Pernahkah kita berjumpa atau hidup berdekatan dengan seseorang yang selalu ingin didengar, senang mendapat pujian, dan seolah-olah selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang orang lain?
Awalnya, semua tampak biasa saja. Ia berbicara dengan nada yang tenang, sesekali merendahkan dirinya sendiri, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak lebih baik dari siapa pun. Namun, semakin lama mendengarkan, ada hal-hal kecil yang mulai terasa berbeda. Di balik kata-kata yang terdengar sederhana, terselip keinginan untuk diakui, dipuji, dan dianggap lebih mampu daripada orang lain.Ia punya banyak cerita, banyak
pendapat, dan tak sedikit kritik. Kekurangan orang lain begitu mudah terlihat,
kesalahan orang lain begitu mudah dibicarakan. Seolah-olah ia memiliki ukuran
yang tepat untuk menilai siapa yang baik, siapa yang kurang, dan siapa yang
seharusnya belajar darinya.
"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? begitu kata Yesus dalam injil Mat. 7:3
Namun, ketika tiba waktunya
untuk melihat ke dalam diri sendiri, mungkin ada hal-hal yang luput dari
perhatiannya. Sebab, terkadang kita begitu sibuk memperhatikan apa yang salah
pada orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri pun masih menyimpan banyak hal
yang perlu dibenahi.
Menariknya, tidak semua orang
yang berbicara tentang dirinya sedang menyombongkan diri. Ada yang memang
sedang berusaha menjelaskan pengalaman, ada yang ingin dihargai, dan ada pula
yang mungkin hanya ingin merasa bahwa keberadaannya berarti. Bukankah setiap
orang, dengan caranya masing-masing, ingin diterima dan diakui?
Hanya saja, keinginan untuk
dihargai kadang membuat kita lupa memberi ruang bagi orang lain. Kita ingin
didengar, tetapi kurang belajar mendengarkan. Kita senang dipuji, tetapi mudah
lupa menghargai. Kita begitu lancar membicarakan kekurangan sesama, tetapi
terkadang canggung ketika harus mengakui kekurangan sendiri.
Hidup bersama orang seperti
ini tentu tidak selalu mudah. Ada kalanya kita memilih diam, bukan karena tidak
punya pendapat, melainkan karena lelah menjelaskan. Ada kalanya kita
mengangguk, bukan karena sepakat dengan semuanya, melainkan karena menyadari bahwa
tidak setiap perbedaan harus berakhir menjadi perdebatan.
Pada akhirnya, kita belajar
bahwa tidak semua hal harus ditanggapi dan tidak setiap perkataan perlu
dibalas. Ada kebijaksanaan dalam mendengarkan, tetapi ada pula kebijaksanaan
dalam menjaga jarak dari percakapan yang hanya berputar pada siapa yang paling
benar dan paling hebat.
Sebab, kerendahan hati
tidak selalu tampak dari cara seseorang berbicara tentang dirinya, tetapi juga
dari caranya memperlakukan orang lain.
Orang yang sungguh rendah hati
tidak harus terus-menerus menjelaskan bahwa dirinya baik. Ia tidak perlu
menjatuhkan orang lain untuk terlihat lebih tinggi. Ia juga tidak kehilangan
nilai dirinya hanya karena tidak mendapat pujian.
Barangkali, kita semua perlu
sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku sedang
berbicara untuk berbagi, atau sekadar ingin diakui? Apakah aku sedang memberi
masukan, atau diam-diam ingin menunjukkan bahwa aku lebih baik?
Sebab, dalam perjalanan hidup
ini, kita tidak sedang berlomba menjadi orang yang paling banyak bicara, paling
banyak tahu, atau paling sering dipuji.
Kita hanya sedang belajar
menjadi manusia yang lebih baik, sedikit demi sedikit.
Dan terkadang, tanda
kedewasaan yang paling indah bukanlah ketika kita mampu menemukan banyak
kekurangan orang lain, melainkan ketika kita cukup rendah hati u
ntuk menyadari
bahwa diri kita sendiri pun masih perlu banyak belajar.
Karena pada akhirnya, kita tidak harus menjadi lebih tinggi dari orang lain untuk menjadi berharga. Cukuplah menjadi pribadi yang terus bertumbuh, tanpa harus membuat orang lain merasa lebih rendah.
Salam bahagia
Sr. M. Emilia SFS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar