Minggu, 25 Oktober 2026

“Atlet Bertanding, Para Suster Berkomentar: Beda Jagoan, Tetap Satu Persaudaraan!”

Kalau Para Suster Sudah Berkumpul, Pertandingan Makin Seru!


Selain menonton berita untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia, ada satu kegiatan lain yang tidak kalah menarik bagi para suster, yaitu menonton pertandingan olahraga bersama. Mulai dari bola voli, sepak bola, sampai bulu tangkis. Apalagi kalau yang bertanding adalah Indonesia. Wah, semangat nasionalisme langsung menyala!

Biasanya, suasana menonton yang awalnya tenang bisa berubah menjadi ramai dalam hitungan detik. Ada yang serius memperhatikan pertandingan, ada yang duduk tegang menunggu skor, ada yang sibuk memberikan komentar, dan ada juga yang tiba-tiba berteriak sambil melonjak kegirangan ketika tim jagoannya berhasil mencetak gol, melakukan smash tajam, atau mendapatkan poin penting.

Kalau Indonesia berhasil mencetak angka, suasana langsung meriah!

“Yesss! Masuk! Ayo, Indonesia!”

"Semangat...pasti bisa..."

"Gaskeunn...Cahyooo Indonesia..."

"Indonesia...dilawan..."

"Go...go...go... Indonesia..."

Sementara itu, kalau tim kesayangan gagal mendapatkan poin, suasananya bisa berubah seketika.

“Aduh, sayang sekali! Padahal tinggal sedikit lagi!”

"Jangan patah semangat..."

"Ayok... pasti bisa..."

Ada yang spontan menghela napas, ada yang geleng-geleng kepala, bahkan ada yang ikut sedih seolah-olah dirinya sendiri yang sedang bertanding. Hahaha! Begitulah kalau sudah terbawa suasana. Walaupun hanya menonton dari depan televisi, rasanya seperti ikut berjuang di lapangan.

 Yang paling seru tentu saja komentar para suster!

“Seharusnya smash-nya diarahkan ke sana!”

“Waduh, kurang profesional smash-nya!”

“Harusnya bolanya ditendang ke arah sana!”

“Bagaimana mau menang kalau mainnya seperti itu?”

"Harusnya nahan bola, gak seperti itu!"

Wah, kalau mendengar komentar-komentar ini, rasanya para suster sudah siap menjadi pelatih nasional! Tinggal mengenakan seragam olahraga, membawa papan strategi, lalu berdiri di pinggir lapangan. Lengkap sudah! Hahaha! 

Padahal, yang sedang bertanding adalah atlet profesional yang sudah berlatih bertahun-tahun. Mereka punya kemampuan, pengalaman, strategi, dan tentu saja tekanan yang tidak mudah. Sementara para komentator dadakan ini duduk nyaman di depan televisi, mungkin sambil menikmati camilan, tetapi analisisnya luar biasa!

Namun, di antara ramainya komentar, selalu ada suara yang mencoba mengingatkan.

“Eh, mereka itu atlet profesional. Kalau bukan profesional, mana mungkin bisa mewakili negaranya? Kita melihat dari luar memang gampang berkomentar. Coba kalau kita yang berada di lapangan, belum tentu bisa melakukan seperti mereka. Namanya pertandingan, pasti ada kesalahan, ada tekanan, dan ada hal-hal yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.”

Benar juga, ya! Kadang-kadang, melihat memang lebih mudah daripada menjalani sendiri.

Bukan Hanya Pertandingan, tetapi Juga Kebersamaan

Namun, yang membuat kegiatan ini terasa istimewa bukan hanya pertandingan yang ditonton atau siapa yang akhirnya menjadi juara. Ada hal lain yang jauh lebih berharga, yaitu kebersamaan para suster. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab masing-masing, momen menonton bersama menjadi kesempatan untuk berkumpul, tertawa, berbagi kegembiraan, dan menikmati waktu bersama sebagai saudara. Ada yang mendukung tim yang sama, ada pula yang diam-diam menjagokan tim berbeda. Akibatnya, ketika satu tim mencetak angka, sebagian bersorak kegirangan, sementara yang lain hanya bisa tersenyum pasrah. Kalau tim jagoannya kalah, mulailah mencari alasan dan memberikan analisis pertandingan. Hahaha!

