Selasa, 07 Juli 2015

AKU, KAMU, DAN KITA, TAK TAHU...


Perbedaan hati yang tak mampu menguak misterimu
Melihat simphoni keabadian merasuk dalam kalbu
Berbeda dengan keiramaanmu menuju cinta yang terkalbu.
Andai saja kau tahu itu, kau tak kan menghilang

Jumat, 03 Juli 2015

TANCAPAN PAKU CINTA



Hati yang tak membuatku yakin ...
Cinta yang tak mampu kupahami
Cinta yang tak mampu kuterima
Ucap dan kata yang tak mampu kupercayai
Semua hampa belaka ... hampa tak berguna ... sama sekali ... 

KADO VALENTINE'14



Bunyi alarm membangunkanku di pagi ini.bertepatan dengan tanggal 14 Februari yang dianggap hampi semua orang adalah hari kasih sayang. Pagi yang sunyi, sepi meski sesekali terdengar kicauan burung disebelah sana. Dengan agak lunglai, mata setengah terpejam, tangan bergerak mengusapnya agar tak begitu berat untuk melihat arah jalan yang hendak kulalui dari bilik tidurku. Berjalan sambil memperbaiki rambut yang uwal-uwallan.

" MALAIKAT TERDESAK "

Seraut wajah yang benar-benar kurindukan apa yang ada padanya. Ia pucat, kenapa? tubuhnya terbaring, sakitkah? Ia tak menjemputku seperti yang lainnya, tak mendekapku dan hanya tersenyum sayu padaku. Dadaku sesak, tak mengerti atas apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku sakit melihatnya seperti itu, melihat seorang malaikatku (biasa kusapa demikian) yang sebelumnya selalu terlihat tegak, energik kini nampak layu dan tak berdaya

JALAN YG TAK BISA KULALUI


Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan
Dan sayang aku tidak bisa menempuh keduanya
Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama

SUKU DAWAN, NUSA TENGGARA TIMUR

Suku Dawan, merupakan suku yang berada di pulau Timor. Suku Dawan ini menempati seluruh wilayah Timor Barat, tersebar di 3 kabupaten yaitu kabupaten Kupang, kabupaten Timor Tengah Selatan dan kabupaten Timor Tengah Utara provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Populasi suku Dawan diperkirakan sekitar 600.000 orang. Suku Dawan sering disebut juga sebagai orang Atoni Pah Meto.

Kamis, 02 Juli 2015

SUSTER FRANSISKAN SUKABUMI

Peniten Rekolektin dan Ibu Rosa de Bie
Seperti St. Fransiskus yang mau tidak mau mengadopsi bentuk-bentuk pertobatan serta praktek-praktek dari kelompok-kelompok peniten yang ada pada zamannya, demikian pula yang terjadi ketika pada tahun 1839 Ibu Rosa de Bie memulai kelompoknya di Bergen op Zoom. Dengan mengambil apa yang ada di Breda darimana cabang mereka berasal, Ibu Rosa de Bie mau tidak mau mengambil dan meneruskan praktek-praktek di Breda, sambil memberi tekanan pada hal tertentu sesuai dengan tuntutan lingkungan RS, tempat mereka bekerja. Dari buku “Peringatan 100 tahun Peniten Rekolektin” menjadi jelas bahwa misi utama kelompok Rosa de Bie waktu itu adalah bekerja di RS Umum dengan status resmi karyawati. Tetapi secara tersembunyi sebenarnya mereka adalah peniten rekolektin, cabang Breda, yang pimpinan umumnya adalah Ibu Theresia Saelmakers yang nama salinya Barbara Saelmakers. Situasi masyarakat di Bergen op Zoom dan Nederland serta Belgia umumnya pada masa itu tidak memungkinkan para biarawati untuk hidup terbuka

25 dan 40 Tahun Setia: Bersyukur dalam Setiap Perjalanan Panggilan

Sukabumi, 17 September 2026 — Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, 25 bahkan 40 tahun telah dilalui dalam perjalanan panggilan hidup ...