinganya menangkap percakapan
yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain, dan pikirannya bekerja lebih cepat
daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia mampu membaca situasi,
menangkap perubahan suasana, memahami arah pembicaraan, bahkan menyadari
hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang lain. Ia tidak selalu bertanya,
tetapi bukan berarti ia tidak ingin tahu. Justru sebaliknya, rasa ingin tahunya
begitu besar. Ia suka mengeksplorasi banyak hal, mencari informasi, mempelajari
sesuatu yang baru, dan menjelajahi dunia melalui berbagai cara yang disukainya.
Baginya,
belajar tidak selalu harus duduk di ruang kelas, mengikuti seminar, atau
mendengarkan seseorang yang berbicara di depan banyak orang. Terkadang, ia
belajar dengan mengamati. Terkadang, ia belajar dengan mendengarkan. Dan sering
kali, ia belajar dengan mencari tahu sendiri, menyusuri berbagai kemungkinan,
sampai menemukan jawaban yang membuat pikirannya merasa puas. Namun, ada satu
hal yang tidak selalu dipahami orang lain tentang dirinya: tidak semua yang ia
ketahui harus ia ceritakan. Ia bisa saja mengetahui banyak hal, tetapi memilih
diam. Bukan karena tidak mampu menjelaskan, bukan pula karena tidak memiliki
sesuatu untuk dibagikan. Ia hanya tidak merasa perlu menunjukkan segala sesuatu
yang ada di kepalanya. Jika tidak diminta, ia akan menyimpan pengetahuannya
sendiri. Ia lebih senang mengamati daripada sibuk membuktikan bahwa dirinya
tahu.
Sayangnya,
diam sering kali disalahartikan. Ada yang menganggapnya sombong. Ada yang
mencurigainya memiliki maksud tersembunyi. Ada pula yang merasa tidak nyaman
dengan caranya memahami situasi begitu cepat. Bahkan, terkadang, orang yang
tidak benar-benar mengenalnya justru paling berani memberikan penilaian tentang
dirinya.
Ia
dihakimi sebelum diberi kesempatan menjelaskan. Dicurigai sebelum melakukan
sesuatu. Dijatuhkan sebelum menunjukkan kemampuannya. Bahkan, ada orang-orang
yang berusaha menjauhkannya dari lingkungan tertentu, seolah-olah keberadaannya
adalah ancaman yang harus disingkirkan.
Barangkali, bagi sebagian orang, seseorang yang tidak mudah ditebak memang terasa mengganggu. Apalagi jika orang itu tidak banyak bicara, tetapi mampu menangkap sesuatu yang tidak disadari oleh orang lain. Namun, ia perlahan belajar bahwa tidak semua orang harus memahami dirinya. Tidak semua tuduhan harus dijawab. Tidak semua penilaian harus diluruskan. Dan tidak semua orang yang meragukannya layak mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang siapa dirinya sebenarnya. Sebab, hidup akan terlalu melelahkan jika setiap langkah harus disertai usaha untuk membuktikan bahwa kita tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Maka, ia memilih terus berjalan.
Di
tengah orang-orang yang sibuk menilai, ia tetap menciptakan dunianya sendiri.
Ia merawat hobi-hobinya, menikmati hal-hal yang disukainya, mencoba pengalaman
baru, dan menemukan kebahagiaan dalam aktivitas yang mungkin tidak dipahami oleh
semua orang. Ada dunia yang dibangunnya melalui buku, musik, teknologi,
perjalanan, percakapan, kreativitas, atau apa pun yang membuatnya merasa hidup.
Dunia yang tidak harus mendapatkan persetujuan semua orang. Dunia yang
memberinya ruang untuk bernapas, berpikir, bereksperimen, dan menjadi dirinya
sendiri. Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak harus selalu ditemukan dalam
penerimaan orang lain. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh ketika seseorang
berhenti memaksakan diri agar diterima oleh lingkungan yang terus-menerus
membuatnya merasa salah.
