Sabtu, 31 Oktober 2026

"Cermin yang Jarang Ditatap"

Pernahkah kita berjumpa atau hidup berdekatan dengan seseorang yang selalu ingin didengar, senang mendapat pujian, dan seolah-olah selalu punya sesuatu untuk dikatakan tentang orang lain?

Awalnya, semua tampak biasa saja. Ia berbicara dengan nada yang tenang, sesekali merendahkan dirinya sendiri, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak lebih baik dari siapa pun. Namun, semakin lama mendengarkan, ada hal-hal kecil yang mulai terasa berbeda. Di balik kata-kata yang terdengar sederhana, terselip keinginan untuk diakui, dipuji, dan dianggap lebih mampu daripada orang lain.

Ia punya banyak cerita, banyak pendapat, dan tak sedikit kritik. Kekurangan orang lain begitu mudah terlihat, kesalahan orang lain begitu mudah dibicarakan. Seolah-olah ia memiliki ukuran yang tepat untuk menilai siapa yang baik, siapa yang kurang, dan siapa yang seharusnya belajar darinya. 

"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? begitu kata Yesus dalam injil Mat. 7:3

Namun, ketika tiba waktunya untuk melihat ke dalam diri sendiri, mungkin ada hal-hal yang luput dari perhatiannya. Sebab, terkadang kita begitu sibuk memperhatikan apa yang salah pada orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri pun masih menyimpan banyak hal yang perlu dibenahi.

Menariknya, tidak semua orang yang berbicara tentang dirinya sedang menyombongkan diri. Ada yang memang sedang berusaha menjelaskan pengalaman, ada yang ingin dihargai, dan ada pula yang mungkin hanya ingin merasa bahwa keberadaannya berarti. Bukankah setiap orang, dengan caranya masing-masing, ingin diterima dan diakui?

Hanya saja, keinginan untuk dihargai kadang membuat kita lupa memberi ruang bagi orang lain. Kita ingin didengar, tetapi kurang belajar mendengarkan. Kita senang dipuji, tetapi mudah lupa menghargai. Kita begitu lancar membicarakan kekurangan sesama, tetapi terkadang canggung ketika harus mengakui kekurangan sendiri.

Hidup bersama orang seperti ini tentu tidak selalu mudah. Ada kalanya kita memilih diam, bukan karena tidak punya pendapat, melainkan karena lelah menjelaskan. Ada kalanya kita mengangguk, bukan karena sepakat dengan semuanya, melainkan karena menyadari bahwa tidak setiap perbedaan harus berakhir menjadi perdebatan.

Pada akhirnya, kita belajar bahwa tidak semua hal harus ditanggapi dan tidak setiap perkataan perlu dibalas. Ada kebijaksanaan dalam mendengarkan, tetapi ada pula kebijaksanaan dalam menjaga jarak dari percakapan yang hanya berputar pada siapa yang paling benar dan paling hebat.

Sebab, kerendahan hati tidak selalu tampak dari cara seseorang berbicara tentang dirinya, tetapi juga dari caranya memperlakukan orang lain.

Orang yang sungguh rendah hati tidak harus terus-menerus menjelaskan bahwa dirinya baik. Ia tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk terlihat lebih tinggi. Ia juga tidak kehilangan nilai dirinya hanya karena tidak mendapat pujian.

Barangkali, kita semua perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku sedang berbicara untuk berbagi, atau sekadar ingin diakui? Apakah aku sedang memberi masukan, atau diam-diam ingin menunjukkan bahwa aku lebih baik?

Sebab, dalam perjalanan hidup ini, kita tidak sedang berlomba menjadi orang yang paling banyak bicara, paling banyak tahu, atau paling sering dipuji.

Kita hanya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik, sedikit demi sedikit.

Dan terkadang, tanda kedewasaan yang paling indah bukanlah ketika kita mampu menemukan banyak kekurangan orang lain, melainkan ketika kita cukup rendah hati u
ntuk menyadari bahwa diri kita sendiri pun masih perlu banyak belajar.

Karena pada akhirnya, kita tidak harus menjadi lebih tinggi dari orang lain untuk menjadi berharga. Cukuplah menjadi pribadi yang terus bertumbuh, tanpa harus membuat orang lain merasa lebih rendah.

 

Salam bahagia

Sr. M. Emilia SFS 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Cermin yang Jarang Ditatap"

Pernahkah kita berjumpa atau hidup berdekatan dengan seseorang yang selalu ingin didengar, senang mendapat pujian, dan seolah-olah selalu pu...