Tetapi justru di situlah letak keseruannya. Perbedaan dukungan tidak membuat kebersamaan hilang. Boleh berbeda pilihan, boleh berbeda pendapat, bahkan boleh saling menggoda, tetapi semuanya tetap duduk bersama, menikmati pertandingan yang sama. Kadang-kadang, kemenangan tim kesayangan menjadi alasan untuk bersorak bersama. Kekalahan menjadi kesempatan untuk saling menghibur. Dan komentar-komentar spontan yang muncul justru menjadi bahan cerita yang bisa dikenang dan ditertawakan bersama setelah pertandingan selesai.

Bukankah hal-hal sederhana seperti ini yang membuat hidup berkomunitas terasa lebih hidup?

Kita tidak harus selalu melakukan sesuatu yang besar untuk membangun persaudaraan. Duduk bersama, menikmati pertandingan, tertawa bersama, bahkan berbeda pendapat dengan cara yang menyenangkan pun bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup bersama.

Belajar Menghargai dari Depan Televisi

Dari kebiasaan sederhana ini, ada pelajaran kecil yang bisa kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sering kali, kita mudah berkata, “Seharusnya begini, seharusnya begitu.” Kita merasa tahu apa yang paling baik bagi orang lain, bagaimana mereka harus bertindak, atau bagaimana mereka seharusnya menyelesaikan masalah.

Padahal, kita tidak selalu mengetahui perjuangan, tekanan, dan pergumulan yang sedang mereka hadapi.

Sama seperti atlet yang terlihat melakukan kesalahan di lapangan, setiap orang juga bisa mengalami kegagalan, salah mengambil keputusan, atau tidak mampu melakukan sesuatu sesuai harapan. Bukan berarti mereka tidak berusaha. Bisa jadi, mereka sedang berjuang sebaik mungkin dengan kemampuan dan keadaan yang mereka miliki. Karena itu, belajar menghargai perjuangan orang lain menjadi hal yang penting. Bukan berarti kita tidak boleh memberikan masukan atau kritik, melainkan belajar menyampaikannya dengan sikap yang membangun, bukan sekadar menyalahkan.

Dalam hidup bersama sebagai para suster, kita pun tidak selalu sempurna. Ada kalanya kita berhasil menyenangkan saudara, tetapi ada kalanya kita melakukan kesalahan. Ada saatnya kita menjadi penyemangat, tetapi ada juga saatnya kita membutuhkan dukungan.

Di sinilah persaudaraan menemukan maknanya: bukan karena kita selalu sama atau selalu benar, melainkan karena kita bersedia menerima, menghargai, dan mendukung satu sama lain.

 Akhirnya, Siapa pun yang Menang, Persaudaraan Tetap Nomor Satu!

Jadi, kalau Indonesia sedang bertanding, silakan bersorak sepuasnya! Boleh tegang, boleh berteriak, boleh melompat kegirangan, dan tentu saja boleh memberikan komentar ala pelatih nasional.

Tetapi jangan lupa, tetap sportif dan jangan sampai komentar kita lebih keras daripada suara televisi! Hahaha!

Sebab, pertandingan akan berakhir, skor akan dilupakan, dan para atlet akan kembali menjalani kehidupan mereka. Namun, kenangan tentang kebersamaan, tawa, dan kegembiraan yang kita bagikan bersama saudara-saudari bisa tetap tinggal di hati.

Pada akhirnya, yang paling membahagiakan bukan hanya ketika tim kesayangan menang, tetapi juga ketika kita bisa tertawa, bersukacita, dan menikmati kebersamaan sebagai saudara. Karena dalam hidup berkomunitas, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membuktikan bahwa komentar kita paling benar, melainkan ketika kita mampu tetap bersaudara meskipun berbeda pendapat.

Dan satu hal yang pasti: kalau para suster sudah berkumpul di depan televisi, pertandingan boleh saja berlangsung di lapangan, tetapi keseruannya bisa berlangsung sampai ke ruang makan!

Siapa tahu, setelah pertandingan selesai, komentarnya masih berlanjut saat makan malam.

“Coba tadi smash-nya diarahkan ke sana!”

Lalu terdengar jawaban dari sudut ruangan:

“Sudah, Suster! Besok saja kita yang ikut bertanding!”

Wah, kalau begitu, bukan hanya atlet yang harus berlatih. Para komentator juga perlu pemanasan! Hahaha!

 

Salam olahraga

Sr. M. Emilia SFS


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Atlet Bertanding, Para Suster Berkomentar: Beda Jagoan, Tetap Satu Persaudaraan!”

Kalau Para Suster Sudah Berkumpul, Pertandingan Makin Seru! Selain menonton berita untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia, ada ...