Tentu
saja, perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada saat-saat ketika ia lelah
menghadapi prasangka. Ada waktu ketika ia bertanya-tanya mengapa orang begitu
mudah menghakimi sesuatu yang bahkan belum mereka pahami. Ada pula momen ketika
ia harus berhadapan dengan orang-orang yang merasa dirinya paling pintar,
paling tahu, paling benar, dan seolah-olah memiliki jawaban untuk segala
sesuatu.
Orang-orang
yang berbicara seakan tidak pernah keliru. Yang menganggap pendapatnya sebagai
kebenaran mutlak. Yang merasa berhak mengukur kemampuan orang lain hanya
berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Menghadapi mereka, ia belajar satu
hal penting: tidak semua perdebatan perlu dimenangkan, dan tidak semua orang
yang berbicara dengan penuh keyakinan benar-benar memahami apa yang sedang
dibicarakannya.
Ia
tidak harus merendahkan orang lain untuk menunjukkan kecerdasannya. Ia tidak
harus memamerkan semua pengetahuannya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia
juga tidak harus mengubah dirinya menjadi orang yang paling keras bersuara
hanya supaya keberadaannya diperhitungkan. Sebab, kecerdasan bukan hanya
tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga tentang
bagaimana ia menggunakan pengetahuannya, membaca keadaan, mengendalikan diri,
dan memahami kapan harus berbicara serta kapan lebih baik diam.
Perlahan-lahan,
ia belajar menjadi lebih tenang. Bukan karena ia tidak lagi peduli, melainkan
karena ia mulai memahami hal-hal mana yang pantas mendapatkan energinya dan
hal-hal mana yang cukup dilewati tanpa perlu dibawa terlalu jauh ke dalam
pikirannya. Ia tetap bisa merasa sedih, kecewa, marah, dan terluka. Ia bukan
manusia yang kebal terhadap perkataan orang lain. Namun, ia tidak ingin
menjadikan perlakuan buruk orang lain sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh. Ia
tahu bahwa masih banyak hal yang ingin dipelajari, banyak tempat yang ingin
dijelajahi, banyak pengalaman yang ingin dicoba, dan banyak kemungkinan yang
belum sempat ditemukan.
Lalu,
untuk apa menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk menghadapi orang-orang yang
tidak pernah benar-benar ingin memahami dirinya? Ia memilih melangkah lagi.
Bukan untuk membuat orang-orang yang pernah merendahkannya merasa kalah. Bukan pula
untuk suatu hari berdiri di hadapan mereka sambil berkata, “Lihat, aku ternyata
lebih hebat daripada yang kalian kira.” Tidak. Ia ingin bertumbuh karena
hidupnya sendiri terlalu berharga untuk dihabiskan demi pembuktian semacam itu.
Ia ingin menjadi seseorang yang lebih luas pikirannya, lebih matang cara
pandangnya, lebih terampil dalam bidang yang disukainya, dan lebih bebas
menentukan arah hidupnya.
Ia
ingin menikmati perjalanan tanpa harus terus-menerus menoleh kepada orang-orang
yang sibuk membicarakan langkahnya. Dan di tengah semua itu, ada satu keyakinan
yang perlahan tumbuh semakin kuat dalam dirinya. Apa yang dimiliki orang lain
hari ini tidak mengurangi apa yang ia miliki. Apa yang dicapai orang lain tidak
menghapus pencapaiannya. Dan apa yang berhasil ia pelajari, bangun, alami,
serta kembangkan dalam dirinya tidak serta-merta hilang hanya karena seseorang
tidak menyukai keberadaannya.
Orang
lain mungkin bisa mengambil kesempatan darinya. Mereka mungkin bisa menutup
pintu, membatasi ruang, menghalangi jalan, atau membuat orang lain meragukan
kemampuannya. Bahkan, mereka mungkin berhasil menjauhkannya dari suatu
lingkungan.
Namun,
mereka tidak otomatis dapat mengambil rasa ingin tahunya. Mereka tidak bisa
begitu saja menghapus pengalaman yang telah membentuk cara berpikirnya. Mereka
tidak bisa menentukan seluruh isi pikirannya, merampas kreativitasnya, atau
mengendalikan semua kemungkinan yang masih dapat ia jelajahi. Sebab, ada
hal-hal yang tumbuh di dalam diri seseorang dan tidak bergantung sepenuhnya
pada pengakuan dunia luar.
Pengetahuan
yang telah dipelajari. Keterampilan yang telah dilatih. Pengalaman yang telah
dilewati. Kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan menemukan jalan baru. Semua
itu menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya. Ia mungkin belum
mengetahui semua jawaban. Ia mungkin masih memiliki banyak kekurangan. Ia pun
bisa salah, perlu belajar kembali, dan harus bersedia menerima kritik yang
membangun. Namun, ia tidak harus membiarkan prasangka orang lain menjadi batas
bagi pertumbuhannya. Karena hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang
paling pintar, paling berkuasa, atau paling pantas didengar.
Hidup
adalah perjalanan untuk mengenali diri sendiri, mengembangkan apa yang
dimiliki, dan menemukan cara agar keberadaan kita sungguh berarti. Maka,
biarlah mereka berbicara jika memang itu yang mereka pilih. Biarlah mereka
menilai jika mereka merasa perlu. Biarlah mereka mengira bahwa diam berarti
tidak tahu, bahwa kesederhanaan berarti tidak mampu, atau bahwa seseorang yang
tidak memamerkan dirinya tidak memiliki sesuatu yang istimewa.
Ia
tidak perlu menjelaskan seluruh isi kepalanya kepada setiap orang yang
ditemuinya.
Ia
hanya perlu memastikan bahwa dirinya sendiri tidak berhenti belajar, tidak
kehilangan rasa ingin tahu, dan tidak menyerahkan kebahagiaannya kepada
orang-orang yang gemar menghakimi. Sebab, pada akhirnya, ia tidak sedang
membangun kehidupan untuk memenuhi ekspektasi semua orang. Ia sedang membangun
kehidupan yang sungguh-sungguh ingin ia jalani. Dan selama ia masih memiliki
keberanian untuk berpikir, kemauan untuk belajar, kebebasan untuk menciptakan
dunianya sendiri, serta kerendahan hati untuk terus bertumbuh, ia masih
memiliki banyak alasan untuk melangkah.
Ia
boleh memilih diam, tetapi pikirannya tetap menjelajah. Ia boleh disalahpahami,
tetapi tidak harus kehilangan dirinya. Ia boleh dijauhkan dari suatu tempat,
tetapi tidak harus kehilangan arah.
Sebab,
ia akhirnya mengerti: tidak semua hal berharga dalam hidup harus dipamerkan,
tidak semua kemampuan harus diumumkan, dan tidak semua perjalanan harus
disaksikan orang lain.
Ada pertumbuhan yang berlangsung dalam diam. Ada kemenangan yang tidak membutuhkan tepuk tangan. Dan ada kebebasan yang muncul ketika seseorang tidak lagi merasa wajib membuktikan dirinya kepada semua orang. Ia akan terus berjalan, membawa rasa ingin tahunya, merawat kesukaannya, mengembangkan kemampuannya, dan menciptakan dunia yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri.
Bukan
karena ia tidak peduli pada dunia. Melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa
dunia boleh memiliki banyak pendapat tentang dirinya, tetapi hidupnya tetap
menjadi tanggung jawabnya sendiri.
NB. Terinspirasi dari mereka yang jiwanya seluas samudera.
Pace e Bene!
Sr. M. Emilia SFS



Tidak ada komentar:
Posting Komentar